Phocus Mobile di Android: Medium Format Masuk ke Saku Pengguna
Hasselblad Phocus Mobile Android adalah aplikasi editing profesional pendamping kamera medium format yang memungkinkan fotografer mengimpor, mengelola, dan mengedit foto RAW 100 MP langsung dari smartphone tanpa bergantung pada komputer, sekaligus mempertahankan karakter warna khas Hasselblad dari tahap preview hingga ekspor akhir.
Hasselblad resmi memperluas ekosistem fotografi mobile dengan merilis Phocus Mobile V1.0.0 untuk perangkat Android, setelah lama mengunci workflow mobile mereka di ekosistem Apple. Langkah ini bukan sekadar peluncuran aplikasi baru, tetapi pengakuan bahwa fotografer medium format tidak lagi selalu duduk di depan desktop. Kini, pengguna X2D II 100C, X2D 100C, serta 907X & CFV 100C bisa membawa seluruh workflow Hasselblad di dalam saku mereka, dari preview hingga ekspor, tanpa melewati laptop sama sekali. Ini mengakhiri era di mana pemilik kamera puluhan megapiksel terjebak pada satu platform dan membuka pintu bagi basis pengguna Android yang lebih besar untuk menikmati workflow resmi Hasselblad.

Dari Studio ke Lapangan: Edit Foto RAW 100 MP Tanpa Komputer
Esensi perubahan terbesar di sini sederhana: workflow medium format yang dulu statis kini menjadi mobile. Melalui Hasselblad Phocus Mobile Android, fotografer dapat mengimpor foto via WiFi atau USB‑C, melihat, mengelola, mengedit, hingga mengekspor langsung dari ponsel tanpa berpindah ke komputer. Bagi pekerja lapangan—entah wedding photographer, fotografer komersial, atau landscape yang berpindah lokasi—ini adalah penghematan waktu sekaligus kelegaan mental. Proses seleksi, rating, sampai finishing bisa diselesaikan di lokasi pemotretan, bukan lagi menunggu kembali ke studio.
Kapasitas teknisnya juga bukan gimmick: aplikasi ini sanggup menangani file RAW 100 MP, lengkap dengan proses AI noise reduction yang memakan sekitar 15–20 detik per file, tergantung perangkat. Pernyataan resmi menyebut, “proses pengurangan noise untuk file RAW 100MP membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 detik”. Ini bukan kecepatan kilat, tapi kecepatan yang cukup masuk akal untuk pekerjaan serius, terutama ketika kita bicara kualitas medium format. Konsekuensinya, ponsel Android berperforma tinggi kini sah menjadi bagian inti workflow profesional, bukan sekadar alat backup atau viewer.
Aplikasi Editing Profesional: HNCS, HNNR, dan Kontrol Lengkap di Android
Phocus Mobile Android layak disebut aplikasi editing profesional, bukan sekadar aplikasi transfer. Di dalamnya ada Hasselblad Natural Colour Solution (HNCS) yang menjaga reproduksi warna natural, gradasi tonal halus, dan detail highlight konsisten dari preview hingga ekspor. Pada perangkat dengan layar HDR, pengguna X2D II 100C bahkan bisa melihat dan mengedit gambar HDR dengan rentang dinamis lebih luas, lalu mengekspor ke Ultra HDR JPG atau HDR TIFF. Ini menjawab keluhan klasik bahwa warna khas Hasselblad sering “rusak” ketika diproses di software pihak ketiga.
Di sisi lain, Hasselblad Natural Noise Reduction (HNNR) berbasis AI menawarkan dua pendekatan: Purity Mode untuk gambar paling bersih dan Detail Mode yang mempertahankan tekstur mikro, sehingga fotografer bisa memilih kompromi noise versus detail sesuai kebutuhan. Fitur ini sangat krusial untuk pengguna 907X & CFV 100C yang tidak punya IBIS di bodi. Dipadukan dengan kontrol exposure, curves, white balance, monochrome correction, lens correction, noise reduction lanjutan, sharpening, crop, rotasi, hingga keystone correction—plus batch editing untuk menerapkan pengaturan ke banyak foto—Phocus Mobile Android menjadikan medium format mobile bukan slogan, tetapi workflow nyata di Android.
Harga Akses ke Medium Format Mobile: Syarat Perangkat dan Implikasi Pasar
Ada harga yang harus dibayar untuk membawa medium format ke ponsel, dan bukan dalam bentuk uang, melainkan spesifikasi. Hasselblad mensyaratkan Android 12 atau lebih baru dengan RAM minimal 12 GB, merekomendasikan Android 16 atau lebih baru, serta chipset Snapdragon 8 Gen 3 atau lebih baru untuk pengalaman terbaik. HNNR bahkan hanya tersedia di perangkat dengan Snapdragon 8 Gen 3 ke atas. Artinya, tidak semua pengguna Android bisa ikut serta; hanya segmen flagship yang memenuhi syarat. Di satu sisi, ini membatasi adopsi massal. Di sisi lain, keputusan tersebut konsisten dengan positioning Hasselblad: kualitas di atas segalanya.
Namun secara strategis, ekspansi ini tetap signifikan. Dengan basis pengguna Android yang jauh lebih besar, membawa Hasselblad Phocus Mobile Android berarti membuka pintu bagi lebih banyak fotografer profesional dan enthusiast untuk mempertimbangkan medium format. Ponsel kini bukan lagi “terminal akhir” untuk kirim foto ke media sosial, tetapi node penting dalam workflow profesional. Pertanyaannya berbalik: seberapa lama produsen kamera high‑end lain akan membiarkan Hasselblad sendirian menguasai ruang medium format mobile seperti ini?


