Hackathon yang menguji gagasan di dunia nyata
Hackathon AI inovasi adalah ruang kerja intensif tempat peserta merancang dan menguji solusi berbasis teknologi untuk persoalan nyata, bukan sekadar memamerkan gagasan. Prinsip itu tampak dalam IDLS Student Hackathon 2026 yang digelar Program Studi Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia pada 17 Oktober, sebelum konferensi utama berlangsung keesokan harinya di Depok. Bertajuk “Meaningful AI & Digital Innovation Challenge”, kompetisi ini mengajak mahasiswa mengembangkan solusi untuk produktivitas organisasi, dampak publik, serta keamanan dan kepercayaan digital. Penekanan pada pemahaman masalah dan kebutuhan pengguna membuat kompetisi lebih bernilai daripada lomba membuat purwarupa semata. IDLS mengusung tema transformasi digital dan AI, tetapi membuka konferensinya bagi masyarakat umum, termasuk profesional, pimpinan organisasi, akademisi, alumni, mahasiswa, dan siapa pun yang tertarik pada teknologi tersebut. Inilah bentuk transformasi digital kampus yang mempertemukan pembelajaran dengan persoalan dan pengalaman implementasi dari pemerintah serta industri.
BALIDIGIFEST membawa riset kampus ke tahap hilirisasi
Jika IDLS menguji solusi lewat kompetisi, BALIDIGIFEST 2026 memperluas percakapan tentang bagaimana pengetahuan kampus dapat menjadi inovasi digital yang berguna. Roadshow yang menjadi bagian dari agenda Pemerintah Provinsi Bali ini menghubungkan kampus, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan kreativitas lokal; Primakara University bertindak sebagai penyelenggara. Rangkaian kampus dijadwalkan di INSTIKI pada 14 Oktober, Undiknas pada 20 Oktober, serta UNHI dan ISI Bali pada 21 Oktober 2026. Topiknya merentang dari pemanfaatan AI untuk budaya Bali hingga sistem cerdas. Di Undiknas, agenda mencakup perancangan sistem siber-fisik untuk mengubah masalah lapangan menjadi purwarupa cerdas, serta strategi hilirisasi melalui bisnis, adopsi masyarakat, dan kolaborasi lintas disiplin. Cakupan ini penting: program akademik industri seharusnya tidak berhenti pada seminar, tetapi membantu mahasiswa memahami siapa yang akan memakai inovasi dan bagaimana inovasi itu dapat diterapkan. Kreativitas digital pun dapat tumbuh dengan tetap memperhatikan konteks serta nilai lokal.
Salemba Ventures menjaga ide tetap bergerak
Kompetisi dan roadshow hanya menjadi jembatan jika karya mahasiswa mendapat ruang untuk berkembang setelah acara usai. Karena itu, peresmian Salemba Ventures dalam rangkaian IDLS patut diperhatikan: komunitas independen ini dirancang membantu mahasiswa dan alumni MTI UI membawa ide, hasil pembelajaran, penelitian, maupun startup mandiri menuju usaha yang lebih matang. Dukungan yang direncanakan meliputi validasi pasar, pengembangan produk, pemetaan kebutuhan tim, serta akses ke mentor, calon pelanggan, dan calon pendana. Inilah bentuk inkubasi venture yang berpotensi mengubah startup teknologi mahasiswa dari proyek sesaat menjadi upaya bisnis yang teruji. Namun, batasnya perlu jelas: Salemba Ventures bukan perusahaan modal ventura ataupun unit struktural UI atau Komdigi, sementara kolaborasi yang dijajaki untuk mendukung kekayaan intelektual, pendampingan, dan akses pasar masih menunggu kesepakatan. Jadi, kedua program menawarkan awal yang menjanjikan, bukan jaminan komersialisasi. Ukuran keberhasilannya kelak ialah apakah solusi kampus terus diuji, dipakai, dan dikembangkan bersama industri lokal.






