Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Peritel Pakaian Beralih ke Ekonomi Sirkular Fashion

Peritel Pakaian Beralih ke Ekonomi Sirkular Fashion
Minat|Industri Fashion

Dari Jual Putus ke Siklus Tertutup: Apa Itu Ekonomi Sirkular Fashion?

Ekonomi sirkular fashion adalah pendekatan bisnis di mana pakaian dirancang, diproduksi, digunakan, dikumpulkan kembali, lalu diolah menjadi produk bernilai guna baru sehingga material tekstil bertahan selama mungkin dalam sistem sebelum menjadi limbah. Konsep ini menantang kebiasaan ritel fashion yang selama ini hanya mengandalkan penjualan satu arah: kirim barang ke konsumen, lalu selesai. Peritel mulai menyadari bahwa tanggung jawab mereka berlanjut hingga fase pascapemakaian, ketika pakaian sudah keluar dari toko dan berada di lemari rumah. Konsep ekonomi sirkular mulai masuk ke strategi bisnis industri ritel pakaian, di mana perusahaan tidak hanya berfokus menjual produk, tetapi juga mengelola pakaian setelah digunakan konsumen agar tetap memiliki nilai guna.

Uniqlo Community Day: Contoh Nyata Daur Ulang Pakaian Bekas

Perg shift ke ekonomi sirkular fashion tidak lagi sekadar wacana; ia sudah muncul dalam program konkret di lapangan. Sepanjang tahun fiskal 2026, dari September 2025 hingga Agustus 2026, salah satu peritel besar menggelar berbagai program yang menyasar pengelolaan pakaian, pendidikan, kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan. Lewat RE.Uniqlo Community Day, terkumpul 12.000 pakaian layak pakai dari pelanggan yang kemudian disalurkan kepada 1.000 keluarga di Bekasi Barat. Kalimat yang layak dikutip dari program ini adalah: "Melalui RE.Uniqlo Community Day, sebanyak 12.000 pakaian layak pakai hasil kontribusi pelanggan disalurkan kepada 1.000 keluarga di Bekasi Barat". Di sisi lain, pakaian yang sudah tidak layak dipakai diolah bersama Pable menjadi 3.600 meter kain daur ulang dari 600 kilogram pakaian bekas.

Skala Masalah: 1,75 Juta Ton Sampah Tekstil per Tahun

Tanpa pengelolaan limbah tekstil yang serius, ekonomi sirkular fashion hanya menjadi label pemasaran. Data terbaru menunjukkan betapa besarnya tantangan yang harus dihadapi. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023 yang dikutip Direktorat Jenderal Perbendaharaan, sampah tekstil menyumbang sekitar 2,87 persen dari komposisi sampah nasional. Dengan asumsi total timbulan sampah nasional sekitar 70 juta ton per tahun, angka itu setara dengan 1,75 juta ton sampah tekstil. Kutipan penting dari data tersebut: "Sampah tekstil menyumbang sekitar 2,87 persen dari komposisi sampah nasional, setara sekitar 1,75 juta ton per tahun". Banyaknya sampah tekstil membuat pengelolaan pakaian dan kain bekas menjadi bagian kunci dalam upaya mengurangi timbulan sampah, bukan sekadar program CSR tambahan.

Daur Ulang dan Upcycling: Mengubah Limbah Menjadi Peluang Ekonomi

Kunci model bisnis berkelanjutan di sektor fashion adalah kemampuan mengubah pakaian bekas menjadi nilai baru, bukan berhenti di donasi. Daur ulang tekstil didefinisikan sebagai proses mengolah pakaian, kain, atau sisa bahan tekstil yang sudah tidak digunakan menjadi material atau produk lain yang masih memiliki nilai guna. Dalam praktiknya, pakaian bekas dapat diurai secara mekanis menjadi serat lalu dipintal kembali, atau diolah secara kimia, terutama untuk bahan sintetis seperti poliester dan nilon. Tidak semua tekstil kembali menjadi pakaian; sebagian dialihkan menjadi kain lap, bahan isian, material insulasi, bahkan kain baru. Ketika peritel mengolah 600 kilogram pakaian tidak layak pakai menjadi 3.600 meter kain daur ulang, mereka menunjukkan bahwa daur ulang pakaian bekas bisa menciptakan bahan baku baru dan memperpanjang umur ekonomi tiap potong kain.

Dampak ke Konsumen dan Masa Depan Model Bisnis Berkelanjutan

Perubahan model bisnis ini menggeser posisi konsumen dari sekadar pembeli menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular fashion. Program pengumpulan dan penyaluran pakaian membuat keluarga penerima manfaat langsung merasakan efeknya: 1.000 keluarga di Bekasi Barat mendapat 12.000 pakaian layak pakai melalui skema kontribusi pelanggan. Di sisi lain, artikel tentang pengelolaan limbah tekstil menekankan bahwa pakaian layak pakai sebaiknya digunakan kembali atau disalurkan, sedangkan yang rusak diarahkan ke proses daur ulang. Bagi masyarakat, langkah seperti memakai pakaian lebih lama, menyumbangkan pakaian yang masih layak, memperbaiki pakaian rusak, dan memisahkan tekstil dari sampah lain adalah bagian dari pengelolaan limbah tekstil yang efektif. Jika peritel konsisten mengintegrasikan penjualan dan pascapemakaian, model bisnis berkelanjutan di sektor fashion bukan lagi pengecualian, melainkan standar baru industri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!