Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Hobi ke Bisnis: 3 Jalan Berbeda Menjadi Makeup Artist

Dari Hobi ke Bisnis: 3 Jalan Berbeda Menjadi Makeup Artist
Minat|Tutorial Makeup

Karier Makeup Artist: Bukan Sekadar Hobi Memoles Wajah

Karier makeup artist adalah perjalanan mengubah ketertarikan pada rias wajah menjadi profesi yang menghasilkan, melalui latihan teknis, pembangunan relasi dengan klien, dan pengembangan gaya rias khas yang dapat diandalkan untuk berbagai kebutuhan acara, konten, maupun bisnis kecantikan jangka panjang.

Jika dulu makeup sering dianggap sekadar hobi, kisah para MUA muda hari ini membantah anggapan itu. Mereka membuktikan bahwa bisnis MUA dari nol bisa menjadi sumber penghasilan, ruang ekspresi kreatif, sekaligus pintu menuju mimpi yang lebih besar seperti membangun brand kosmetik sendiri. Namun, penting menegaskan sejak awal: ini bukan jalan instan. Ada latihan, kegagalan, dan kompetisi ketat yang menunggu di depan.

Artikel ini mengulas tiga kisah sukses makeup artist dalam proses—Ema, Syifa’, dan Meilisa—yang datang dari latar berbeda: mahasiswa, istri yang didorong keluarga, dan hobbyist otodidak. Tiga jalur ini relevan bagi siapa pun yang ingin memulai karier makeup artist, entah masih kuliah, sudah menikah, atau baru berani mengakui bahwa hobi merias layak diperjuangkan.

Ema: Maba yang Serius Menjadikan MUA sebagai Karier dan Batu Loncatan Brand

Ema mematahkan stereotip bahwa mahasiswa baru hanya perlu fokus kuliah. Sebagai maba di UIN Raden Intan Lampung, ia justru merintis karier profesional sebagai makeup artist sejak awal masa studinya. Ia tidak menunggu “nanti kalau sudah lulus”, karena tahu industri kreatif bergerak cepat dan pengalaman lapangan jauh lebih mahal daripada sekadar teori.

Langkah awalnya pun tidak main-main: Ema mengikuti pelatihan intensif private makeup di Nadya Zulfa MUA Lampung pada 2025 sebagai fondasi teknis yang serius. Dari sana, ia mengembangkan pendekatan layanan yang unik: setiap klien diperlakukan seperti calon sahabat, sehingga hubungan tidak berhenti di kursi rias. Pendekatan personal ini bukan hanya membuat klien nyaman, tetapi juga membangun jaringan yang kuat—aset penting dalam karier makeup artist modern.

Yang menarik, Ema tidak berhenti pada jasa rias. Ia menargetkan untuk membangun brand kosmetik sendiri yang dikenal luas secara nasional. Ini menunjukkan cara berpikir jangka panjang: bisnis MUA dari nol bisa menjadi laboratorium riset pasar sebelum merilis produk. Pandangan ini relevan bagi generasi muda yang ingin naik kelas dari penyedia jasa menjadi pemilik ekosistem kecantikan.

Syifa’ Nuril Mushthafiyah: Arsy MUA dan Kekuatan Dorongan Keluarga

Tidak semua kisah sukses makeup artist berawal dari mimpi masa kecil. Syifa’ Nuril Mushthafiyah adalah contoh bahwa kadang karier datang dari dorongan orang terdekat. Ia mendirikan Arsy MUA di Blok Gundal, Dusun Blumbang, Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep, yang resmi berdiri pada 23 Juni 2026. Awalnya, ia bahkan tidak berencana terjun ke dunia MUA, sampai bujukan saudara-saudara suami membuatnya berani membuka usaha rias pengantin dan kecantikan sendiri.

Sebagai pendatang baru, ia tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit: membangun bisnis MUA sebagai pemula bukan perkara mudah, persaingan ketat, dan hasil belum maksimal. Namun alih-alih minder, Syifa’ menjadikan kompetisi sebagai pemicu untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas riasannya. Sikapnya terhadap klien pun dewasa: ia mengakui bahwa makeup adalah soal selera, dan tidak memaksakan semua orang harus cocok dengan gaya riasnya.

Kekuatan utama Syifa’ ada pada dukungan keluarga. Suaminya membantu tenaga dan biaya, bahkan saat ia khawatir tidak akan sukses. Nasihat sang suami—bahwa yang penting adalah usaha dan belajar sungguh-sungguh—menjadi bahan bakar mental ketika hasil belum seindah harapan. Di sini tampak jelas: bagi banyak perempuan, karier makeup artist bukan hanya soal skill, tetapi juga ekosistem dukungan yang membuat mereka berani memulai bisnis MUA dari nol.

Meilisa Ismatul Hawa: Dari Mainan Masa Kecil ke Passion Profesional

Berbeda dengan Ema dan Syifa’, Meilisa Ismatul Hawa tumbuh bersama makeup sejak kecil. Bagi perempuan 20 tahun ini, makeup bukan sekadar aktivitas mempercantik, melainkan hobi yang sudah dikenal sejak masa kanak-kanak dan terus diasah secara otodidak hingga sekarang. Sejak SD, ia sering bermain rias wajah bersama saudara dengan peralatan seadanya, dan dari permainan sederhana itu tumbuh rasa penasaran terhadap dunia tata rias.

Sebagai mahasiswi S-1 Administrasi Publik, ia belajar dari berbagai tutorial dan mempraktikkannya sendiri. Tentu tidak selalu mulus: ia pernah gagal merias untuk kelulusan SMA sampai alisnya disebut mirip alis Sinchan, yang membuatnya panik. Ia juga pernah menangis karena hasil riasan untuk sebuah acara tidak sesuai bayangan. Namun dari kegagalan itu, Meilisa menyimpulkan bahwa kemampuan merias hanya bisa tumbuh lewat latihan berulang dan keberanian untuk gagal.

Baginya, makeup adalah proses mencoba, belajar, gagal, lalu mencoba lagi. Meski cita-cita menjadi MUA profesional belum terwujud, ia menyimpan harapan untuk suatu hari menghasilkan riasan yang membuat dirinya sendiri takjub. Di sinilah pelajaran penting bagi para hobbyist: tidak semua orang harus langsung membuka bisnis, tetapi menumbuhkan passion yang konsisten adalah modal besar jika kelak ingin membangun karier makeup artist yang berkelanjutan.

Tiga Jalan Masuk ke Industri Makeup dan Pelajaran untuk Pemula

Jika disederhanakan, tiga kisah ini menggambarkan tiga pintu masuk ke industri makeup. Pertama, jalur mahasiswa seperti Ema yang sejak awal memosisikan diri sebagai profesional dan menjadikan karier MUA sebagai batu loncatan untuk membangun brand kosmetik sendiri. Kedua, jalur istri atau ibu rumah tangga seperti Syifa’ yang memulai bisnis MUA dari nol dengan dukungan keluarga, meski mengakui kerasnya persaingan dan beratnya menjadi pendatang baru. Ketiga, jalur hobbyist seperti Meilisa yang mengasah kemampuan secara otodidak sejak kecil dan menjadikan passion sebagai fondasi masa depan.

Apa benang merahnya? Tidak ada satu pun yang berjalan tanpa hambatan. Ada biaya belajar, kegagalan teknis, rasa minder, dan standar klien yang beragam. Namun mereka sepakat pada satu hal: karier makeup artist layak diperjuangkan karena industri kreatif berbasis hobi bisa menjadi sumber kebanggaan dan bernilai ekonomi tinggi. Bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejak mereka, langkah pertama bukan membeli produk termahal, melainkan berani memulai, terus belajar, dan jujur pada motivasi diri—apakah ingin sekadar ikut tren, atau sungguh membangun perjalanan profesional jangka panjang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!