Nilai tambah dimulai dari bahan yang sudah dekat
Skincare komunitas lokal adalah inisiatif warga yang mengolah bahan setempat menjadi produk perawatan atau kebersihan melalui keterampilan bersama, sambil membuka peluang usaha dan memperkuat kendali ekonomi komunitas. Gagasan ini penting karena nilai bahan lokal tidak berhenti pada hasil panen: pengetahuan pengolahan, kebersihan produksi, dan kemampuan menjangkau pembeli dapat ikut tumbuh. Di Kedungringin, beras yang biasanya dimanfaatkan sebagai pangan diperkenalkan sebagai bahan lulur; di Kaponan, sereh pekarangan digunakan untuk sabun cuci tangan. Keduanya menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM herbal lebih bermakna ketika pelatihan teknis berlanjut menjadi usaha yang dikelola warga. Namun, istilah TOGA perawatan kulit perlu digunakan secara cermat: contoh sereh yang terdokumentasi menghasilkan sabun cuci tangan, bukan klaim produk skincare. Inovasi lokal layak didorong, tetapi manfaat dan jenis produknya harus dijelaskan sesuai bukti.
Lulur beras tradisional membuka peluang usaha rumahan
Di Dusun Krisik, Desa Kedungringin, Kabupaten Semarang, mahasiswa KKN UNNES GIAT 17 mengadakan pelatihan pembuatan lulur beras tradisional bersama ibu-ibu PKK. Peserta belajar menyangrai dan menghaluskan beras, lalu mencampurnya dengan rempah seperti kunyit dan kopi hingga menjadi lulur bubuk beraroma alami. Perubahan bentuk ini memberi alasan ekonomi yang kuat: beras yang sebelumnya dijual sebagai komoditas pangan dapat memperoleh nilai tambah ketika diolah menjadi produk perawatan tubuh. Sediaan bubuk juga dinilai lebih mudah disimpan dan didistribusikan tanpa bergantung pada pengawet sintetis. Tetapi keterampilan membuat produk baru belum otomatis membentuk usaha. Ibu-ibu perlu menjaga kebersihan alat dan proses, menentukan kemasan, serta membangun jalur penjualan. Pelatihan ini mendukung keterlibatan perempuan dan pertumbuhan ekonomi desa, dengan harapan keterampilan tersebut berkembang menjadi UMKM mandiri.

Sereh dan telang: pelatihan yang harus tepat sasaran
Di Dusun Kintelan, Desa Kaponan, mahasiswa KKN GIAT 17 UNNES menggelar pelatihan dan demonstrasi pembuatan sabun cuci tangan berbahan minyak sereh pada 21 September 2026. Warga mempraktikkan pencampuran bahan sabun cair, air, dan minyak sereh, lalu mengemas hasilnya ke dalam botol. Program ini menghubungkan kebersihan sehari-hari dengan pemanfaatan tanaman sekitar dan mendukung tujuan kesehatan serta konsumsi yang bertanggung jawab. Di sekolah, mahasiswa Teknik Kimia UNNES Hana Aisyah Zahira mengajak siswa MTs Tarqiyatul Himmah membuat sabun bunga telang; pigmen biru antosianin pada bunga itu dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Contoh ini memperluas pembelajaran sains dan kreativitas, tetapi tidak membuktikan bahwa sabun tersebut berkualitas setara produk pabrikan atau sudah dipasarkan. Agar menjadi sabun herbal alami yang layak usaha, inisiatif serupa perlu menguji konsistensi mutu, keamanan, dan proses produksinya.






