Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Akuaponik hingga Urban Farming: Pelatihan Komunitas Mengubah Wajah Ketahanan Pangan Kota

Dari Akuaponik hingga Urban Farming: Pelatihan Komunitas Mengubah Wajah Ketahanan Pangan Kota
Minat|Pelatihan Komprehensif

Ketahanan Pangan Bukan Lagi Urusan Sawah Luas

Urban farming ketahanan pangan adalah pendekatan produksi pangan berkelanjutan yang memanfaatkan ruang kecil dan lahan suboptimal di lingkungan perkotaan maupun desa, menggunakan teknologi sederhana seperti pelatihan akuaponik komunitas, budikdamber lahan terbatas, dan program pertanian berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar sekaligus memperkuat ekonomi dan gizi keluarga. Ketahanan pangan hari ini tidak bisa lagi bergantung pada gambaran klasik sawah menghampar dan tambak luas. Banjir rob, alih fungsi lahan, dan pemadatan kota memaksa masyarakat mencari cara baru menanam harapan di ruang yang tersisa. Dalam konteks inilah pelatihan akar rumput dari kampus dan lembaga riset menjadi penentu: bukan sekadar transfer teknologi, tetapi latihan merombak cara pandang warga, dari konsumen pasif menjadi produsen pangan di halaman rumah mereka sendiri.

Akuaponik Galon Bekas: Perlawanan Sunyi Ibu-Ibu Nelayan Timbulsloko

Di Desa Timbulsloko, lahan sawah dan tambak yang dulu produktif hilang total sejak 2016 akibat banjir rob berkala maupun permanen. Dalam situasi yang bagi banyak orang tampak tanpa jalan keluar, tim pengabdian Universitas Semarang hadir dengan pelatihan akuaponik komunitas berbasis galon bekas bagi ibu-ibu wanita nelayan. Akuaponik—kombinasi budi daya ikan dan sayuran dalam satu sistem—menjadi simbol keras kepala untuk tidak menyerah pada air pasang. Teknologi ini sengaja dirancang murah dan terjangkau: memanfaatkan galon bekas, benih lele, bibit kangkung, sedikit tanah, dan pekarangan yang tidak tergenang rob. Dari sistem sederhana itu, keluarga dapat memanen ikan dan sayur organik bebas pestisida untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga. Di sini program pertanian berkelanjutan bukan jargon; ia hidup di tangan perempuan yang menjaga dapur tetap menyala meski sawah sudah menjadi laut.

Dari Akuaponik hingga Urban Farming: Pelatihan Komunitas Mengubah Wajah Ketahanan Pangan Kota

Budikdamber: Ember di Teras Jadi Kebun dan Kolam Mini

Jika rob merampas lahan di pesisir, kota memotong ruang hidup lewat beton dan bangunan padat. Di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, tim PRIME STeP IPB memperkenalkan urban farming ketahanan pangan melalui metode budikdamber—budidaya ikan dalam ember yang digabung dengan sayuran. Di posyandu, warga diajak melihat bahwa ember plastik di teras bukan lagi sekadar wadah air, tetapi unit produksi pangan skala mikro. Pelatihan budikdamber lahan terbatas ini menegaskan satu hal: ketahanan pangan bisa tumbuh dari sarana paling sederhana selama ada pengetahuan dan keberanian mencoba. Ketua tim menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya pengenalan teknologi, melainkan bagian dari program pertanian berkelanjutan yang berorientasi pada pemberdayaan warga dan keberlanjutan praktik. Seorang tokoh kelurahan menyatakan, pelatihan ini memberi kesempatan warga “mengenal cara baru dalam menghasilkan pangan dari lingkungan sekitar” dan diharapkan mereka menerapkannya secara mandiri.

Dari Akuaponik hingga Urban Farming: Pelatihan Komunitas Mengubah Wajah Ketahanan Pangan Kota

Guru SMK di Garis Depan Pengelolaan Lahan Suboptimal

Ketahanan pangan berkelanjutan tidak cukup jika berhenti di skala rumah tangga; ia butuh agen perubahan yang sanggup menjembatani ilmu dan praktik. Di Palu, SEAMEO BIOTROP bersama Universitas Tadulako menggelar Pelatihan Nasional Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal selama tiga hari untuk 34 peserta, mayoritas guru SMK. Deputi direktur lembaga ini terang-terangan menyebut guru SMK sebagai agen transformasi karena mampu menjelaskan pengetahuan ilmiah dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat. Dengan sekitar 70 juta hektare lahan suboptimal yang masih berpotensi menjadi produktif bila dikelola tepat, program ini mencakup 32 jam materi konservasi, identifikasi tanah dan air tercemar, gulma sebagai bioindikator, teknik berkebun adaptif, hingga pembuatan kompos dan pupuk hayati. Pentingnya pelatihan ini terletak pada desain jangka panjang: sekolah yang berhasil menerapkan materi akan dimonitor, dan sebagian disiapkan menjadi lokasi percontohan pemberdayaan lingkungan bersama masyarakat.

Pelatihan Akar Rumput: Dari Modul ke Gerakan Kolektif

Benang merah dari akuaponik di Timbulsloko, budikdamber di Bogor, dan pengelolaan lahan suboptimal di Palu adalah ambisi mengubah warga biasa menjadi aktor utama ketahanan pangan. Ketiganya menghadapi keterbatasan berbeda—rob yang menenggelamkan sawah, ruang perkotaan yang menyempit, dan jutaan hektare lahan suboptimal yang terabaikan—namun menawarkan jawaban serupa: pengetahuan praktis yang bisa dijalankan di halaman, teras, hingga lahan sekolah. Yang patut digarisbawahi, program ini tidak berhenti sebagai kegiatan sekali datang lalu bubar; ada komitmen memonitor, mengembangkan, dan menjadikan praktik terbaik sebagai percontohan bagi komunitas lain. Di tengah krisis iklim dan pangan, pendekatan akar rumput seperti ini layak didorong sebagai kebijakan arus utama. Bukan karena teknologinya canggih, tetapi karena mereka mengembalikan kendali pangan ke tangan masyarakat—di galon bekas, ember di teras, dan lahan sekolah yang selama ini dianggap sekadar lapangan upacara.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!