Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Eksplorasi Sains Tanpa Layar untuk Melatih Pemikiran Kritis Anak

Eksplorasi Sains Tanpa Layar untuk Melatih Pemikiran Kritis Anak
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pembelajaran Sains Interaktif Tanpa Gawai: Inti Gramedia Science Day

Pembelajaran sains interaktif tanpa gawai adalah pendekatan belajar di mana siswa mengeksplorasi konsep sains melalui aktivitas praktik, eksperimen langsung, dan simulasi masalah nyata, sehingga pengetahuan mereka dibangun dari pengalaman tangan pertama, diskusi, dan pemecahan masalah kolaboratif, bukan dari layar digital atau hafalan semata. Pendekatan ini menjadi jantung Gramedia Science Day, event sains anak yang mengumpulkan 850 siswa sekolah dasar di Kahuripan Grand Ballroom, Dyandra Convention Centre, Surabaya, pada 5 September 2026 untuk berlatih berpikir kritis di ruang yang bebas gawai. Di sini, sains tidak tampil sebagai rumus kering di buku, tetapi sebagai alat untuk memahami dunia dan mengambil keputusan. Gramedia tampak sengaja mengirim pesan: jika ingin mencetak ilmuwan cilik yang kritis, kurangi layar, perbanyak percobaan.

Eksplorasi Sains Tanpa Layar untuk Melatih Pemikiran Kritis Anak

Dari Rumus ke Aksi: Sains sebagai Latihan Mitigasi Bencana

Keberanian Gramedia menjadikan risiko dan mitigasi bencana alam sebagai tema utama bukan sekadar pilihan kreatif, tetapi sikap politis terhadap bagaimana sains seharusnya diajarkan. Lewat rangkaian tantangan bertema kebencanaan, siswa diajak memahami risiko dan penanggulangan bencana alam melalui eksperimen, kerja kelompok, dan pemecahan masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini mengubah literasi sains menjadi keterampilan hidup: anak tidak hanya tahu apa itu banjir atau gempa, tetapi berlatih merumuskan langkah penyelamatan yang masuk akal. Pendekatan seperti ini adalah wujud mitigasi bencana sekolah yang konkret: sekolah tidak hanya memasang jalur evakuasi di dinding, melainkan melatih murid menganalisis skenario, berdiskusi, dan menguji solusi. Sains menjadi bahasa untuk menghadapi situasi dunia nyata, bukan pelajaran yang dipisahkan dari persoalan sosial.

Eksplorasi Sains Tanpa Layar untuk Melatih Pemikiran Kritis Anak

Eksperimen Tanpa Teknologi: Menantang Dominasi Layar di Pendidikan Anak

Di era ketika hampir setiap aktivitas belajar ditumpangi gawai, konsep "no gadget" dalam Gramedia Science Day adalah pernyataan tegas bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban. Serangkaian aktivitas dirancang tanpa layar: anak berdiskusi, menyentuh bahan percobaan, mengamati gejala, berdebat dalam tim, dan mencari solusi dari tantangan yang diberikan. Kolaborasi dengan BTN melalui balé by BTN mendukung ruang pembelajaran yang tidak terbatas pada buku maupun ruang kelas; anak-anak didorong mengeksplorasi pengetahuan melalui permainan, eksperimen, dan kerja sama dengan peserta lain. Menariknya, fokus eksplorasi dan kreativitas justru terasa lebih kuat ketika gawai disingkirkan. Target eksplisitnya adalah bukan hanya membuat anak belajar sains, tetapi juga menyadarkan orang tua agar berani melepaskan ketergantungan aktivitas gawai di rumah.

Melatih Berpikir Kritis Siswa SD di Luar Kurikulum Formal

Sejak 2016, Gramedia Science Day diposisikan sebagai program edukasi informal berbasis kreativitas dan inovasi yang memadukan pembelajaran dengan aktivitas praktik untuk mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Pernyataan ini penting: event sains anak ini sengaja ditempatkan di luar kurikulum formal, seolah mengkritik pola belajar yang masih didominasi ujian dan hafalan. Di ballroom Surabaya, berpikir kritis siswa SD bukan jargon, melainkan kegiatan konkret: bertanya, mencoba, menguji hipotesis, menerima kegagalan, lalu memperbaiki solusi. Direktur Gramedia menegaskan bahwa keberanian untuk bertanya, mencoba, dan menemukan solusi adalah bagian penting dari proses belajar anak. Dengan fokus pada rasa ingin tahu, bukan nilai raport, event ini memberi contoh bahwa "ilmuwan cilik" lahir dari kebebasan bereksperimen, bukan dari lembar kerja yang seragam.

Mengapa Sekolah Perlu Belajar dari Event Sains Anak Semacam Ini

Melihat antusiasme ratusan siswa berdiskusi, bereksperimen, dan menyelesaikan tantangan kebencanaan, sulit menolak kesimpulan bahwa model pembelajaran semacam ini lebih relevan dengan masa depan anak. Program ini menunjukkan alternatif pembelajaran bermakna di luar ruang kelas: anak belajar sains interaktif, latihan mitigasi bencana sekolah, dan mengasah pemecahan masalah nyata tanpa bergantung pada teknologi. Dari rasa ingin tahu yang sederhana, Gramedia percaya dapat tumbuh generasi dengan cara berpikir kritis dan kreatif untuk menghadapi masa depan. Pertanyaannya bukan apakah event semacam ini perlu diulang, melainkan bagaimana sekolah mengambil prinsip yang sama: memberi ruang bereksperimen, menghubungkan sains dengan persoalan nyata, dan berani mengurangi layar. Jika sekolah mau belajar, ilmuwan cilik yang kritis tidak hanya muncul di ajang tahunan, tetapi tumbuh di setiap kelas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!