Guruh di Mata Dewa Budjana: Maestro Sekelas Ravi Shankar
Topik utama artikel ini adalah cara Dewa Budjana memaknai sosok Guruh Soekarnoputra sebagai maestro visioner, melalui pengalaman personal, kolaborasi langsung, dan pembacaan filosofis terhadap karya-karya ikonik seperti “Indonesia Maharddhika” dan “Chopin Larung” yang membentuk pemahaman baru tentang warisan musik Nusantara dalam ranah pop modern. Kepergian Guruh, yang menghembuskan napas terakhirnya setelah perawatan intensif di rumah sakit dan dimakamkan di TPU Karet Bivak pada Sabtu 26 September 2026, menjadi pemicu derasnya refleksi para musisi, salah satunya Dewa Budjana. Bagi Budjana, duka ini bukan hanya kehilangan figur panutan, tetapi juga kehilangan kompas estetik yang selama puluhan tahun mengarahkan cara ia membaca tradisi dan modernitas. Dalam ucapannya seusai pemakaman, ia menegaskan, “Mas Guruh itu legend banget. Beliau adalah inovator yang memadukan budaya tradisi menjadi lagu pop. Belum pernah ada gantinya sampai sekarang.”

Indonesia Maharddhika: Akrostik Persahabatan dan Makna Tersembunyi
Bagi Dewa Budjana, “Indonesia Maharddhika” bukan sekadar lagu monumental; ia adalah peta kecil tentang bagaimana Guruh menenun makna, sejarah, dan persahabatan ke dalam satu komposisi. Lagu ini lahir dalam kolaborasi legendaris Guruh Soekarnoputra dengan Gipsy dan terangkum dalam album kultus “Guruh Gipsy”, yang sejak masa muda membentuk cakrawala musikal Budjana. Yang paling menyentuh Budjana adalah struktur bait awal berbahasa Kawi/Sanskerta dan bait lanjutan berbahasa Indonesia yang menyimpan akrostik nama para personel: Oding Nasution, Roni Harahap, Keenan Nasution, Abadi Soesman, Chrisye, hingga Guruh sendiri, berujung pada penanda “RI” di “Indonesia tercinta”. Detail akrostik ini mengubah cara kita membaca Indonesia Maharddhika makna: di balik retorika kebangsaan, ada arsip intim tentang jejaring kreatif yang ikut membangun suara pop progresif. Budjana mengaku pengaruh album ini terhadap perjalanan bermusiknya “luar biasa”, menancap kuat sebagai fondasi identitas artistiknya.

Chopin Larung dan Kritik Visioner atas Komersialisasi Budaya
Kalau “Indonesia Maharddhika” adalah manifesto kebangsaan, “Chopin Larung” adalah pamflet estetis tentang keberanian Guruh mengkritik arus zaman. Dewa Budjana melihat komposisi ini sebagai bukti paling terang kegeniusan sang maestro: elemen gamelan Bali, denting klasik Fryderyk Chopin, dan hentakan rock progresif disatukan tanpa kehilangan akar. Di mata Budjana, yang tumbuh di Bali, lagu ini bukan permainan gaya; ia adalah peringatan dini atas komersialisasi budaya Bali yang kini terasa kian nyata. Ia menegaskan bahwa kondisi Bali hari ini sudah dibaca Guruh sejak dulu dan dituliskan dalam karya itu, menunjukkan betapa jauh pandang seorang seniman yang ia sebut “visioner banget”. Di sini tampak filosofi musik Guruh: tradisi bukan benda mati yang dipajang, melainkan medan kritik dan refleksi sosial. Budjana menganggap garis inilah yang menyetarakan posisi Guruh dengan Ravi Shankar, yang juga memadukan musik tradisional India ke ranah musik Barat.

Kolaborasi Musisi Legendaris: Dari Lelaki Super hingga Rencana yang Tertunda
Hubungan Dewa Budjana Guruh Soekarnoputra tidak berhenti pada kekaguman dari kejauhan; ia berwujud dalam kolaborasi musisi legendaris yang memperkaya kanon pop Nusantara. Budjana mengenang bagaimana GIGI membawakan “Lelaki Super”, menafsir ulang karya Guruh di panggung besar, sekaligus merasakan langsung magis komposisi sang maestro. Ia juga menyebut proyek bersama mendiang Chrisye sebagai bagian dari jaringan kreatif yang mempertemukan generasi musisi dengan bahasa musik Guruh. Namun, cerita ini ikut diwarnai penyesalan: pada Oktober tahun lalu, Budjana telah merencanakan dan menjanjikan pertemuan khusus dengan Guruh untuk membuat konten wawancara tentang proses kreatif “Guruh Gipsy” dan filosofi perpaduan musik modern dengan budaya Nusantara. Takdir memutus rencana tersebut; pertemuan tak pernah terjadi hingga sang maestro berpulang. Di balik duka itu, terlihat betapa pentingnya dokumentasi lisan tentang cara seniman besar membaca zaman; kehilangan ini terasa sebagai celah dalam arsip sejarah musik.
Warisan Musik Nusantara dan Harapan untuk Swara Maharddhika
Ketika Dewa Budjana menyebut Guruh sebagai pelopor perpaduan musik tradisional dan modern di ranah pop, ia sedang berbicara tentang warisan musik nusantara yang tidak boleh berhenti di museum. Ia memakai analogi Ravi Shankar, yang memadukan tradisi India ke musik Barat, untuk menegaskan bahwa Guruh adalah orang pertama yang memadukan tradisi kita ke lagu pop secara sistematis. Warisan itu bukan hanya kumpulan lagu; ia mengambil bentuk kelembagaan melalui Swara Maharddhika, grup kesenian yang didirikan Guruh. Budjana berharap Swara Maharddhika tetap mampu berjalan tanpa kehadiran sang pendiri dan bahwa warisan budaya mendiang, termasuk kelompok ini, terus lestari dan abadi. Sikap ini mengandung pesan filosofis: menghormati maestro berarti menjaga ekosistem yang ia bangun. Tanpa regenerasi di Swara Maharddhika dan ruang-ruang serupa, gagasan besar Guruh—tentang jembatan antara tradisi dan modernitas—akan berubah menjadi nostalgia belaka, bukan praktek hidup. Di sinilah Budjana mengajak generasi baru untuk tidak sekadar mengidolakan, tetapi mengoperasikan warisan itu dalam karya mereka sendiri.






