Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

FoMO pada Generasi Muda dan Krisis Tenang di Era Media Sosial

FoMO pada Generasi Muda dan Krisis Tenang di Era Media Sosial
Minat|Kesehatan Mental

FoMO pada Generasi Muda: Ketakutan Ketinggalan yang Menguras Jiwa

FoMO pada generasi muda adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas, terancam, atau kurang berharga karena meyakini orang lain sedang mengalami pengalaman penting, menyenangkan, atau berharga tanpa kehadirannya, sehingga memicu dorongan kuat untuk terus terhubung dan tidak ketinggalan tren atau pencapaian orang lain.

Pada mahasiswa Gen Z, FoMO bukan sekadar takut tidak tahu gosip terbaru; ia menjadi pola pikir bahwa hidup harus selalu up to date. Media sosial hadir hampir di setiap jeda aktivitas, dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi, membuat mereka terus membuka Instagram, TikTok, atau WhatsApp untuk melihat kabar teman, info kuliah, dan tren yang sedang ramai. Ketakutan ketinggalan tren ini sering diakui secara santai lewat kalimat, “takut ketinggalan, makanya scroll terus”. Masalahnya, di balik candaan itu ada sinyal jelas: banyak anak muda tidak lagi merasa tenang jika tidak tahu apa yang sedang terjadi.

FoMO pada Generasi Muda dan Krisis Tenang di Era Media Sosial

Mekanisme Psikologis: Dari Kebutuhan Diakui hingga Kecemasan Media Sosial

FoMO pada generasi muda tidak muncul dari ruang hampa; ia berakar pada kebutuhan psikologis yang sangat manusiawi. Dalam perspektif kebutuhan, rasa memiliki dan kebutuhan akan penghargaan menjadi bahan bakar utama. Mahasiswa baru, misalnya, berada di lingkungan sosial yang sepenuhnya baru. Saat belum merasa benar-benar diterima, mereka memantau kegiatan teman lewat media sosial sebagai cara agar tidak merasa terpisah dari kelompok dan tetap merasa terhubung.

Di sisi lain, media sosial menampilkan sisi paling menyenangkan dari kehidupan orang lain: nongkrong, liburan, prestasi akademik, hingga diterima di kampus favorit. Paparan ini mendorong perbandingan sosial yang melelahkan. Mahasiswa yang melihat teman berkegiatan bersama tanpa dirinya menjadi cemas dan sedih; sebagian merasa bingung ketika tidak paham video viral yang sedang dibicarakan. Perasaan tertinggal ini memicu kecemasan media sosial, perbandingan diri, dan rasa kesepian yang berulang dalam sehari karena media sosial dapat dibuka kapan saja.

Tekanan Sosial Digital: Hidup Serasa Lomba Kecepatan

Tekanan sosial digital membuat hidup terasa seperti lomba siapa paling cepat mencapai milestone. Istilah FoMO menggambarkan perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian orang lain, dan perasaan ini semakin mudah muncul ketika kita terus melihat perkembangan kehidupan teman melalui media sosial. Saat teman sebaya mulai menikah, punya anak, atau menempati posisi strategis di tempat kerja, banyak anak muda merasa harus segera menyusul langkah yang sama, seolah ada jam tak terlihat yang terus menghitung mundur.

Kecemasan media sosial ini berbahaya karena mendorong keputusan besar yang terburu-buru: memilih pekerjaan, menikah, atau mengambil komitmen jangka panjang tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan diri. FoMO berubah dari rasa ingin tahu menjadi tekanan sosial digital yang mengatur standar hidup: kapan harus sukses, kapan harus mapan, kapan harus “dewasa”. Padahal, kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa paling cepat mencapai suatu pencapaian; setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berkembang.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Mental Gen Z

FoMO yang dibiarkan tanpa disadari pelan-pelan menggerus kesehatan mental Gen Z. Perasaan bahwa orang lain selalu mengalami hal berharga tanpa dirinya memicu kecemasan, perbandingan diri, dan rasa kesepian. Ketika setiap unggahan teman dibaca sebagai bukti bahwa hidup sendiri tertinggal, harga diri ikut menurun. Mahasiswa yang melihat temannya diterima di universitas favorit, misalnya, bisa merasa murung dan meragukan kemampuan diri.

Tekanan ini tidak berhenti pada rasa cemas sesaat. FoMO dapat mendorong seseorang mengambil keputusan penting secara terburu-buru, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan diri, yang pada akhirnya berpotensi memicu penyesalan, kelelahan emosional, bahkan gejala depresi. Perasaan harus selalu terhubung dan selalu tahu membuat otak jarang beristirahat. Hidup pun berubah menjadi rangkaian pembuktian, bukan perjalanan belajar. Jika pola ini terus berulang, FoMO bukan lagi sekadar takut ketinggalan tren, melainkan pola hidup yang menjauhkan generasi muda dari rasa cukup dan tenang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!