Bantuan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar
Rumah layak huni adalah tempat tinggal yang memberi penghuninya perlindungan memadai, kenyamanan sehari-hari, serta akses pada kebutuhan dasar seperti sanitasi dan air bersih. Di Rembang, PT Djarum menuntaskan renovasi atau pembangunan ulang 16 rumah melalui program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH), lalu menyerahkannya kepada keluarga penerima manfaat di Pendopo Kabupaten Rembang pada Kamis (29/10). Langkah ini penting karena rumah yang aman bukan kemewahan, melainkan fondasi bagi kesehatan, ketenangan, dan kehidupan keluarga. Program RSLH Rembang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit membiayai perbaikan besar secara mandiri. Dana yang dikucurkan melampaui Rp1,2 miliar, dengan biaya tiap rumah berkisar Rp70 juta hingga Rp85 juta, bergantung pada kerusakan bangunan. Skala bantuan ini patut diapresiasi, tetapi nilainya paling nyata terlihat dari perubahan yang dialami keluarga di dalam rumah.

Dari lantai tanah menuju ruang yang lebih aman
Sebelum mendapat bantuan, sebagian penerima tinggal di rumah dengan atap kayu yang rawan bocor, dinding anyaman bambu atau gedeg, dan lantai tanah. Kondisi Masduqi, buruh petani garam dari Desa Punjulharjo, memperlihatkan betapa beratnya persoalan itu dalam keseharian. Saat hujan, air merembes, lantai menjadi lembap dan berlumpur, sementara angin kencang membuatnya takut rumah akan roboh. Ia pernah berkata, “Dulu kalau hujan dan angin saya takut rumah roboh.” Ini bukan semata soal tampilan bangunan: kebocoran, kelembapan, dan struktur yang rapuh membuat keluarga menghadapi rasa tidak aman di tempat yang seharusnya menjadi perlindungan. Melalui bedah rumah warga, rumah Masduqi kini lebih bersih, sejuk, dan nyaman untuk ditempati bersama istri serta anak-anaknya. Perubahan itu menjawab kebutuhan fisik sekaligus mengurangi kecemasan yang selama ini menyertai musim hujan.

Sebaran bantuan dan dampak bagi keluarga
Enam belas rumah itu tersebar di empat desa: enam di Labuhan Kidul dan dua di Bendo, Kecamatan Sluke; empat di Landoh, Kecamatan Sulang; serta empat di Punjulharjo, Kecamatan Rembang. Pembangunan memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan kesehatan penghuni, termasuk pencahayaan, sanitasi, akses air bersih, serta toilet yang memadai. Bagi penerima, manfaatnya melampaui bangunan yang lebih kokoh. Rumah yang bersih dan tidak lagi mudah kemasukan air memberi keluarga ruang untuk beristirahat dengan tenang, sementara anak-anak dapat belajar dalam lingkungan yang lebih nyaman. Masduqi mengaku keluarganya kini tinggal di rumah yang lebih sejuk dan bersih. Dampak semacam ini menunjukkan mengapa renovasi rumah Rembang layak dinilai dari kualitas hidup yang dihasilkan, bukan hanya jumlah unit atau besarnya anggaran. Bantuan tanpa biaya renovasi bagi keluarga penerima juga menghindarkan mereka dari beban pembiayaan yang mungkin tak sanggup ditanggung.

Kemajuan perlu diikuti pemerataan
Program RSLH telah berjalan sejak 2022. Hingga 2025, program tersebut menyelesaikan renovasi 626 rumah di sejumlah wilayah Jawa Tengah, sedangkan sepanjang 2026 telah merenovasi atau membangun ulang 352 rumah di berbagai daerah, termasuk 16 unit di Rembang. Capaian itu memperlihatkan jangkauan yang berarti, tetapi kebutuhan hunian aman masih menuntut kesinambungan dan penentuan penerima yang tepat. Masduqi berharap program ini terus berkembang agar keluarga lain yang membutuhkan dapat merasakan manfaat serupa. Harapan tersebut sepatutnya menjadi ukuran keberhasilan berikutnya: bukan berhenti pada seremoni penyerahan, melainkan memastikan semakin banyak keluarga berpenghasilan rendah memperoleh rumah layak huni yang sehat dan aman. Ketika tempat tinggal tidak lagi menjadi sumber takut saat hujan, keluarga punya landasan lebih baik untuk bekerja, belajar, dan merencanakan masa depan. Itulah nilai paling penting dari bantuan ini.







