Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Kreator Lokal: Motor Ekonomi Kreatif Pascabencana

Pelatihan Kreator Lokal: Motor Ekonomi Kreatif Pascabencana
Minat|Asia Tenggara

Ekonomi kreatif pascabencana: dari pemulihan fisik ke pemulihan narasi

Ekonomi kreatif pascabencana adalah pendekatan pemulihan yang berfokus pada pemberdayaan warga terdampak melalui pelatihan keterampilan kreatif, seperti periklanan dan perfilman, agar mereka mampu menciptakan konten, produk budaya, dan layanan kreatif yang bernilai jual, memperkuat identitas lokal sekaligus membuka sumber pendapatan baru di luar bantuan darurat dan rekonstruksi infrastruktur fisik. Inilah gagasan yang kini mulai diterapkan Kementerian Ekraf di Aceh. Lewat program Ekraf Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya, pemerintah menggeser titik berat dari sekadar membangun kembali bangunan, ke membangun kembali kapasitas dan kepercayaan diri masyarakat melalui kreativitas.

AdCamp: Skill Up Lab di Gayo Lues dan rangkaian Sinema Rakyat di Aceh Tengah secara jelas menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Aceh pascabencana tidak lagi dipahami semata sebagai proyek infrastruktur, tetapi sebagai investasi jangka panjang pada talenta kreatif lokal. Ini pendekatan yang patut diapresiasi: bencana merusak aset fisik, tetapi sering kali menghancurkan imajinasi masa depan. Saat warga diajak mempelajari advertising dan sinematografi, mereka bukan hanya diberi alat mencari nafkah, melainkan juga medium baru untuk menulis ulang cerita tentang daerahnya. Di wilayah yang kerap diposisikan sebagai penerima bantuan, strategi ini menggeser mereka menjadi produsen narasi dan nilai ekonomi.

AdCamp di Gayo Lues: ketika advertising jadi senjata pemulihan

Di Blangkejeren, Kementerian Ekraf melalui Deputi Bidang Kreativitas Media dan Direktorat Periklanan menggelar AdCamp: Skill Up Lab untuk meningkatkan keterampilan puluhan pelaku usaha di Kabupaten Gayo Lues selama dua hari, 21–22 September 2026. Program ini eksplisit diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dari daerah sekaligus mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Fokusnya jelas: mempersenjatai pelaku usaha kecil dengan kemampuan membuat konten yang "benar", memahami tahapan produksi, dan merancang storytelling yang dapat menarik perhatian pasar.

Pernyataan Direktur Periklanan Andy Ruswar bahwa talenta kreatif tidak harus mencari pekerjaan ke Jakarta dan akan dikoneksikan dengan media-media di ibukota adalah pergeseran cara pandang yang penting. Dengan kata lain, ekonomi kreatif pascabencana tidak menuntut migrasi, tetapi menghubungkan desa dengan jaringan pasar lebih luas melalui konten. Sikap Bupati Gayo Lues, Suhaidi, yang menekankan perlunya pendampingan lanjutan agar pelatihan tidak berhenti begitu kegiatan selesai, patut dibaca sebagai pengakuan bahwa skill advertising hanya berdaya guna jika diikuti ekosistem dukungan lokal. Menyebut pelatihan ini mahal dan mendesak peserta memanfaatkannya dengan serius, ia secara tersirat mengingatkan bahwa pengetahuan digital adalah aset pascabencana yang nilainya tak kalah dari material bangunan.

Pelatihan Kreator Lokal: Motor Ekonomi Kreatif Pascabencana

Workshop Sinema Rakyat Aceh Tengah: melahirkan sineas lokal sebagai pelaku ekonomi

Di Takengon, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf menggelar rangkaian Sinema Rakyat Aceh Tengah sebagai bagian dari program Ekraf Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya. Salah satu fokus utamanya adalah Workshop Sinema Rakyat di Museum Negeri Gayo yang diikuti 70 peserta dari komunitas film, pegiat literasi dan budaya, pelajar, mahasiswa, hingga kreator lokal. Ini bukan sekadar pelatihan teknis perfilman, melainkan upaya sadar membangun jaringan sineas muda dan memperluas ruang berbagi pengalaman, sehingga subsektor film bisa tumbuh menjadi motor pemulihan ekonomi Aceh melalui karya-karya lokal.

Materi yang dibawakan narasumber memperlihatkan logika ekonomi kreatif pascabencana yang matang. Sutradara Anggi Kurniawan mengajak peserta menggali cerita dari masyarakat dan lingkungan sekitar, mengembangkan pengalaman lokal menjadi ide film, serta menentukan sudut pandang penceritaan. Di sini, luka dan memori bencana tidak dipaksa dilupakan, tetapi bisa diolah menjadi narasi yang bermakna dan bernilai ekonomi. Sementara itu, Arfan Sabran dari Badan Perfilman Indonesia memaparkan strategi pengembangan karya lokal ke layar lebar, pentingnya memahami ekosistem perfilman, dan penentuan jalur distribusi sejak awal produksi agar film menemukan penontonnya. Direktur Film, Animasi, dan Video, Doni Setiawan, menegaskan makna strategis ekosistem film di daerah bagi kebudayaan dan ekonomi, termasuk membangun budaya menonton sejak dini dan ruang apresiasi bagi sineas lokal.

Dari hiburan ke strategi pemulihan ekonomi Aceh

Sering kali, kegiatan film dan konten dianggap sekadar hiburan. Program Ekraf Peduli membantah asumsi itu. Di Aceh Tengah, wakil bupati menilai kehadiran Sinema Rakyat bukan hanya sarana hiburan, melainkan bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor perfilman. Jika 70 sineas muda dan kreator lokal yang ikut workshop kelak memproduksi film, konten digital, atau iklan lokal, dampaknya langsung ke pemulihan ekonomi Aceh: muncul lapangan kerja baru, jasa produksi lokal, dan promosi yang lebih cerdas untuk produk daerah. Di Gayo Lues, puluhan pelaku usaha yang memahami storytelling dan produksi konten berpeluang mengubah usaha kecil mereka menjadi brand yang mampu bersaing di pasar regional.

Namun, ada syaratnya: pemulihan berbasis ekonomi kreatif tidak bisa berhenti di pelatihan. Seruan Bupati Gayo Lues agar pemerintah daerah melakukan intervensi lanjutan menunjukkan kesadaran bahwa ekosistem harus dijaga dengan pendampingan, akses pasar, dan ruang ekspresi. Tanpa itu, AdCamp dan Workshop Sinema Rakyat akan berakhir sebagai agenda sesaat. Dengan konsistensi, kedua program bisa menjadi embrio klaster ekonomi kreatif pascabencana yang tangguh: sineas lokal mempromosikan kopi, wisata, dan budaya; pelaku usaha memesan konten ke kreator di daerahnya sendiri; dan warga yang dulu hanya dikenal sebagai korban bencana mulai dikenal sebagai kreator cerita dan nilai tambah.

Kesimpulan: kamera, konten, dan masa depan ekonomi pascabencana

Pelatihan sineas lokal dan pelaku usaha kreatif melalui AdCamp dan Sinema Rakyat menunjukkan arah baru pemulihan ekonomi Aceh. Di sini, kamera dan keahlian storytelling dipandang sama pentingnya dengan batu bata: keduanya ikut menentukan apakah masyarakat bisa bangkit sebagai subjek ekonomi, bukan sekadar penerima bantuan. Pendekatan program Ekraf Peduli yang menyatukan advertising, sinematografi, pemetaan ide lokal, riset ekosistem, dan strategi distribusi membuat ekonomi kreatif pascabencana tampak bukan slogan, melainkan strategi konkret untuk mengubah talenta menjadi pendapatan.

Tugas berikutnya jelas: pemerintah daerah harus memastikan pendampingan berkelanjutan, ruang tayang bagi karya lokal, dan koneksi nyata dengan pasar regional. Jika itu dilakukan, puluhan peserta AdCamp di Gayo Lues dan 70 sineas muda Aceh Tengah akan menjadi generasi kreator yang tak hanya mengarsipkan pengalaman bencana, tetapi mengubahnya menjadi basis ekonomi baru. Di tengah dunia yang makin digital, keputusan membangun ekonomi dari konten dan film adalah pilihan berani—dan mungkin, satu-satunya cara agar daerah yang pernah runtuh dapat bangkit dengan cara yang lain: melalui imajinasi, cerita, dan karya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!