Ringkasan: Ponsel Lipat yang Benar-Benar Tahan 2 Hari
Galaxy Z Fold 8 dan Z Fold 8 Ultra adalah generasi ponsel lipat terbaru Samsung yang berfokus pada peningkatan daya tahan baterai, dengan klaim mampu bertahan lebih dari dua hari dalam skenario penggunaan realistis berkat kombinasi baterai berkapasitas lebih besar, efisiensi chipset terbaru, dan optimisasi software yang agresif pada konsumsi daya.
Esensinya sederhana: ini bukan lagi ponsel lipat yang harus hidup menempel ke charger. Berdasarkan data European Product Registry for Energy Labelling (EPREL), Galaxy Z Fold 8 mencatat 49 jam 10 menit, sedangkan Galaxy Z Fold 8 Ultra menyentuh 51 jam. Artinya, konsep daya tahan 2 hari bukan jargon pemasaran, melainkan angka yang terukur dengan metodologi terstandar yang meniru penggunaan nyata seperti browsing, streaming, gaming, panggilan, dan pesan.
Menjelang acara Unpacked pada 22 Juli 2026, bocoran soal baterai ini terasa seperti pernyataan sikap: Samsung ingin mengakhiri stereotip ponsel lipat boros energi dan menunjukkan bahwa form factor lipat bisa setangguh flagship candybar.
Angka EPREL: Lonjakan 25% yang Mengubah Pengalaman
Jika hanya melihat kapasitas, Galaxy Z Fold 8 diperkirakan memakai baterai 4.800 mAh dan Z Fold 8 Ultra 5.000 mAh, naik dari 4.400 mAh pada Z Fold 7. Kenaikannya tampak kecil: sekitar 9% untuk Z Fold 8 dan 13% untuk Ultra. Namun, lonjakan daya tahan baterai justru lebih dramatis.
Menurut data EPREL, “Galaxy Z Fold 8 mampu bertahan selama 49 jam 10 menit, sementara Galaxy Z Fold 8 Ultra mencapai 51 jam; pendahulunya hanya 40 jam 28 menit.” Itu setara peningkatan lebih dari 25% pada daya tahan baterai Galaxy Z Fold 8 baterai dibanding Z Fold 7. Dalam konteks ponsel lipat, lompatan seperti ini jarang terjadi tanpa pengorbanan besar di bobot atau dimensi.
Metodologi EPREL yang meniru skenario penggunaan dunia nyata membuat angka ini punya bobot lebih kuat ketimbang tes sintetis biasa. Untuk pengguna, artinya mode penggunaan intensif—multi-tasking di layar dalam, streaming di layar luar, hingga konferensi video—tidak lagi identik dengan kecemasan baterai siang hari. Ponsel lipat tahan lama di sini bukan klaim abstrak; ia hadir dalam jam pakai yang nyata.
Melampaui Kompetitor: Menang Efisiensi, Bukan Kapasitas
Data EPREL juga memposisikan Galaxy Z Fold 8 series dalam peta persaingan ponsel lipat tahan lama. Pixel 10 Pro Fold tercatat di 47 jam, sementara Huawei Mate X7 berada di 41 jam. Z Fold 8 dan Z Fold 8 Ultra unggul tipis namun konsisten atas keduanya, menandakan efisiensi energi yang lebih baik dalam kelas form factor buku.
Namun, peta ini tidak sepenuhnya dikuasai Samsung. Motorola Razr Fold mencatat 59 jam 17 menit, jauh di atas Z Fold 8 Ultra, berkat baterai 6.000 mAh dan chipset Snapdragon 8 Gen 5. Di sini terlihat jelas: strategi Samsung bukan mengejar kapasitas ekstrem, melainkan keseimbangan antara bodi yang masih realistis dan daya tahan 2 hari yang stabil.
Pendekatan ini terasa lebih rasional untuk pemakaian harian. Alih-alih membawa ‘power bank berjalan’ seperti Motorola, Samsung memilih paket yang lebih ramping tetapi cukup kuat untuk dua hari. Bagi banyak orang, titik manis ada di sini: baterai yang tahan lama tanpa membuat ponsel lipat terasa seperti batu bata mahal di saku.
Peran Chipset dan Software: Efisiensi sebagai Fitur Utama
Peningkatan daya tahan Galaxy Z Fold 8 baterai tidak bisa dijelaskan hanya oleh angka milliampere. Sumber menyebut, keunggulan ini kemungkinan besar berasal dari fitur terbaru pada chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang lebih hemat energi, disertai optimalisasi perangkat lunak Samsung. Di sinilah cerita sesungguhnya dimulai: efisiensi menjadi fitur utama, bukan sekadar bonus.
Galaxy Z Fold 8 Ultra, misalnya, membawa baterai 5.000 mAh dan pengisian cepat 45W yang lebih cepat dibanding 25W di generasi sebelumnya. Kombinasi ini mengubah pola pakai: isi daya kilat di pagi atau sore hari cukup untuk mengamankan dua hari produktivitas. Pengisian cepat 45W menjadi kunci agar kapasitas besar tidak mengorbankan waktu charging yang panjang.
Di sisi tampilan, panel internal yang lebih terang sampai 3.000 nits dan lapisan anti-silau membuat ponsel jauh lebih nyaman digunakan di bawah sinar matahari langsung. Biasanya, layar terang identik dengan konsumsi daya tinggi. Jika Z Fold 8 Ultra tetap tembus 2 hari dengan panel seterang ini, itu bukti bahwa manajemen daya level sistem—dari chipset, layar, hingga software—bekerja selaras, bukan sekadar ditambal lewat baterai besar.
Dampak ke Pengguna dan Masa Depan Foldable Samsung
Dari perspektif pengguna, klaim daya tahan 2 hari mengubah cara kita menilai ponsel lipat. Dengan baterai yang melebihi dua hari, Galaxy Z Fold 8 dan Z Fold 8 Ultra terlihat sebagai pilihan menarik bagi mereka yang sering bepergian atau enggan mengisi daya setiap hari. Ponsel lipat tahan lama bukan lagi kompromi, melainkan keunggulan.
Samsung sudah memastikan akan mengumumkan seri ini pada 22 Juli 2026, dengan kemungkinan ketersediaan antara 5–7 Agustus, mengikuti pola jeda 16 hari dari generasi sebelumnya. Pengguna bahkan dapat melakukan reservasi Galaxy Z8 baru untuk mendapatkan kredit Samsung senilai USD 30 (approx. Rp480.000) selama periode pre-order, dengan potensi penghematan hingga USD 1.230 (approx. Rp19.680.000).
Varian Ultra diperkirakan mulai dari USD 2.099 (approx. Rp33.584.000), naik USD 100 (approx. Rp1.600.000) dari Galaxy Z Fold 7, dan dapat menembus sekitar USD 2.599 (approx. Rp41.584.000) untuk konfigurasi 16GB/1TB. Harga ini memang tinggi, tetapi mengingat paket yang ditawarkan—layar nyaris tanpa lipatan, kamera 200MP, pengisian cepat 45W, dan daya tahan 2 hari—Samsung seperti berkata: kalau mau ponsel lipat yang benar-benar bisa menggantikan laptop ringan dan dua hari baterai, inilah tiket masuknya.






