Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

KRI Sriwijaya-100 dan Politik Nama dalam Kebangkitan Maritim

KRI Sriwijaya-100 dan Politik Nama dalam Kebangkitan Maritim
Minat|Asia Tenggara

KRI Sriwijaya-100: Kapal, Nama, dan Ambisi Maritim Baru

KRI Sriwijaya-100 adalah kapal induk pertama Indonesia yang diberi nama untuk mengaitkan kemampuan tempur modern TNI Angkatan Laut dengan kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya sebagai kekuatan laut Nusantara, menjadikannya bukan sekadar platform militer, melainkan simbol politik identitas yang sengaja dipilih untuk menegaskan kembali orientasi negara kepulauan terhadap laut sebagai ruang kekuatan, sejarah, dan masa depan. Penetapan nama ini bukan keputusan administratif biasa, melainkan pesan strategis: era baru kekuatan laut harus lahir dengan ingatan kolektif pada kerajaan yang menguasai jalur perdagangan dan konektivitas antarpulau berabad-abad lalu. Peresmian nama KRI Sriwijaya-100 dipimpin Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis, dengan penjelasan resmi dari KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali bahwa pemilihan nama merujuk langsung pada Sriwijaya sebagai kerajaan maritim tertua dan terbesar di kawasan, lebih tua dari Majapahit. Dalam konteks ini, kapal induk pertama Indonesia sengaja diikat pada narasi kejayaan, bukan sekadar kelahiran aset baru. "Nama Sriwijaya dipilih karena merujuk pada salah satu kerajaan maritim terbesar yang usianya lebih tua dari Majapahit," tegas Muhammad Ali.

KRI Sriwijaya-100 dan Politik Nama dalam Kebangkitan Maritim

Mengapa Sriwijaya: Dari Jalur Perdagangan ke Jalur Kekuasaan Laut

Memilih nama Sriwijaya untuk kapal induk pertama Indonesia berarti menyandarkan modernisasi armada pada warisan maritim Nusantara yang paling kuat secara historiografis. Narasi resmi penamaan menekankan bahwa Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, berpusat di sekitar Palembang dan berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, dengan pengaruh politik, perdagangan, dan keagamaan yang luas. Lokasi strategis memungkinkan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan penting di Selat Malaka dan menjangkau Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga wilayah lain di Asia Tenggara. Di sini terlihat pilihan yang sadar: TNI Angkatan Laut tidak mengangkat nama tokoh atau konsep abstrak, melainkan entitas historis yang membuktikan bahwa kendali atas laut berarti kendali atas konektivitas dan kesejahteraan. Penguasaan jalur perdagangan laut dan kemampuan membangun jaringan hubungan antardaerah menjadikan Sriwijaya simbol penting dalam sejarah maritim dan landasan bagi gagasan negara kepulauan serta Wawasan Nusantara. Dengan kata lain, nama Sriwijaya di lambung kapal induk adalah deklarasi bahwa laut kembali dipandang sebagai urat nadi persatuan wilayah, bukan sekadar ruang operasi militer.

400 Prajurit dan Modernisasi Armada: Identitas Maritim yang Dioperasionalkan

Di balik nama historis, KRI Sriwijaya-100 adalah instrumen konkret modernisasi armada. Kapal induk pertama Indonesia ini sepenuhnya diawaki prajurit TNI Angkatan Laut dengan total 400 personel yang telah disiapkan. Di antara mereka terdapat ratusan awak yang memegang peran krusial, termasuk personel yang mendapat pelatihan di Italia sebelum pengibaran Merah Putih menggantikan bendera negeri asal kapal. Langkah ini memperlihatkan bahwa simbol sejarah diikat dengan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas manusia, bukan nostalgia kosong. KSAL Muhammad Ali menegaskan kapal dalam kondisi sangat baik dan siap dioperasikan, namun masih menunggu penyempurnaan sejumlah peralatan komunikasi versi Indonesia. Fakta ini penting secara politis: kapal induk pertama Indonesia tidak sekadar diimpor utuh, melainkan akan disesuaikan dengan doktrin, sistem, dan bahasa teknis sendiri. Penyesuaian ini adalah tahap mengoperasionalkan identitas maritim nasional ke dalam perangkat keras dan perangkat lunak pertahanan. Tradisi laut Nusantara dihubungkan dengan kru yang dilatih internasional dan sistem komunikasi domestik, menggambarkan identitas maritim yang bersifat terbuka, belajar, tetapi tetap ingin berdiri di atas kaki sendiri.

Nama sebagai Strategi: Dari Wawasan Nusantara ke Kapal Induk

Sejak kemerdekaan, sejarah Sriwijaya semakin sering dihadirkan dalam narasi pembangunan identitas nasional, termasuk sebagai salah satu landasan gagasan negara kepulauan dan Wawasan Nusantara. Penamaan KRI Sriwijaya-100 memanfaatkan narasi itu dan menggeser sejarah dari buku pelajaran ke dek kapal induk: Sriwijaya tidak lagi hanya kisah kejayaan masa lampau, tetapi simbol kekuatan maritim, persatuan wilayah, dan orientasi bangsa sebagai bangsa kepulauan. Dengan mengikat kapal induk pertama Indonesia pada nama ini, TNI Angkatan Laut mengirim pesan bahwa modernisasi alutsista adalah bagian dari proyek lebih besar: menghidupkan kembali imajinasi laut sebagai ruang persatuan dan kekuatan. Harapan yang dinyatakan KSAL jelas: melalui KRI Sriwijaya-100, Indonesia ingin mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti masa lalu. Di sini patut dikritisi bahwa kejayaan tidak dapat direduksi menjadi pengadaan satu kapal, betapapun strategisnya. Namun, sebagai langkah politik simbolik, penamaan ini masuk akal: nama Sriwijaya menjadi jangkar identitas dalam proses panjang membentuk postur kekuatan laut yang modern. "Harapannya dengan penamaan itu, kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu," ujar Muhammad Ali.

Kesimpulan: Sriwijaya di Lambung Kapal, Laut di Pusat Imajinasinya

Pada akhirnya, KRI Sriwijaya-100 memperlihatkan bagaimana kapal perang bisa menjadi teks politik: setiap baut dan tiap huruf namanya menuturkan ambisi kebangkitan maritim. Pemilihan nama Sriwijaya menghubungkan kapal induk pertama Indonesia dengan warisan maritim Nusantara, menegaskan bahwa kekuatan laut dipandang bukan hanya urusan senjata, tetapi juga ingatan kolektif dan identitas. Dengan 400 prajurit TNI Angkatan Laut yang siap mengoperasikan kapal dan rencana penyempurnaan sistem komunikasi versi Indonesia, simbol ini mendapat basis operasional yang nyata. Pertanyaannya ke depan bukan lagi apakah penamaan Sriwijaya tepat, melainkan apakah negara konsisten menjadikan laut sebagai pusat strategi pembangunan dan pertahanan. Jika konsistensi itu dijaga, kehadiran KRI Sriwijaya-100 bisa dibaca sebagai bab pembuka kebangkitan maritim baru: masa depan yang belajar dari Sriwijaya, tetapi tidak terjebak untuk sekadar memuja masa silam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!