Prestasi yang bertumpu pada kerja bersama
Prestasi seni Gresik adalah hasil kerja kolektif para kader dan pelajar yang mengubah latihan, kreativitas, serta kesempatan tampil menjadi capaian dan pengalaman bersama. Di Femme Fest 2026, kontingen PC Fatayat NU Gresik membawa pulang tiga penghargaan: Senam Kreasi meraih Juara 2, sedangkan qasidah rebana Nawara dan Puspa Nusantara Choir masing-masing meraih Juara Harapan 1. Hasil itu patut dibaca lebih luas daripada urutan pemenang. Kontingen Gresik masuk lima terbaik se-Jawa Timur, sementara kekompakan antarkader menjadi bekal yang tak kalah penting dari piala. Capaian tersebut menunjukkan bahwa ruang seni dapat mempertemukan kemampuan individu dengan kerja tim. Bagi Fatayat NU Gresik, partisipasi ini juga diharapkan mendorong kader terus belajar, mengasah keterampilan, dan mengembangkan diri dalam kegiatan bersama.

Nawara menuntaskan persiapan singkat
Di balik Juara Harapan 1 tingkat Jawa Timur, qasidah rebana Nawara dari PAC Fatayat NU Bungah menghadapi perubahan tuntutan saat memasuki final Femme Fest, yang digelar pada 1 November 2026. Tim beranggotakan 11 orang—10 pemain rebana dan seorang vokalis—harus menyiapkan dua lagu final setelah hanya membawakan satu lagu di babak penyisihan. Waktu untuk mematangkan penampilan pun terbatas: persiapan berlangsung lima hari, tetapi latihan dengan anggota lengkap hanya bisa dilakukan selama tiga hari. Tantangan menyatukan jadwal di tengah kesibukan tidak membuat mereka mundur. Mereka mengandalkan komitmen dan saling menguatkan untuk memberi penampilan terbaik. Kisah Nawara mengingatkan bahwa hasil kompetisi tidak selalu mencerminkan seluruh nilai proses: pengalaman, solidaritas, dan kesempatan mengembangkan bakat seni budaya Islami juga menjadi capaian yang layak dibawa pulang.

Latihan malam berbuah juara senam
Juara 2 Lomba Cipta Senam Kreasi diraih perwakilan PC Fatayat NU Gresik melalui PAC Fatayat NU Cerme dalam Femme Fest pada 1 November 2026. Di balik hasil itu ada enam anggota yang memilih berlatih setiap malam, sebab pekerjaan membuat mereka sulit berkumpul pada siang hari. Pilihan tersebut memperlihatkan sisi nyata dari senam kreasi Fatayat: prestasi tidak datang dari semangat sesaat, tetapi dari upaya mencari waktu bersama dan menjaga kekompakan di tengah tanggung jawab sehari-hari. Tim Cerme melewati babak penyisihan hingga final dengan energi dan kerja sama yang solid. Nurul Imamah, ketua PAC Fatayat NU Cerme, menekankan arti kebersamaan dan komunikasi selama persiapan. Pengalaman ini memberi alasan untuk menghargai proses di balik medali: keberhasilan mengatur waktu dan saling memahami menjadi modal yang bisa dibawa ke kegiatan berikutnya.
Panggung seni juga milik pelajar madrasah
Kreativitas Gresik tidak berhenti di festival kader. Grup Tari MA Ma’arif NU Sidomukti, Kecamatan Kebomas, turut memeriahkan Final HSN Soccer League 2026 pada 30 Oktober di Lapangan Mini Soccer Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya. Di tengah acara yang berpusat pada kompetisi olahraga, penampilan mereka memberi ruang bagi siswa untuk tampil dan menunjukkan bakat seni budaya. Kehadiran grup tari ini penting karena pendidikan madrasah semestinya tidak membatasi keberhasilan pada prestasi akademik dan keagamaan. Kepala madrasah Nurul Chabibah menyatakan bahwa siswa ingin menunjukkan kemampuan untuk berkarya dan berkreasi di ruang publik. Dukungan semacam ini dapat memperkuat rasa percaya diri pelajar sekaligus membuka lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan bakat. Baik kader Fatayat maupun siswa madrasah, mereka menunjukkan bahwa seni tumbuh ketika komunitas menyediakan panggung dan memberi ruang untuk berlatih.
Kesimpulannya, prestasi seni Gresik lahir dari perpaduan kesempatan tampil dan ketekunan yang sering berlangsung jauh dari panggung: latihan malam Cerme, persiapan singkat Nawara, serta ruang ekspresi yang diterima para penari MA Ma’arif NU Sidomukti. Penghargaan Femme Fest menjadi dorongan bagi kader untuk terus mengembangkan potensi dan berkarya bersama. Sementara itu, kesempatan tampil di Final HSN Soccer League diharapkan membuat siswa semakin percaya diri dan mendorong madrasah terus mengembangkan kualitas pendidikan. Langkah berikutnya bukan sekadar mengejar gelar baru, melainkan menjaga kesinambungan latihan dan membuka panggung yang lebih luas. Itulah cara agar prestasi tidak berhenti sebagai kabar baik sesaat, tetapi menjadi bagian dari tumbuhnya seni dan kreativitas komunitas.







