Forum untuk kerja sama yang berorientasi pada solusi
Pertemuan CityNet adalah forum bagi pemimpin kota, pemerintah, dan mitra pembangunan untuk berbagi pengalaman serta merancang jawaban bersama atas persoalan perkotaan lintas wilayah. Jakarta menjadi tuan rumah Pertemuan ke-46 Komite Eksekutif CityNet di Hotel Pullman pada 3 November 2026, mempertemukan peserta dari kawasan Asia-Pasifik. Tema “Driving Circular Innovation for Urban Resilience” menempatkan inovasi sirkular dan ketahanan kota sebagai agenda utama. Nilai forum ini tidak semestinya diukur dari banyaknya delegasi atau pidato, melainkan dari kemampuan peserta membawa pulang gagasan yang bisa diterapkan. Kolaborasi antarkota penting karena solusi yang berhasil di satu tempat dapat mempercepat pembelajaran di tempat lain dan, pada akhirnya, memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Itulah alasan Jakarta perlu menggunakan peran tuan rumah untuk mendorong percakapan yang praktis, bukan berhenti pada seremoni.

Jakarta membawa persoalan nyata ke meja diskusi
Pramono Anung mendorong kota-kota Asia-Pasifik memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan perkotaan, termasuk pengelolaan sampah, perubahan iklim, dan transportasi publik berkelanjutan. Dorongan itu akan lebih berarti jika bertolak dari masalah yang dihadapi warga sehari-hari. Jakarta masih berhadapan dengan persoalan transportasi, sampah, dan polusi; kota ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari. Angka tersebut mengingatkan bahwa agenda ketahanan kota bukan sekadar istilah dalam tema konferensi. Jakarta juga memaparkan gerakan Pilah Sampah: proporsi rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 6 persen pada Mei menjadi hampir 35 persen pada Oktober 2026. Kemajuan itu patut dicatat, tetapi besarnya timbulan sampah menunjukkan pekerjaan masih jauh dari selesai. Forum CityNet memberi ruang untuk membandingkan pendekatan dan mencari cara agar upaya lokal menghasilkan dampak yang lebih luas.
Kepemimpinan Jakarta perlu diikuti hasil
Menjadi tuan rumah memberi Jakarta kesempatan untuk memengaruhi arah pembicaraan, tetapi kepemimpinan kota juga harus dibuktikan melalui layanan yang membaik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan transportasi terintegrasi melalui MRT, LRT, Transjakarta, JakLingko, dan Mikrotrans, serta menargetkan elektrifikasi seluruh armada Transjakarta pada 2030. Di bidang tata kota, agenda yang disebutkan mencakup pengembangan kawasan berorientasi transit, perluasan ruang terbuka hijau, dan perbaikan pengelolaan air. Pramono juga menyoroti kenaikan posisi Jakarta dalam Global Cities Index 2026, dari peringkat 159 pada 2025 menjadi 140 dari 1.000 kota pada 2026. Peringkat itu memberi konteks, bukan alasan untuk berpuas diri: mutu lingkungan, mobilitas, dan layanan tetap menjadi ukuran yang dirasakan warga. Jika Jakarta berbagi pengalaman sekaligus terbuka belajar dari kota lain, forum ini dapat mendukung kemajuan yang lebih nyata.
Dari pertemuan menuju kemitraan jangka panjang
Pesan utama pertemuan CityNet seharusnya sederhana: tantangan kota saling terkait, sehingga jawabannya tidak bisa dibangun oleh satu pemerintahan sendirian. Pemimpin kota perlu menjaga kolaborasi setelah forum berakhir—bertukar praktik yang terbukti, mengenali keterbatasan tiap pendekatan, dan membangun kemitraan yang memberi manfaat bagi komunitas. Ajakan Pramono agar anggota CityNet memperkuat kerja sama menjelang peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027 memberi momentum, tetapi tenggat perayaan bukan ukuran keberhasilan. Ukurannya adalah apakah warga merasakan kota yang lebih bersih, transportasi yang lebih mudah diakses, serta layanan yang lebih siap menghadapi perubahan iklim. Jakarta telah membuka ruang bagi dialog Asia-Pasifik; langkah berikutnya ialah memastikan gagasan yang dibahas diterjemahkan menjadi tindakan yang konsisten. Tanpa tindak lanjut, kolaborasi antarkota hanya menjadi janji; dengan hasil yang dapat dirasakan, forum ini bisa menjadi alat perubahan.






