Radio sebagai Rumah Asal Sheila On 7
Loyalitas band terhadap radio musik rock adalah pilihan sadar musisi yang tetap menggunakan platform musik tradisional yang membesarkan mereka, meski tersedia medium baru seperti podcast dan kanal digital yang menawarkan jangkauan luas dan format percakapan mendalam bagi generasi yang lebih muda. Keputusan Sheila On 7 untuk tetap memihak radio bukanlah nostalgia kosong, melainkan sikap politik budaya: mereka menunjukkan bahwa medium yang memberi panggung sejak awal tidak pantas ditinggal begitu saja ketika tren baru muncul. Saat merilis single “Sederhana”, Duta, Eross, dan Adam sengaja berkeliling ke sejumlah stasiun radio di Yogyakarta dan Jakarta, bukannya mengejar kursi tamu di podcast populer. Di tengah demam podcast dan konten video panjang, langkah ini terasa kontra-arus, namun justru di sanalah makna keputusan mereka menguat: menghormati jalur asal sebelum menambah kanal baru.

Momen ‘Dan’ dan Viral Organik Sebelum Era Digital
Alasan terdalam di balik loyalitas band radio milik Sheila On 7 berakar pada satu momen sederhana: pemutaran tak terduga lagu “Dan” oleh sebuah stasiun radio pada 1999. Label belum menetapkan “Dan” sebagai single kedua, namun penyiar mengambil risiko memutarnya, lalu pendengar merespons begitu kuat hingga radio lain ikut memutar lagu itu. Tanpa algoritma, tanpa trending list, “Dan” mengalami viral organik yang sepenuhnya digerakkan oleh telinga dan insting para penyiar. Eross menggambarkan momen itu seperti mendapatkan “ombak besar” yang tinggal mereka surfing, dan ia menutup dengan kalimat tegas: “Terima kasih radio.” Menurutnya, tanpa keberanian radio memilih sendiri materi siaran, jalan Sheila On 7 tak akan semulus hari ini. Viral pra-era digital itulah yang mengikat mereka pada radio, bukan sekadar sebagai kanal promosi, melainkan sebagai penentu nasib.

Utang Budi dan Ikatan Emosional dengan Media Tradisional
Eross Candra menggambarkan radio sebagai “orang tua” Sheila On 7 yang membukakan pintu ke dunia luas. Itu bukan metafora manis, melainkan pengakuan bahwa karier band bermula dari ruang siaran, mulai dari masa SMA sebagai band indie di Yogyakarta ketika lagu-lagu mereka sudah diputar radio lokal. Dari sana tumbuh ikatan emosional antara personel dan para insan radio yang tak bisa digantikan oleh format baru. Eross secara terang menyebut dirinya punya utang budi besar pada radio; ia merasa tanpa medium ini ia mungkin tak akan menjadi musisi papan atas. Di sinilah pilihan mengutamakan radio musik rock saat merilis karya baru menjadi sikap etis: membayar utang simbolik kepada ekosistem yang dahulu berani memberi mereka kesempatan. Ketika banyak musisi mengejar exposure di podcast, Sheila On 7 malah mengarsipkan penghargaan pada platform musik tradisional yang mengangkat mereka sejak nol.

Podcast untuk Generasi Muda, Radio untuk Warisan
Menariknya, Sheila On 7 tidak memusuhi podcast; mereka hanya menempatkannya untuk generasi yang lebih muda. Eross menyebut podcast sebagai medan yang tepat bagi musisi di bawah mereka untuk menemukan “ombak besar” versi zaman ini, sementara Sheila On 7 memilih tidak ikut berebut spotlight dengan yang baru. Di level personal, Eross mengaku tidak nyaman berbicara sepanjang waktu di depan kamera dan kurang suka banyak bicara, sehingga format podcast tidak cocok dengan kepribadiannya. Ia juga beberapa kali menolak undangan muncul di podcast besar, lagi-lagi karena merasa jalannya adalah radio. Sikap ini mengirim pesan jelas ke industri musik rock: bukan semua hal harus pindah ke medium baru. Ada nilai dalam membiarkan generasi muda memanfaatkan kanal modern, sementara veteran tetap merawat warisan media tradisional yang mengukir sejarah mereka.
Pelajaran dari Loyalitas Sheila On 7 terhadap Radio
Keputusan Sheila On 7 untuk memilih radio ketimbang podcast saat mempromosikan “Sederhana” adalah sikap yang layak dibaca sebagai kritik halus terhadap pola migrasi total ke media baru. Mereka menunjukkan bahwa kesetiaan pada platform musik tradisional tidak menghalangi relevansi; justru menambah kedalaman cerita band. Di tengah narasi industri yang sering menyanjung inovasi teknis dan algoritma, band ini menempatkan hubungan manusia—penyiar, pendengar, jaringan radio—aspek sentral perjalanan musik mereka. Loyalitas band radio bukan romantisme yang buta teknologi, melainkan pilihan sadar untuk membawa sejarah bersama ke masa depan. Bagi musisi lain, pelajarannya tajam: sebelum berlari mengejar setiap tren, berhenti sejenak dan bertanya, media mana yang telah membuka pintu pertama? Penghargaan pada pintu itu bisa menjadi identitas kreatif yang jauh lebih berharga daripada sekadar trafik baru.






