Restorasi yang Menjaga Lebih dari Keindahan
Restorasi ornamen masjid adalah pemulihan unsur hias bersejarah dengan menjaga bentuk, bahan, dan karakter kriya agar nilai artistik serta jejak hubungan antarmasyarakat tetap terbaca. Di Masjid Istiqlal, Sarajevo, pekerjaan ini dipercayakan kepada tiga pengukir Jepara: Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka berangkat dari Indonesia pada 13 Oktober 2026, lalu mengerjakan pemulihan yang berlangsung selama lima hari, dari 14 hingga 19 Oktober. Pilihan mendatangkan perajin yang memahami tradisi ukiran aslinya patut diapresiasi: tambalan yang sekadar menutup kerusakan mungkin lebih cepat, tetapi berisiko mengubah karakter ornamen. Karena itu, proyek ini bukan hanya urusan mempercantik interior. Ini adalah upaya mempertahankan keutuhan detail ukiran kayu Jepara dan memastikan keahlian yang telah lama hadir di masjid tersebut tetap dikenali.

Mengganti Pilar Tanpa Menghapus Karakter
Skala pekerjaan memperlihatkan mengapa restorasi ini menuntut kecermatan, bukan sekadar keterampilan produksi. Enam pilar kayu berukir mengalami kerusakan cukup parah sehingga diputuskan untuk diganti seluruhnya; bagian tangga dan dekorasi dinding juga diperbaiki. Sutrisno menjelaskan, “Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda.” Pernyataan itu merangkum prinsip penting dalam perawatan warisan kriya: keseragaman bukan berarti menutup bekas rusak dengan solusi seadanya, melainkan menjaga kesesuaian rupa dengan karya yang telah ada. Ornamen baru dibuat di tempat produksi Jepara Carver, sentra industri ukir Desa Senenang, Kecamatan Tahunan, menggunakan kayu jati, lalu dipasang di masjid. Dengan pengerjaan oleh pengukir yang memahami bahasa bentuk Jepara, penggantian bagian rusak dapat tetap menghormati karakter desain lama.

Jejak Hadiah Habibie dan Awal Misi
Ukiran di Masjid Istiqlal bukan dekorasi tanpa konteks. Karya pengukir Jepara yang menghiasi interiornya dibuat puluhan tahun lalu dan merupakan hadiah Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, beserta istrinya, Ainun Habibie, kepada Bosnia dan Herzegovina. Masjid yang diresmikan pada 2001 itu dibangun melalui sumbangan pemerintah dan masyarakat Indonesia serta menjadi salah satu masjid terbesar di Sarajevo. Maka, kerusakan pada ornamennya menyentuh bagian dari sejarah hubungan kedua masyarakat. Gagasan restorasi muncul setelah kunjungan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ke Bosnia dan Herzegovina pada Februari 2026. Dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, ia melihat sejumlah ornamen rusak dan menawarkan bantuan pemulihan. Keterlibatan timnya kemudian mengubah perhatian itu menjadi kerja nyata.
Kriya sebagai Jembatan Persahabatan
Nilai terbesar proyek ini terletak pada pertemuan antara pelestarian dan hubungan lintas budaya. Ukiran kayu Jepara tidak hanya dipulihkan sebagai benda, tetapi juga dirawat sebagai warisan keterampilan yang pernah diberikan sebagai tanda persahabatan. Tiga pengukir—Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo—membawa pengetahuan tentang teknik dan karakter karya asal Jepara untuk menjaga kesinambungan dengan ornamen yang telah lama berada di masjid. Di tengah diplomasi yang kerap dibicarakan lewat pertemuan resmi, kerja tangan menawarkan bahasa yang lebih terlihat: desain, bahan, dan ketelitian menyampaikan rasa hormat terhadap sejarah bersama. Restorasi ini meneruskan warisan B.J. Habibie bukan dengan mengulang seremoni, melainkan dengan merawat hadiah tersebut agar tetap hadir. Kesimpulannya, keberhasilan misi semacam ini layak dinilai bukan hanya dari bagian yang kembali utuh, tetapi juga dari hubungan yang terus dijaga melalui kriya.






