Kenaikan Tipis yang Menutupi Rapuhnya Produksi Padi Sulawesi
Produksi padi Sulawesi adalah jumlah gabah kering giling yang dihasilkan wilayah ini dalam satu periode tertentu, yang menjadi indikator utama ketahanan pangan regional sekaligus penopang stok beras nasional, sehingga setiap perubahan angka produksi – baik kenaikan maupun penurunan – mencerminkan seberapa kuat sektor pertanian mampu bertahan terhadap gangguan seperti kemarau, kerusakan irigasi, dan fenomena iklim ekstrem yang berulang. Kenaikan produksi padi Sulawesi Selatan sepanjang Januari-September hanya 0,95 persen, dari 4,49 juta ton lebih menjadi 4.530.345,33 ton gabah kering giling. Angka ini kerap dibaca sebagai kabar baik: produksi tumbuh, luas panen bertambah 0,41 persen menjadi 873.241,16 hektare dan beras naik menjadi 2.599.676,84 ton. Namun, wajah pertanian di balik statistik itu jauh dari aman. Pertumbuhan yang tipis menunjukkan ketahanan produksi padi Sulawesi sekarang lebih mirip bertahan di garis tipis, bukan melonjak maju. Di tengah padi puso kemarau dan tekanan El Nino, angka positif ini berisiko membuat pemerintah terlena.

Padi Puso di Barru dan Bulukumba: Kemenangan Statistik, Kekalahan Petani
Di balik kenaikan produksi padi Sulawesi, cerita petani di lapangan justru menggambarkan kekalahan senyap. Tanaman padi puso kemarau – gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan – dilaporkan di berbagai kantong produksi dan menunjukkan bagaimana perubahan iklim sudah menyentuh titik paling rentan: tanaman menjelang panen. Sedikitnya 23 hektare padi di Labulo Bulo, Dusun Congko, Desa Siddo, Kecamatan Soppeng Riaja, Barru, berubah cokelat dan mengering karena kekurangan air hingga dikategorikan puso, yaitu kerusakan lebih dari 75 persen. Di Bulukumba, 662,17 hektare sawah terdampak kekeringan, dan 40,17 hektare di antaranya sudah puso. Sebagian padi yang mestinya menjadi beras terpaksa dialihkan menjadi pakan sapi. Singkatnya, produksi masih naik bukan karena musim baik, tetapi karena petani memaksa lahan terus mengeluarkan hasil di tengah risiko gagal panen yang melebar.
Bone, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Peran Bulog di Tengah Musim Kering
Tulang punggung produksi padi Sulawesi tetap bertumpu pada Bone, Wajo, Sidrap, dan Pinrang sebagai sentra utama gabah dan beras. Tanpa empat daerah ini, angka kenaikan 0,95 persen mungkin sudah tergerus oleh luas puso di wilayah lain. Namun mengandalkan beberapa sentra besar tanpa memperkuat wilayah rentan adalah strategi jangka pendek yang berbahaya. Di sisi hilir, Bulog bergerak cepat menyerap gabah setara beras hingga 687.000 ton atau 97,7 persen dari target 697.000 ton. "Setelah panen raya berakhir sekitar Oktober, produksi beras diperkirakan tidak sebanyak periode sebelumnya pada November hingga Februari," ujar pimpinan kantor wilayah perusahaan tersebut. Stok ini disiapkan untuk bantuan pangan awal tahun depan. Kebijakan serapan tinggi tampak melindungi konsumen, tetapi bila tidak diimbangi dukungan serius pada petani saat kemarau, kita hanya memindahkan beban dari sawah ke gudang.
Pelajaran dari Pesisir Selatan: Target Produksi Padi yang Tersandung Irigasi dan El Nino
Kerap kali produksi padi Sulawesi dibahas seolah berdiri sendiri, padahal daerah lain menghadapi pola tekanan iklim yang sama. Pesisir Selatan, misalnya, masih mengejar target produksi padi 193.000 ton gabah, sementara hingga Agustus baru sekitar 160.000 ton tercapai sehingga ada 33.000 ton yang harus dikejar hingga akhir tahun. Target produksi padi di sana bukan hanya perkara tanam lebih luas, tetapi memaksa sistem pengairan yang rapuh bekerja lebih keras. Target tersebut dibarengi sasaran luas tanam 41.000 hektare dan dukungan 22.000 hektare lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Namun sekitar 60 persen dari bendungan dan jaringan pengairan yang menjadi kewenangan pusat dan provinsi dilaporkan mengalami kerusakan, sementara El Nino dan bencana alam terus mengganggu ketersediaan air. Fenomena ini memperjelas satu hal: tanpa infrastruktur irigasi yang tahan terhadap tantangan pertanian iklim ekstrem, target produksi hanyalah angka di atas kertas.
Mengubah Kenaikan Tipis Menjadi Ketahanan Pangan Nyata
Kenaikan 0,95 persen produksi padi Sulawesi layak diapresiasi sebagai bukti bahwa petani dan sistem pertanian belum tumbang oleh kemarau dan El Nino. Namun, menjadikan angka itu sebagai tanda aman jelas menyesatkan. Padi puso di Barru dan Bulukumba, konflik pembagian air di Pinrang, serta kesulitan Pesisir Selatan mengatasi kerusakan irigasi dan gangguan iklim menunjukkan bahwa fondasi produksi masih rapuh. Solusinya bukan sekadar menggenjot luas tanam dan serapan gudang. Program seperti Nagari Kanyang yang menguatkan ekosistem dari prapanen hingga pascapanen perlu dipandang sebagai contoh arah kebijakan yang lebih sehat. Pemerintah daerah Pesisir Selatan bahkan menyiapkan proposal bantuan sekitar Rp80 miliar ke pemerintah pusat untuk benih padi dan jagung serta alat dan mesin pertanian, masing-masing sekitar Rp20 miliar dan Rp60 miliar. Mengubah kenaikan tipis menjadi ketahanan pangan nyata mensyaratkan satu hal: investasi serius pada adaptasi iklim, bukan sekadar perayaan statistik panen.






