Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Batik Wakaroros Kutim Curi Perhatian di Panggung BIFF

Batik Wakaroros Kutim Curi Perhatian di Panggung BIFF
Minat|Industri Fashion

Batik Wakaroros: Wastra Kutim yang Naik Kelas di BIFF

Batik Wakaroros Kutim adalah wastra khas Kutai Timur yang kini diposisikan sebagai identitas budaya lokal melalui panggung BIFF fashion festival, menghadirkan perpaduan motif khas daerah dengan desain modern sebagai upaya sadar mengangkat batik regional showcase ke level nasional dan internasional. Dekranasda Kutai Timur menjadikan keikutsertaan di Borneo International Fashion Festival (BIFF) bukan sekadar acara seremonial, melainkan strategi politik budaya: menunjukkan bahwa daerah tambang ini memiliki kekuatan kreatif yang pantas mendapat panggung bergengsi. Pendekatan ini penting, karena batik Wakaroros Kutim tidak akan otomatis dikenal jika hanya dipajang di etalase lokal. Dengan masuk ke festival fesyen regional, pesan yang dikirim jelas: batik dari pinggiran industri ekstraktif siap bersaing dalam arus utama fesyen. Langkah ini terasa berani, dan justru itu yang membuat kehadiran Wakaroros relevan.

Batik Wakaroros Kutim Curi Perhatian di Panggung BIFF

Magicland Wakaroros: Panggung Fesyen sebagai Panggung Identitas

Dekranasda Kutim mengusung tema "Magicland Wakaroros Kutim" untuk penampilan di BIFF, digelar di Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, pada Minggu malam 4 Oktober 2026. Tema ini bukan hiasan kata-kata; ia adalah pernyataan bahwa Kutai Timur lebih dari sekadar ladang tambang. Ketua Dekranasda, Hj. Siti Robiah, menegaskan bahwa Kutim memiliki kekayaan hutan, perkebunan, pertanian, dan destinasi wisata yang patut diangkat sebagai sumber ekonomi kreatif, bukan hanya komoditas mentah. Kutai Timur itu daerah yang “ajaib”, yang insyaallah semuanya ada, ujarnya, yang terasa seperti ajakan meninggalkan pola pikir sempit soal potensi daerah. Dengan menjadikan batik Wakaroros sebagai simbol "Magicland", Dekranasda mengambil sikap: identitas kultural layak duduk di depan, bukan sekadar ornamen yang menyertai narasi pembangunan.

Batik Wakaroros Kutim Curi Perhatian di Panggung BIFF

Masriati Mahyunadi di Catwalk: Simbol Politik Budaya Wakaroros

Momen paling mencolok di catwalk BIFF adalah ketika Masriati Mahyunadi, istri Wakil Bupati Kutim, berjalan bersama 10 peragawati dengan busana batik Wakaroros rancangan desainer batik lokal Nora Suratman. Penampilannya tidak sekadar menambah sorotan kamera; ia memuat pesan bahwa elite daerah mau turun langsung membawa wastra lokal ke panggung fesyen. Penampilan Masriati mendapat perhatian penonton, dan ia menyatakan harapan agar “batik Wakaroros Kutim semakin dikenal masyarakat luas”, sambil menyemangati para desainer lokal agar terus berkreasi. Di sini, kehadiran figur publik memainkan peran penting: membuktikan bahwa dukungan pemerintah belum berhenti di kata-kata. Ketika simbol kekuasaan mengenakan batik Wakaroros Kutim di ajang BIFF fashion festival, batik regional showcase ini memperoleh legitimasi politik yang selama ini sering kurang bagi produk budaya daerah.

Lima Desainer Lokal dan Strategi Memperluas Pasar Kreatif

Dekranasda Kutim tidak datang sendirian ke BIFF; mereka menggandeng lima desainer batik lokal: Nora Suratman, Lida Juwita, Yundra Yusinanda, Arif Leppo Ises Rahayu, dan Heni Victoria. Kolaborasi ini menunjukkan arah yang tepat: batik Wakaroros Kutim dihidupkan melalui interpretasi kreatif, bukan dibekukan sebagai artefak museum. Siti Robiah menekankan bahwa keikutsertaan di BIFF dimaksudkan untuk memunculkan kreativitas pelaku bisnis lokal dan membuka peluang pasar yang lebih luas, bahkan ke dunia internasional. Ini penting, karena tanpa jalur pasar, pujian di panggung akan berakhir sebagai euforia sesaat. Melalui BIFF fashion festival, batik regional showcase Wakaroros ditampilkan bukan hanya sebagai kain cantik, tetapi sebagai produk fesyen yang siap dikembangkan dan diminati masyarakat luas. Bila konsisten, BIFF bisa menjadi titik awal ekosistem fesyen Kutim yang berkelanjutan, bukan sekadar festival tahunan.

Batik Wakaroros Mencuri Perhatian: Langkah Kecil Menuju Panggung Lebih Besar

Fakta bahwa keindahan batik Wakaroros Kutim mencuri perhatian dalam ajang BIFF di Odah Etam menunjukkan satu hal: publik regional siap menerima narasi baru tentang fesyen daerah. Di tengah deretan karya fesyen lain, Wakaroros berhasil menarik penonton dan media karena menawarkan identitas yang jelas, bukan sekadar motif dekoratif. Keikutsertaan Dekranasda Kutim di BIFF disebut bukan hanya untuk memperkenalkan wastra ke tingkat nasional dan internasional, tetapi juga membuka ruang bagi desainer lokal menunjukkan karya dan kreativitas mereka. Namun perhatian di satu festival belum cukup; tantangannya adalah mengubah sorotan sesaat menjadi hubungan jangka panjang dengan pasar. Di sinilah pentingnya konsistensi: jika pemerintah daerah terus hadir di panggung fesyen, menguatkan desainer dan pengrajin, batik Wakaroros Kutim berpeluang naik kelas dari tamu undangan menjadi pemain tetap di lintasan fesyen regional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!