Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lagu Klasik ke Indie Hits: Psikologi Lagu Viral di TikTok

Dari Lagu Klasik ke Indie Hits: Psikologi Lagu Viral di TikTok
Minat|Menyanyi

Lagu Viral TikTok: Bukan Sekadar Backsound, Tapi Bahasa Emosi Baru

Lagu viral TikTok adalah potongan musik dari berbagai genre dan era yang digunakan berulang sebagai latar suara konten, hingga membentuk asosiasi emosional tertentu, memicu tren visual, dan menciptakan kembali popularitas lagu maupun musisi di luar konteks rilis aslinya. Fenomena ini mengubah musik menjadi bahasa singkat yang mengikat identitas, nostalgia, dan momen keseharian pengguna. Di era ketika perhatian serba terbatas, tren backsound TikTok bekerja seperti shortcut emosi: satu hook, satu potongan lirik, langsung mengirim pesan. Karena itu, viral musik TikTok jarang netral; ia selalu berhubungan dengan cara orang memandang diri, kota, hubungan, dan idola mereka. Dan di sinilah kunci: lagu trending sekarang menang bukan karena paling baru, tapi karena paling cocok dengan narasi yang ingin dibangun kreator.

“Ain’t In LA”: Mimpi, Identitas, dan Kebanggaan Kota Asal

“Ain’t In LA” karya ADÉLA tengah menjadi fenomena viral musik TikTok, bukan hanya karena beat yang catchy, tetapi karena pesan tentang mimpi dan identitas yang menyentuh banyak orang. Lagu ini menggambarkan perempuan dengan mimpi besar dan kemampuan hebat, meski tidak tinggal di kota hiburan raksasa seperti Los Angeles. Hook “the baddest bitches ain’t in LA” terasa seperti pernyataan politik kecil: sukses tidak monopoli satu kota. Menariknya, tren yang memicu ledakan popularitasnya lahir dari video ADÉLA yang menyoroti Bratislava, kota asalnya, dan format kalimat “Can’t always be LA someone’s gotta hold it down in [nama kota asal]” yang lalu diadopsi pengguna global. Menurut Billboard Philippines, momentum itu mengangkat lagu ini menjadi fenomena lintas negara yang merayakan kebanggaan lokal sebagai identitas utama.

Dari Lagu Klasik ke Indie Hits: Psikologi Lagu Viral di TikTok

“Upside Down”: Lagu Disco 1980 yang Menjadi Tren Transisi

Jika “Ain’t In LA” bermain di ranah identitas, “Upside Down” dari Diana Ross menunjukkan kekuatan nostalgia dalam tren backsound TikTok. Lagu dari album Diana yang dirilis pada 22 Mei 1980 ini mendadak menjadi lagu trending sekarang berkat potongan melodi dan lirik yang dianggap pas untuk video transisi, dari outfit ke outfit atau dari before ke after. Secara psikologis, beat disco yang stabil dan hook “Upside down, you’re turning me” menyediakan ritme jelas bagi kreator untuk menyusun momen “berubah” yang memuaskan mata. Ketika potongan musik ini dipakai ribuan kali, makna lagu bergeser: dari kisah cinta berputar menjadi simbol visual transformasi. Fakta bahwa “Upside Down” juga dipakai sebagai soundtrack serial populer menambah lapisan referensi budaya massa, memperkuat rasa familiar dan nostalgia yang mempercepat potensi viral musik TikTok ini.

“Pizza Pepperoni”: Indie R&B dan Efek Domino Idola Global

Di sisi lain spektrum, “Pizza Pepperoni” menunjukkan bagaimana satu aksi idola global dapat mengangkat artis indie ke radar dunia. Lagu R&B easy listening penuh lirik bahasa Inggris ini dirilis Rahmania Astrini pada Januari 2022, namun viral kembali setelah digunakan sebagai background musik oleh V atau Kim Taehyung di Instagram Story-nya. Begitu ARMY heboh dan mulai bertanya siapa penyanyi di balik lagu tersebut, terjadi efek domino: rasa ingin tahu berubah menjadi klik ke platform musik, pencarian lirik, dan penggunaan ulang sebagai lagu viral TikTok dalam berbagai konten. Psikologinya sederhana, tapi kuat: penggemar ingin mendekat ke idolanya lewat hal-hal kecil yang ia pilih, termasuk lagu. Bagi Rahmania Astrini, ini adalah contoh sempurna “second wave popularity”, di mana karya yang sudah rilis memperoleh eksposur baru jauh setelah siklus promo berakhir.

Second Wave Popularity: Apa Artinya untuk Masa Depan Musik?

Dari “Upside Down” yang berasal dari album 1980 hingga “Pizza Pepperoni” yang viral kembali berkat satu konten idola, TikTok menciptakan ekosistem second wave popularity. Lagu lama dan katalog indie tidak lagi mati setelah beberapa bulan rilis; mereka menunggu momen yang tepat untuk dijadikan soundtrack tren. Untuk artis, ini berarti strategi promosi harus mempertimbangkan kemungkinan kebangkitan ulang melalui tren backsound TikTok dan kolaborasi tak langsung, misalnya ketika lagu dipakai selebritas atau kreator besar. Bagi pendengar, algoritma memberi akses ke arsip musik yang luas, tapi narasi emosional ditentukan oleh format video yang sedang naik. Kesimpulannya, masa depan lagu trending sekarang bukan ditentukan oleh tanggal rilis, melainkan oleh seberapa kuat lagu itu bisa menempel pada cerita manusia: mimpi, transformasi, atau sekadar potongan hidup yang dibagi 15 detik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!