Dari Pusat Belanja ke Ruang Kreatif Mall
Ruang kreatif mall adalah transformasi pusat perbelanjaan tradisional menjadi ekosistem gaya hidup yang menggabungkan retail, IP lokal, aktivitas komunitas, dan pengalaman interaktif, sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk bertransaksi tetapi untuk terlibat dalam dunia kreatif, menikmati hiburan, dan membangun koneksi sosial dalam satu destinasi komersial yang terkurasi secara tematik. Fenomena ini menandai pergeseran peran mal dari sekadar tempat belanja menjadi lifestyle hub komersial yang memfasilitasi kolaborasi antara kreator, brand lokal, dan konsumen. Perubahan ini bukan sekadar cosmetic upgrade, melainkan repositioning strategis. Gajah Mada Plaza, yang telah beroperasi selama 44 tahun, memilih jalur ini ketika memperbarui konsep dengan komposisi tenant baru yang kini lebih dari 60% merupakan penyewa baru. Transformasi itu mengubah persepsi: mal bukan lagi bangunan tua yang bertahan, melainkan ruang yang aktif mengikuti ritme ekonomi kreatif Jakarta dan kebutuhan generasi baru yang mencari pengalaman, bukan hanya diskon.

Gajah Mada Plaza: Mal Senior yang Menjadi Lifestyle Hub
Keputusan mengubah Gajah Mada Plaza menjadi Lippo Icon Gajah Mada sebagai “The New Lifestyle Icon” adalah sinyal jelas bahwa umur bangunan tidak boleh menghambat relevansi. Dengan lebih dari 60% tenant baru dan tampilan modern beraksen warna emas, mal berusia 44 tahun ini diposisikan sebagai lifestyle hub komersial yang elegan dan dinamis, bukan sekadar pusat belanja nostalgia. Secara komersial, langkah ini terbukti rasional: tingkat okupansi mencapai sekitar 90%, dengan komposisi tenant yang mencakup kuliner, fashion, entertainment, lifestyle, dan kebutuhan sehari-hari. “Transformasi Lippo Icon Gajah Mada merupakan bagian dari kesiapan kami menyambut perkembangan MRT Jakarta Koridor 2,” kata Pahala Situmeang. Integrasi dengan rencana MRT yang menargetkan fase 2A rampung pada 2029 memperlihatkan bahwa masa depan mal terletak pada konektivitas dan perannya sebagai simpul aktivitas urban, bukan hanya tempat singgah singkat untuk berbelanja.
Styles LAND: Mall sebagai Playground IP dan Brand Lokal
Jika Lippo Icon Gajah Mada menunjukkan transformasi fisik dan fungsi, Styles LAND with Liunic di Lippo Mall Kemang memperlihatkan bagaimana ruang kreatif mall bisa menjadi playground IP lokal. Program ini mengubah area utama mal menjadi lifestyle playground yang menggabungkan kreativitas, entertainment, produk lokal, kuliner, dan pengalaman digital. Selama 7–23 Agustus 2026, pengunjung diajak memasuki dunia Liunic lewat instalasi tematik, merchandise eksklusif, dan aktivitas interaktif yang membawa karakter visual ke dalam ruang nyata. Model retail hybrid di sini terasa jelas: musik dari penampilan Lomba Sihir dan Papion, instalasi IP, workshop kreatif, komunitas kreator, hingga jenama lokal berbaur dalam satu destinasi komersial. Local Culture Market menghadirkan lebih dari 20 brand lokal dari kategori fashion, beauty, F&B, dan lifestyle, termasuk Liunic On Things, UBS Gold, Cottonink, From This Island, dan Anomali Coffee. Ini bukan popup biasa; ini adalah simulasi ekosistem ekonomi kreatif Jakarta dalam skala mini yang beroperasi di dalam mal.

IP Lokal, Komunitas, dan Ekonomi Kreatif Jakarta
Kunci menarik dari Styles LAND adalah bagaimana perjalanan Liunic menegaskan bahwa gaya visual dapat berkembang menjadi IP dengan karakter, cerita, produk, dan komunitasnya sendiri. Di mall, narasi IP ini bertemu langsung dengan audiens luas. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan, “Ruang seperti ini penting karena mempertemukan kreator dengan masyarakat secara langsung… peluang untuk membangun audiens, memperluas pasar, sekaligus mengembangkan nilai ekonomi dari kreativitas menjadi semakin terbuka”. Ruang komersial yang dulu identik dengan brand global kini menjadi panggung brand lokal retail. Dengan kurasi jenama lokal dan program workshop seperti pottery, flower arrangement, jewelry making, recycle crafting, make-up class, hingga slime lab, mall berubah menjadi laboratorium ekonomi kreatif Jakarta, bukan sekadar etalase. Di titik ini, mal bukan hanya menyewakan ruang; ia memfasilitasi proses pembentukan nilai IP, memperkuat komunitas, dan membantu kreator membaca langsung respon pasar.

Mengapa Model Hybrid Retail Adalah Masa Depan Mall
Transformasi mall modern menuju ruang kreatif dan lifestyle hub komersial adalah respons terhadap perilaku konsumen yang berubah cepat. Strategi Lippo Malls Indonesia memperbarui aset eksisting agar tetap relevan dengan perkembangan kawasan serta gaya hidup masyarakat menunjukkan bahwa mall yang tidak beradaptasi akan kehilangan fungsi. Di sisi lain, strategi Styles untuk membawa pengalaman digital ke dunia nyata melalui program tematik seperti Styles LAND memperlihatkan bahwa interaksi layar saja tidak cukup. Model hybrid retail yang menggabungkan musik, kreativitas, komunitas, dan gaya hidup dalam satu destinasi komersial menguntungkan semua pihak: pengunjung mendapat pengalaman, kreator membangun IP, brand lokal retail memperoleh pasar, dan pengelola mal menjaga okupansi. Dengan program pengalaman berulang, seperti proyeksi Styles LAND sebagai platform kolaborasi IP, kreator, komunitas, dan brand di setiap edisi mendatang, mall berpotensi menjadi infrastruktur budaya, bukan hanya infrastruktur dagang. Masa depan mal ada pada keberaniannya memeluk peran baru ini secara konsisten.






