Pelita: Saat CSR Pelabuhan Menyentuh Akar Masalah Stunting
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Pelita adalah inisiatif PT Pelindo Sinergi Lokaseva yang memfokuskan dukungan perusahaan pelabuhan pada pencegahan stunting melalui kombinasi intervensi gizi, edukasi keluarga, dan pendampingan kesehatan yang terarah bagi anak, orang tua, dan ibu hamil di komunitas sekitar pelabuhan.
Pesan paling penting dari perluasan program Pelita adalah sederhana: pencegahan stunting di wilayah pesisir tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pemerintah semata, melainkan menjadi ujian nyata kesungguhan tanggung jawab sosial perusahaan. PT Pelindo Sinergi Lokaseva (PSL) memperluas Program TJSL Pelita (Pelindo Lingkungan Tanpa Anak Stunting) 2026 dengan menyasar 30 anak stunting, 30 orang tua atau wali, dan 25 ibu hamil di Kelurahan Rawa Badak Utara, Jakarta Utara. Langkah ini menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat pelabuhan bukan sekadar dampak sampingan operasional, tetapi agenda inti CSR.
Program ini tidak berdiri sendiri; enam entitas Pelindo Group terlibat dan memfokuskan intervensi pada gizi, edukasi keluarga, serta pendampingan kesehatan untuk memperkuat pencegahan stunting secara berkelanjutan. Artinya, Pelindo sedang menguji model baru pencegahan stunting pesisir: korporasi hadir bukan hanya sebagai donatur, melainkan bagian dari ekosistem kesehatan masyarakat.
Intervensi 1.000 HPK: Mengapa Pendekatan Pelita Layak Diduplikasi
Kekuatan program Pelita 2026 ada pada keberanian memusatkan intervensi di periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), fase yang kerap disebut sebagai jendela emas mencegah stunting. Dewi Fitriyani menegaskan bahwa stunting "bukan hanya persoalan pertumbuhan anak, tetapi juga menyangkut masa depan generasi bangsa" dan karenanya intervensi harus menyasar anak, orang tua, dan ibu hamil sekaligus.
Secara praktis, program Pelita 2026 memberikan makanan tambahan bergizi dan pemantauan tumbuh kembang secara intensif kepada 30 anak penerima manfaat. Di saat yang sama, 30 orang tua atau wali mendapatkan edukasi pola asuh sehat serta pelatihan pengolahan bahan pangan lokal yang ekonomis dengan tetap menjaga nilai gizi. Pendekatan ini jelas melampaui pola CSR karitatif yang berhenti pada pembagian paket sembako.
Intervensi nutrisi juga menjangkau 25 ibu hamil melalui pemberian vitamin untuk mendukung kecukupan gizi sejak masa kehamilan. Dengan menjadikan ibu hamil sebagai bagian strategi, Pelindo mengakui bahwa pencegahan stunting pesisir dimulai jauh sebelum anak lahir. Ini sekaligus menguatkan dukungan Pelindo terhadap upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting dan membangun sumber daya manusia yang sehat dan berdaya saing.
Dari Rawa Badak ke Pelabuhan Lain: TJSL Pelindo sebagai Platform Kesehatan Publik
Perluasan Pelita di Rawa Badak Utara hanya satu sisi dari gambaran yang lebih luas: Pelindo sedang mengubah program CSR-nya menjadi platform kesehatan masyarakat pelabuhan. Di lini lain, Pelindo Multi Terminal, anak usaha Pelindo yang mengelola terminal nonpetikemas, memperkuat kontribusi sosial dan lingkungan melalui program TJSL yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar wilayah operasional. Inisiatif ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan sedang bergerak ke arah agenda kesehatan publik yang lebih jelas.
Pada aspek kesehatan masyarakat pelabuhan, Pelindo Multi Terminal melaksanakan Pemeriksaan Kesehatan Balita dan Lansia di Branch Trisakti, menyasar wilayah Mantuil Basirih RT 16 dan RT 17, dengan 75 balita dan 75 lansia mengikuti pemeriksaan kesehatan secara lebih mudah sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan sejak dini hingga lanjut usia. Program ini memperlihatkan pola yang sama dengan Pelita: layanan langsung, dekat dengan komunitas, dan menyasar kelompok rentan.
Keterkaitan kesehatan dan lingkungan juga tampak dalam kegiatan Cek Emisi Kendaraan yang diikuti 100 unit truk sebagai upaya mendukung pengendalian dampak lingkungan dari aktivitas transportasi dan meningkatkan kepedulian terhadap kualitas udara. Bila Pelita menekankan gizi dan 1.000 HPK, maka program kesehatan dan lingkungan lain di pelabuhan memperluas tafsir kesehatan masyarakat pelabuhan menjadi lebih komprehensif, mencakup udara yang dihirup warga dan aktivitas logistik sehari-hari.
Sinergi Sosial-Lingkungan: Menguji Kesungguhan CSR Pelindo
Program CSR Pelindo hari ini layak dibaca sebagai eksperimen serius menyatukan tanggung jawab sosial perusahaan dengan agenda kesehatan masyarakat. Melalui penataan lingkungan, pemberdayaan UMKM, edukasi pencegahan narkoba, pemeriksaan kesehatan, dan pengendalian dampak lingkungan, Pelindo Multi Terminal mengarahkan TJSL untuk mendorong lingkungan yang lebih tertata, membuka ruang pengembangan UMKM, meningkatkan kepedulian kesehatan dan lingkungan, dan membangun kesadaran generasi muda.
VP TJSL Pelindo Multi Terminal, Zulhendri, menekankan bahwa program TJSL perusahaan dimaksudkan untuk menghadirkan kontribusi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat dan mendorong masyarakat untuk tumbuh dan bergerak bersama. Ini selaras dengan semangat Pelita yang tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi memperkuat kapasitas keluarga untuk menjaga tumbuh kembang anak. Jika konsisten, Pelindo sedang membangun model CSR yang menempatkan kemandirian masyarakat sebagai hasil utama, bukan sekadar citra perusahaan.
Yang perlu dijaga adalah agar program stunting dan kesehatan masyarakat pelabuhan tidak terjebak menjadi rangkaian acara seremonial. Komitmen Pelindo Multi Terminal untuk terus mengembangkan program TJSL yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar dan memperkuat aspek sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan sebagai bagian dari pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan menjadi janji yang patut diawasi publik. Pelita telah menunjukkan arah yang tepat; tantangannya adalah memperluas skala, mempertahankan kedalaman, dan memastikan dampak nyata bagi generasi anak pesisir.






