Dua pendekatan, satu tujuan: siswa memahami konsep
Media pembelajaran sains interaktif adalah sarana yang mengajak siswa membangun pemahaman melalui praktik, pengorganisasian gagasan, dan penyelidikan, bukan hanya menerima penjelasan di kelas. Dua inovasi Universitas Negeri Malang memperlihatkan bagaimana pendekatan itu dapat diterapkan: ElectroRace Kit berbasis STEAM untuk IPA dan model REMAP-GI berbantuan Coggle Tools untuk biologi. Keduanya menjawab persoalan yang berbeda, tetapi sama-sama memberi siswa peran aktif dalam belajar. ElectroRace Kit diperkenalkan bagi siswa kelas IX dan guru IPA di MTs Sunan Kalijogo, dengan latar keterbatasan alat peraga dan aktivitas eksperimen untuk sejumlah materi IPA. Sementara itu, REMAP-GI menggabungkan membaca, membuat peta konsep, dan investigasi kelompok untuk menjadikan pembelajaran biologi lebih aktif serta kolaboratif. Arah yang tepat bukan memilih teknologi demi kesan baru, melainkan mencocokkan media dengan jenis pemahaman yang hendak dibangun.

ElectroRace Kit membawa konsep ke dalam praktik
ElectroRace Kit dirancang agar siswa dapat mengeksplorasi konsep IPA secara langsung, bukan berhenti pada teori. Program pengenalan berlangsung dalam dua tahap: alat diserahkan kepada MTs Sunan Kalijogo pada 12 September 2026, lalu implementasi dan evaluasi bersama siswa kelas IX serta guru IPA dilakukan pada 19 September 2026. Setelah sosialisasi fungsi alat dan demonstrasi, siswa mencoba kit tersebut dalam kegiatan praktik. Nilai utama media praktik terletak pada pengalaman konkret: siswa mengamati, mencoba, dan berhadapan dengan persoalan saat kegiatan berlangsung. Pendekatan STEAM juga mendorong mereka menghubungkan sains dengan teknologi, rekayasa, seni, dan matematika, sembari melatih kerja sama, kreativitas, serta pemecahan masalah. Bagi sekolah dengan sarana eksperimen terbatas, kit STEAM berpotensi membuat pembelajaran lebih terasa dan menumbuhkan minat. Namun, manfaat jangka panjangnya bergantung pada integrasi alat oleh guru dalam pelajaran rutin, bukan pada demonstrasi satu kali.
REMAP-GI menata gagasan sebelum penyelidikan
Dalam pembelajaran biologi interaktif, siswa tidak hanya melakukan kegiatan di kelas; mereka juga menyiapkan pemahaman awal. Pada model REMAP-GI, siswa membaca materi sebelum pelajaran, lalu menyusun peta konsep digital secara individu atau kelompok. Coggle Tools membantu mereka menampilkan gagasan secara visual, sistematis, dan kolaboratif, sehingga hubungan antarkonsep yang rumit lebih mudah ditinjau. Peta digital bukan pengganti pengalaman nyata, melainkan alat untuk mengatur informasi dan menemukan bagian yang belum dipahami sebelum diskusi maupun praktikum. Sesudah tahap membaca dan pemetaan, siswa melakukan investigasi: mengamati variasi tumbuhan di sekitar sekolah, menyusun kladogram menggunakan data dan situs PAST, atau membuat kombucha dari teh, jahe, dan bunga telang. Model REMAP-GI ini dikembangkan oleh tim peneliti UM yang diketuai Prof. Dr. Siti Zubaidah, dengan Bagus Priambodo sebagai anggota dan Yuli Astutik, mahasiswa magister, turut terlibat. Kombinasi persiapan visual dan penyelidikan membuat konsep biologi tidak terlepas dari bukti dan pengalaman.

Media praktik dan visual saling melengkapi
ElectroRace Kit dan Coggle Tools menjalankan fungsi berbeda. Kit praktik mengundang siswa untuk melakukan dan menguji; peta konsep digital membantu mereka mengelompokkan informasi serta melihat kaitan di antara gagasan. Yang pertama kuat dalam menghadirkan pengalaman konkret, sedangkan yang kedua mendukung penataan pemikiran dan pemahaman konsep kompleks. Jika salah satunya dipakai sendirian, peluang belajar tetap ada, tetapi pembelajaran dapat kehilangan salah satu unsur penting: pengalaman atau struktur pemahaman. Karena itu, pendekatan terbaik ialah memadukan media sesuai materi dan tujuan pelajaran. Guru dapat memakai alat praktik untuk membuka eksplorasi, lalu meminta siswa merekam temuan dalam peta konsep—atau menggunakan peta sebagai persiapan sebelum investigasi. Program ElectroRace Kit telah dievaluasi untuk menjadi dasar penyempurnaan dan pemanfaatan berkelanjutan; kerja sama perguruan tinggi dan sekolah juga diharapkan terus berkembang. Ukuran keberhasilan bukan seberapa canggih medianya, melainkan apakah siswa lebih aktif bertanya, menghubungkan bukti dengan konsep, dan mampu menjelaskan apa yang mereka pelajari.






