Definisi Pergeseran: Dari Ponsel Konvensional ke Ponsel Lipat
Ponsel lipat adalah kategori smartphone dengan layar yang dapat dilipat sehingga menawarkan bentuk ringkas saat ditutup dan ruang layar yang lebih luas saat dibuka, yang kini diproyeksikan tumbuh jauh lebih cepat dibanding ponsel konvensional karena kombinasi inovasi desain, strategi produsen, dan perubahan perilaku konsumen di pasar ponsel global. Industri ponsel global sendiri diprediksi memasuki fase perubahan besar pada 2026, ketika ponsel biasa mulai kehilangan daya tarik sementara ponsel lipat justru mencatat pertumbuhan pesat. Di sisi lain, kelangkaan chip memori memicu kenaikan harga perangkat elektronik dan mengubah cara orang meng-upgrade HP mereka. Ini bukan sekadar tren teknis, melainkan titik balik yang memaksa konsumen dan produsen mengambil keputusan strategis: bertahan dengan bentuk lama, atau ikut arus smartphone lipat tren baru.

Ledakan Ponsel Lipat dan Penyusutan Ponsel Konvensional
Ponsel lipat 2026 diproyeksikan tumbuh hampir 30% per tahun, jauh di atas patokan 6% pada proyeksi sebelumnya menurut Nabila Popal dari IDC. Dalam kutipan yang layak dicatat, ia menyebut, “Tahun 2026 akan bergairah untuk kategori HP lipat dengan pertumbuhan tahunan diproyeksikan hampir 30%.” Sementara itu, pengapalan ponsel konvensional atau non-foldable justru turun 1,4%, dan pasar ponsel global secara keseluruhan bisa menyusut sampai 5% dalam skenario pesimistis. Artinya, permintaan ponsel secara total melemah, tetapi ponsel lipat menggerus pangsa dari perangkat bentuk klasik. IDC bahkan memprediksi kategori ini akan tumbuh dengan CAGR 17% hingga 2029, dibanding segmen konvensional yang kurang dari 1%. Smartphone lipat tren bukan lagi eksperimen; ia berubah menjadi motor pertumbuhan utama yang mendefinisikan ulang ekspektasi konsumen terhadap HP premium.
Strategi Produsen: Dari Lipat Tiga hingga Fokus AI
Perubahan di pasar ponsel global memaksa produsen mengubah strategi produsen ponsel mereka secara agresif. Momentum ponsel lipat didorong oleh semakin banyak pemain yang masuk, termasuk peluncuran Galaxy Z TriFold yang memperkenalkan ponsel lipat tiga ke pasar mainstream dan membangun momentum dari kesuksesan pendahulunya. Selain itu, perangkat berbasis HarmonyOS Next ikut meramaikan segmen ini dan memperluas pilihan ekosistem. Perhatian terbesar tertuju pada Apple yang diperkirakan baru memasuki pasar HP lipat pada akhir 2026, langkah yang dinilai bisa menjadi titik balik adopsi massal. Di sisi lain, ada produsen seperti Nothing yang memilih mengubah strategi penjualan, melakukan reorganisasi tim, mengubah sistem bisnis, dan mulai berfokus pada AI untuk menyesuaikan diri dengan tren pasar yang terus berubah pada 2026 dan seterusnya. Polanya jelas: teknologi lipat dan AI menjadi dua sumbu utama arah baru industri.
Kelangkaan Memori: Harga Naik, Siklus Upgrade Berubah
Optimisme terhadap ponsel lipat 2026 datang bersamaan dengan kabar kurang menyenangkan: kelangkaan chip memori, termasuk RAM, diperkirakan mendorong kenaikan harga komponen secara signifikan. Sejumlah analis memprediksi lonjakan harga ini bisa mengerek harga ritel perangkat elektronik hingga 20%. Dampaknya langsung terasa bagi pengguna: ponsel baru menjadi lebih mahal, sehingga banyak orang memilih mempertahankan perangkatnya lebih lama. IDC mencatat situasi ini berpotensi menekan permintaan, dengan pasar ponsel global menyusut hingga 5% pada skenario terburuk. Di tengah siklus upgrade yang memanjang, inovasi layar lipat menjadi alasan baru yang cukup kuat bagi sebagian konsumen untuk tetap meng-upgrade HP mereka meskipun biayanya naik. Namun bagi pengguna yang sensitif terhadap harga, kelangkaan memori menjadikan ponsel lipat yang berharga rata-rata lebih tinggi sebagai pilihan yang makin sulit dijangkau.
Apa Artinya Bagi Pembeli: Akhir Era Konvensional atau Evolusi?
Pertanyaannya: apakah ini akhir era smartphone konvensional? Angkanya menyarankan penyusutan, bukan kepunahan. Pengapalan ponsel biasa turun, tapi tetap mendominasi volume karena ponsel lipat masih produk niche dari sisi jumlah unit meski nilai ekonominya besar bagi produsen. Android diperkirakan menguasai 61% pasar ponsel lipat, disusul Apple 22% dan HarmonyOS Next 17%, mencerminkan perebutan ekosistem yang sengit. Bagi pembeli, pilihan akan makin terpolarisasi: apakah rela membayar lebih untuk desain lipat, multitasking superior, dan status, atau bertahan pada ponsel konvensional yang lebih terjangkau. Menurut Francisco Jeronimo, langkah Apple cenderung berperan sebagai katalis untuk adopsi kategori produk baru di pasar mainstream, yang berarti tekanan sosial untuk ikut tren akan meningkat. Kesimpulannya, era konvensional tidak tamat, tetapi berubah menjadi kelas “sewajarnya”, sementara ponsel lipat dan AI menjadi wajah baru segmen aspiratif.






