Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dreame Tutup Divisi Mobil Listrik: Sinyal Bahaya bagi Startup EV

Dreame Tutup Divisi Mobil Listrik: Sinyal Bahaya bagi Startup EV
Minat|Memilih Kendaraan Energi Baru

Dreame Mobil Listrik Tutup: Sebuah Ambisi yang Tumbang Mendadak

Penutupan divisi mobil listrik Dreame adalah keputusan perusahaan penyedot debu asal China untuk mengakhiri seluruh proyek kendaraan listrik dan hypercar roket Nebula, setelah sebelumnya mempekerjakan hampir seribu orang di bawah Project Starry Sky, yang kini terbukti sebatas konsep tanpa produksi komersial nyata dan sangat bergantung pada pendanaan mobil listrik dari pemerintah.

Dreame secara resmi menghentikan semua program mobil listriknya, termasuk hypercar dan SUV mewah yang baru diumumkan sekitar setahun lalu. Keputusan ini diambil setelah pendanaan dari pemerintah mengering, dan divisi otomotif Project Starry Sky yang sebelumnya menampung lebih dari 1.000 karyawan kini hanya menyisakan tim legal dan HR untuk menutup operasi. Fakta bahwa Dreame mundur total dalam hitungan bulan menunjukkan bahwa proyek ini tidak pernah berdiri di atas fondasi teknis ataupun finansial yang kokoh. Ini bukan sekadar satu perusahaan gagal, melainkan contoh telanjang bagaimana ambisi EV bisa runtuh ketika bergantung pada kucuran dana negara tanpa model bisnis yang masuk akal.

Hypercar Roket Nebula: Dari Panggung San Francisco ke Label Vaporware

Simbol paling mencolok dari kegagalan Dreame adalah hypercar roket Nebula Next 01 Jet Edition, mobil konsep ramping dengan sepasang mesin roket yang dipamerkan di San Francisco. Secara teori, Dreame mengklaim mobil ini mampu melesat 0–60 mph dalam 0,9 detik, didukung baterai solid-state berbasis sulfida dengan kepadatan energi di atas 450 Wh/kg dan jarak tempuh lebih dari 550 km. Klaim tersebut terdengar seperti poster futuristik, bukan proposal rekayasa yang dapat diaudit. Pertanyaannya sederhana: di mana logika fisik dan rekayasa yang menopang janji ekstrem ini?

Jawabannya keras: mobil itu sepenuhnya vaporware. Mantan karyawan mengungkap bahwa unit yang bergerak saat demo tak memiliki sasis sungguhan dan dikendalikan jarak jauh. Hypercar roket Nebula berubah dari alat impresi menjadi bukti bahwa Dreame lebih tertarik pada efek pemasaran daripada riset dan pengembangan yang serius. Ketika perusahaan menjual impian roket padat yang harus diisi ulang tiap kali digunakan, namun tak sanggup menjelaskan detail teknisnya, jelas fokus utama bukan membangun kendaraan layak jalan. Ini menempatkan Dreame sejajar dengan deretan startup EV China gagal yang melebur ambisi, marketing, dan fisika ke dalam satu paket yang tidak realistis.

Project Starry Sky Batal: Ketergantungan Pendanaan Mobil Listrik dari Negara

Project Starry Sky, divisi otomotif Dreame yang pernah tampak megah dengan lebih dari 1.000 pegawai, kini bubar tanpa meninggalkan satu pun produk komersial. Proyek ini tidak tumbang karena pasar menolak mobilnya—mobilnya saja belum ada. Yang runtuh adalah bangunan finansial: sebagian besar ekspansi Dreame ke otomotif didanai pemerintah, bukan dibangun dari penjualan atau investor swasta yang kritis. Ketika otoritas mulai mengawasi lebih ketat bagaimana dana tersebut dibelanjakan, arus uang menyusut dan mimpi mobil listrik ikut padam.

Menurut laporan, struktur departemen mobil Dreame lebih mirip mesin pemasaran dan penggalangan dana ketimbang unit manufaktur sungguhan, serta dinilai tidak menggunakan dana secara efektif untuk R&D dan berpotensi bermasalah dengan regulator. Ini menggambarkan pola berbahaya: startup EV yang bergantung pada kucuran negara di awal, namun gagal mengubah subsidi menjadi kemampuan produksi dan pengetahuan teknis jangka panjang. Ketika fase "eksplorasi" berujung hanya pada presentasi dan prototipe kosong, keputusan menutup Project Starry Sky bukan kejutan, melainkan konsekuensi yang hampir pasti.

Pelajaran untuk Startup EV: Ambisi Tanpa Viabilitas Komersial

Kisah Dreame tidak berdiri sendiri. Nasibnya mengingatkan pada Faraday Future, yang juga memimpikan lini kendaraan listrik otonom namun tersandung problem serupa, hingga dituduh mengoperasikan mobil self-driving untuk demo melalui kendali jarak jauh. Pembatalan program mobil Dreame menyusul deretan proyek EV lain dari perusahaan non-otomotif yang berakhir tanpa produk, mulai dari upaya panjang Project Titan sampai inisiatif perusahaan vacuum cleaner lain. Polanya konsisten: kemampuan membuat elektronik konsumen tidak otomatis berarti mampu membangun kendaraan massal yang aman, tersertifikasi, dan menguntungkan.

Industri EV memang tampak lebih mudah dimasuki daripada mesin pembakaran internal karena komponen lebih sedikit dan contoh sukses seperti Tesla dan Rivian memberi ilusi bahwa pasar terbuka. Namun kenyataan bisnisnya jauh lebih kejam. Tanpa fondasi manufaktur, teknologi baterai nyata, dan rencana keuangan yang jelas, ambisi besar hanya akan berakhir seperti Dreame: sebuah mimpi mobil listrik yang batal di tengah jalan. Kegagalan ini menegaskan tantangan utama industri EV: bukan sekadar merancang kendaraan, tetapi membuktikan viabilitas komersial dan kelayakan finansial jangka panjang yang tak bisa ditopang selamanya oleh subsidi.

Ke Mana Dreame Melangkah Setelah Keluar dari Bisnis Mobil

Setelah Dreame mobil listrik tutup, perusahaan menyebut bahwa mereka "baru saja menyesuaikan sejumlah operasi yang berada dalam fase eksplorasi" dan akan fokus pada empat bidang utama: smart home, outdoor/garden, smart mobility, dan embodied AI. Di atas kertas, pergeseran ini masuk akal: kembali ke akar sebagai produsen perangkat rumah pintar dan robot vacuum, sambil tetap memanfaatkan pengalaman elektronik untuk segmen mobilitas yang lebih realistis. Namun, reputasi Project Starry Sky sebagai vaporware menjadi bayang-bayang yang harus dihadapi ketika perusahaan mengklaim inovasi di bidang baru.

Menurut laporan, keputusan keluar dari bisnis mobil listrik diambil di tengah dinamika kendaraan otonom yang justru makin ramai oleh pemain lain. Ini menempatkan Dreame di posisi defensif: bukan lagi penantang di ruang EV, melainkan perusahaan yang harus membuktikan bahwa fokus baru dapat menghasilkan produk nyata. Pelajaran pentingnya jelas: startup EV, khususnya startup EV China gagal, tidak cukup mengandalkan narasi teknologi masa depan dan uang negara. Mereka harus menunjukkan jalur menuju pasar yang sehat, bukan sekadar panggung pameran yang spektakuler.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!