Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perintis Berdaya Connect: Mengorkestrasi 7.500 UMKM Kota Batu Naik Kelas

Perintis Berdaya Connect: Mengorkestrasi 7.500 UMKM Kota Batu Naik Kelas
Minat|Asia Tenggara

Perintis Berdaya Connect: Dari Ruang Jadi Peluang bagi 7.500 UMKM

Perintis Berdaya Connect adalah program UMKM naik kelas yang merangkai layanan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pendukung ke dalam satu ekosistem terpadu untuk memperkuat akses pasar, permodalan, teknologi, dan jejaring bisnis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan ekonomi kreatif di tingkat lokal.

Inti gagasan Perintis Berdaya Connect (PBC) di Kota Batu sederhana tetapi politis: berhenti mengandalkan bantuan yang berjalan sendiri-sendiri dan mulai membangun ekosistem UMKM lokal yang saling terhubung. Pada Rabu (26/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar meresmikan edisi kedua PBC di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Batu, setelah uji coba di Bandung. Targetnya jelas: mengorkestrasi lebih dari 7.500 UMKM dan sekitar 70 pelaku ekonomi kreatif agar tidak lagi bergerak sendirian di tengah derasnya arus wisata dan konsumsi di kota ini. Pilihan lokasi bukan kebetulan; pertumbuhan pariwisata telah melahirkan ribuan pelaku usaha, dan pemerintah pusat melihatnya sebagai ladang subur untuk pemberdayaan ekonomi kreatif yang lebih terarah.

Perintis Berdaya Connect: Mengorkestrasi 7.500 UMKM Kota Batu Naik Kelas

Ekosistem, Bukan Sekadar Modal: Mengapa UMKM Batu Butuh Pendekatan Baru

PBC berdiri di atas kritik tajam terhadap cara lama mengurus UMKM: bantuan modal, pelatihan, dan program hibah yang tidak terhubung satu sama lain. Menko Muhaimin menegaskan pelaku usaha membutuhkan ekosistem terpadu yang menghubungkan mereka dengan akses pasar, industri, pembiayaan, hingga inovasi teknologi, bukan sekadar paket bantuan sesaat. Di Kota Batu, yang dikenal sebagai kota pariwisata dengan kekayaan alam dan arus wisatawan, pendekatan terputus-putus berarti membiarkan peluang pasar menguap begitu saja.

Karena itu, PBC tidak berhenti pada akses permodalan. Pemerintah mengarahkan program untuk menguatkan rantai usaha dari hulu ke hilir: penyediaan bahan baku, jaringan pemasaran, serta pemanfaatan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas produk dan manajemen usaha. Pendekatan ini mengakui kenyataan di lapangan: masalah utama UMKM kerap terletak pada kesulitan menembus pasar, lemahnya branding, dan keterbatasan teknologi, bukan hanya ketiadaan modal. Jika berhasil, perubahan paradigma ini akan menggeser UMKM dari penerima bantuan menjadi pelaku bisnis yang lebih mandiri dan kompetitif.

Ruang Kolaborasi Bisnis: Menyatukan Pemerintah, Industri, dan Komunitas Kreatif

Keunggulan paling strategis dari Perintis Berdaya Connect adalah cara program ini memaketkan ruang kolaborasi bisnis sebagai pusat gravitasi ekosistem. Alih-alih membuat lembaga baru, PBC Batu menggabungkan PLUT KUMKM, Batu Creative Hub, Komite Ekonomi Kreatif, dan Rumah BUMN Malang sebagai simpul layanan yang saling terhubung dan terbuka bagi mitra lain untuk bergabung. Di sinilah pelaku UMKM, koperasi, dan pelaku ekonomi kreatif bisa bertemu dengan program pemerintah, mitra usaha, hingga layanan pendukung dalam satu arena.

Secara politik, ini adalah upaya memaksa pemerintah bergeser peran dari sekadar pembuat kebijakan menjadi fasilitator dan agregator yang mempertemukan seluruh elemen bisnis. PBC menuntut sektor swasta dan industri bertindak sebagai offtaker produk lokal, sementara investor dan perguruan tinggi didorong memperkuat permodalan, riset, dan peningkatan kapasitas SDM. Bila koordinasi lintas aktor ini konsisten, business matching dan akses pasar tidak lagi berhenti di forum seremoni, tetapi menjelma menjadi kontrak riil yang mengantar UMKM naik kelas dalam ekosistem UMKM lokal yang lebih matang.

Batu sebagai Laboratorium Ekonomi Kreatif dan Ujian Komitmen Pemerintah

Kota Batu diposisikan pemerintah sebagai laboratorium pemberdayaan ekonomi kreatif yang mengandalkan perpaduan potensi alam, pariwisata, dan kreativitas warga. Dengan lebih dari 7.500 UMKM yang bergerak di kuliner, fesyen, kerajinan, serta jasa kreatif, kota ini punya peluang besar menjadikan produk lokal bukan lagi pelengkap wisata, melainkan motor pertumbuhan ekonomi baru. Menko Muhaimin bahkan menyebut peta pertumbuhan ekonomi kreatif tidak lagi monopoli kota besar; daerah seperti Batu bisa menjadi inspirator nasional bila ekosistemnya dikelola dengan serius.

Namun keberhasilan PBC tidak akan ditentukan oleh peresmian, melainkan oleh keberlanjutan gerak setelah panggung ditutup. Model yang dipraktikkan di Bandung dan kini direplikasi di Batu diharapkan dikembangkan lebih luas sebagai bagian dari Perintis Berdaya untuk membangun ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat yang terhubung dan mudah diakses. Pemerintah melalui Kemenko PM berjanji memperkuat kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar program tidak saling tumpang tindih. Di titik inilah PBC menjadi ujian: apakah komitmen pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal sungguh berubah menjadi gerakan jangka panjang, atau kembali tenggelam sebagai program siklus singkat jelang agenda politik berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!