Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jakarta Masuk 50 Kota Shopping Terbaik Dunia

Jakarta Masuk 50 Kota Shopping Terbaik Dunia
Minat|Destinasi Luar Negeri

Jakarta di Peringkat 39: Lebih dari Sekadar Deretan Mal

Masuknya Jakarta ke peringkat ke-39 dalam daftar 50 destinasi wisata belanja terbaik dunia 2026 berarti kota ini mulai dilihat sebagai Jakarta destinasi belanja dunia yang menawarkan pengalaman menyeluruh, dari pusat perbelanjaan modern hingga pasar tradisional, yang membentuk cara wisatawan memahami karakter sebuah kota dan menghubungkannya dengan budaya, kreativitas, serta kehidupan sehari-hari warganya.

Jakarta semakin diperhitungkan sebagai salah satu kota tujuan wisata belanja dunia setelah menempati posisi ke-39 dalam daftar 50 destinasi wisata belanja terbaik dunia 2026 yang disusun media pariwisata Travel and Travel World (TTW). Posisi ini menempatkan Jakarta dalam jajaran kota shopping terbaik bersama London, Milan, New York, Shanghai, dan Paris yang mengisi lima besar. Di Asia, kompetitornya juga tidak main-main: Tokyo, Seoul, Singapura, hingga Kuala Lumpur berada di daftar 20 besar.

Masuk ke 50 besar berarti Jakarta berada di radar wisata belanja internasional, tapi belum di liga teratas. Ini memberi pesan ganda: pengakuan dan PR besar. Pengakuan, karena kota ini dinilai punya daya tarik belanja beragam, dari pusat mode hingga kerajinan lokal. PR, karena jarak dengan kota-kota papan atas masih lebar. Pertanyaannya: apa yang membuat Jakarta layak naik kelas sebagai Jakarta global city dalam peta wisata belanja dunia?

Dari Gerbong KRL ke Rak Display: Kota yang Terhubung ke Dunia

Untuk memahami mengapa Jakarta mulai dilihat sebagai kota global, bayangkan pagi di dalam kereta penuh sesak: seseorang sedang video call dengan kantor di Singapura, mahasiswa mengikuti kelas dari Australia, seorang pria membaca berita internasional lewat ponsel, lalu beberapa turis masuk membawa koper. Bahasa yang terdengar berlapis-lapis: Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang. Di sinilah Jakarta mulai terasa seperti “kota dunia”, bukan sekadar ibu kota besar.

Kisah Aruna yang bekerja lintas negara—meeting pagi dengan Kuala Lumpur, siang dengan Seoul, sore dengan London—menunjukkan bahwa batas geografis sudah mengendur. Konektivitas digital, ekonomi, dan budaya membuat kota ini relevan bagi freelancer yang bekerja untuk perusahaan asing dari apartemen kecil, seniman lokal yang menjual karya ke luar negeri, hingga restoran keluarga yang dikenal turis berkat satu video pendek. Semua itu berkelindan dengan wisata belanja internasional: turis yang datang untuk berbelanja kini juga datang untuk merasakan kehidupan kota yang “bekerja” bagi banyak identitas.

Global bukan sekadar soal skyline dan mal megah, tetapi tentang bagaimana kota berfungsi ketika dunia masuk ke dalamnya. Dalam konteks belanja, ini berarti toko yang mudah diakses, informasi jelas, sistem pembayaran yang ramah pendatang, hingga ruang publik yang memberi alasan untuk tinggal lebih lama setelah keluar dari pusat perbelanjaan. Di titik inilah retail menjadi pintu masuk untuk merasakan ritme Jakarta, bukan hanya tempat menggesek kartu.

Mengapa Jakarta Mulai Diperhitungkan di Peta Wisata Belanja Global

TTW menyusun daftar kota shopping terbaik dengan melihat perkembangan ritel internasional, perubahan perilaku wisatawan, preferensi konsumen, dan dinamika pasar barang mewah global. Artinya, peringkat ke-39 Jakarta bukan hadiah, melainkan konsekuensi dari pergeseran cara orang berbelanja dan bepergian. Wisata belanja tidak lagi dianggap pelengkap itinerary, tetapi bagian utama pengalaman kota; pemimpin redaksi TTW menyebut belanja sebagai salah satu bagian paling berpengaruh dari pengalaman modern karena memberi turis keterhubungan langsung dengan budaya dan kerajinan tangan suatu destinasi.

Yang menarik, TTW menekankan bahwa perkembangan wisata belanja tidak hanya ditentukan oleh pusat ritel besar. Identitas budaya, kreativitas, desain, dan inovasi pengalaman menjadi faktor yang makin penting. Inilah ruang yang sedang dimainkan Jakarta: memadukan pusat mode, pasar tradisional, hingga produk kerajinan lokal dalam satu narasi kota. Turis, kata Anup Kumar Kesha, tidak lagi mencari sekadar barang, tetapi pengalaman bermakna dan cerita lokal di balik setiap pembelian.

Bagi warga biasa, logikanya sederhana: semakin kuat konektivitas kota, semakin besar peluang ekonomi. Seorang freelancer bisa terkoneksi dengan pasar global, seniman bisa mengakses pembeli luar negeri, mahasiswa bisa membangun jaringan internasional tanpa pergi ke luar kota. Ketika turis datang untuk berbelanja, mereka ikut mengalirkan perhatian, transaksi, dan cerita ke ekosistem lokal—dari pedagang pasar sampai pembuat kerajinan di gang sempit. Peringkat global itu abstrak, tapi efeknya menyentuh dapur banyak orang.

Antara Kota Global dan Kota yang “Bekerja” bagi Warga dan Turis

Di tengah euforia peringkat, penting mengingat satu hal: kota global bukan kota yang paling megah, tetapi kota yang paling mampu menghubungkan manusia. Cerita Leon sepulang dari Tokyo menggambarkan standar itu dengan kalimat pendek, “Gampang hidupnya.” Ia bukan memuji kemewahan, melainkan kemudahan bergerak, informasi yang jelas, ruang publik yang hidup, dan keberadaan tempat untuk bekerja, beristirahat, hingga bersenang-senang tanpa harus selalu mengeluarkan uang besar.

Jakarta sudah berada di jalur Jakarta global city ketika konektivitas digital, ekonomi, budaya, dan manusia menjadi lebih terasa. Wisata belanja internasional bisa menjadi penguat jika pengalaman di luar mal sama ramahnya: transportasi yang dapat dipahami turis, zona belanja yang terhubung dengan ruang budaya, termasuk ruang bagi mereka yang ingin menikmati kota tanpa belanja besar-besaran. Di sini, branding sebagai kota shopping terbaik akan terasa jujur hanya jika warga lokal ikut merasakan manfaatnya.

Dengan peringkat ke-39, Jakarta sudah melangkah melewati fase minder dan pembandingan tanpa data. Kota ini kini resmi masuk daftar Jakarta destinasi belanja dunia, berdiri sejajar—meski belum selevel—dengan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Ho Chi Minh yang juga bersaing menarik turis lewat sektor ritel. Tantangan berikutnya bukan sekadar naik peringkat, tetapi memastikan setiap rak display, kios pasar, hingga gerbong kereta menjadi bagian dari pengalaman kota yang “bekerja”: bagi turis, ya; bagi warganya sendiri, terutama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!