Gelombang Baru: Data Center AI Jadi Arena Perebutan Saham Teknologi Lokal
Bisnis data center AI infrastruktur adalah pengembangan dan pengoperasian pusat data berkapasitas tinggi yang dirancang khusus untuk menyimpan, mengelola, dan memproses data serta beban kerja kecerdasan buatan, termasuk komputasi intensif, layanan cloud, dan otomasi proses bisnis berbasis AI bagi perusahaan berbagai sektor. Gelombang ini kini menjadi panggung baru bagi saham teknologi lokal. PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) resmi mengubah fokus usaha menjadi penyedia layanan pusat data kecerdasan buatan setelah pemegang saham menyetujui perubahan usaha dan aksi korporasi dalam RUPSLB dan RUPS Independen pada 7 September. Pada saat yang sama, PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) mendorong adopsi Agentic AI sebagai mesin pertumbuhan baru. Kombinasi ekspansi pusat data dan Agentic AI adopsi bisnis membuat sektor ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan arena spekulasi valuasi dan konsolidasi modal yang agresif.

MGLV: Pivot Agresif, Rights Issue Besar, dan Euforia Valuasi
MGLV memilih strategi “all-in” ke data center AI infrastruktur. Perusahaan yang dulu bergerak di lini berbeda ini kini mengubah kegiatan usaha ke sektor pusat data kecerdasan buatan dan merapikan portofolio bisnisnya melalui divestasi anak usaha lama. Langkah tersebut disokong rights issue maksimal 285.732.512 saham baru untuk mendanai arah bisnis baru. Ini jelas bukan pivot kosmetik, melainkan reposisi total menuju ekspansi pusat data. Pasar merespons dengan antusias: hingga 7 September, saham MGLV berada di Rp13.500 per lembar, naik lebih dari 450 persen sejak awal tahun. “Perseroan menyatakan pengembangan bisnis pusat data diharapkan dapat mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan”. Namun lonjakan ini juga menandakan risiko: ekspektasi sudah dipasang pada level tinggi, sementara eksekusi data center AI adalah permainan modal besar dan disiplin operasional.

Ekosistem Modal: Jejak Boy Thohir dan Konsolidasi Kontrol
Kisah MGLV tidak hanya soal teknologi, tetapi juga mengenai siapa di belakangnya. Dalam struktur kepemilikan, emiten ini terhubung dengan jaringan bisnis Garibaldi “Boy” Thohir melalui PT Trinugraha Thohir yang memegang 2,25 persen saham dan PT Trinugraha Thohir Harmoni dengan 4,86 persen. Pengaruh modal tersebut berpadu dengan PT Nextier Datamate Center (NDC) sebagai entitas pengendali baru serta akuisisi PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC) beserta piutang terkait. Ini adalah konsolidasi agresif untuk mengamankan aset, kontrol, dan pipeline proyek data center AI. Strateginya jelas: bangun grup infrastruktur digital yang terintegrasi, dari entitas pengendali hingga operator pusat data. Bagi investor, kehadiran nama besar bisa menambah kepercayaan, tetapi juga mengisyaratkan bahwa permainan ini berada di tingkat “big capital”, bukan arena spekulasi ritel tanpa arah.
MTDL dan Agentic AI: Dari Hype ke Use Case Nyata
Sementara MGLV fokus pada fisik data center AI infrastruktur, MTDL memilih jalur yang lebih dekat ke kebutuhan bisnis sehari-hari: Agentic AI adopsi bisnis. Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan otonom yang mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tugas secara mandiri tanpa menunggu instruksi manusia terus-menerus. MTDL sudah mengembangkan lebih dari 100 use case, sebagian sudah masuk tahap produksi. Hasilnya, pada semester pertama 2026 bisnis Data & AI tumbuh 52 persen secara tahunan, sementara Hybrid AI yang mencakup Hybrid IT & Infrastructure melonjak 171 persen. “Oleh karenanya, seiring dengan semakin banyaknya use cases yang masuk ke tahap produksi… bisnis AI berpotensi menjadi salah satu growth engine Metrodata dalam 3–5 tahun mendatang”. Fokus pada dampak nyata—otomasi proses dan efisiensi operasional pelanggan—membuat strategi ini lebih tahan terhadap hype siklus pasar.

Dampak ke Pengguna dan Arah Pertumbuhan Infrastruktur Digital
Bagi perusahaan pengguna, ekspansi pusat data dan Agentic AI bukan sekadar jargon teknologi. Meningkatnya kebutuhan otomasi proses dan efisiensi operasional membuat layanan cloud, AI, dan data center berkapasitas tinggi menjadi kebutuhan dasar, bukan bonus. MGLV menyasar kebutuhan penyimpanan, pengelolaan, dan pemrosesan data untuk pemanfaatan AI, yang langsung menyentuh sektor finansial, manufaktur, hingga layanan publik. Riset menyebut kawasan ini berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan infrastruktur AI di Asia Tenggara seiring melonjaknya kebutuhan data center. Ini artinya pertumbuhan infrastruktur digital akan menjadi tulang punggung ekonomi digital. Namun, jika pemain lokal hanya mengejar valuasi tanpa memastikan keandalan layanan dan keamanan data, kepercayaan pasar bisa cepat berbalik. Dalam jangka menengah, pemenang sesungguhnya adalah mereka yang mampu menyeimbangkan ekspansi agresif dengan disiplin teknologi dan tata kelola.






