Literasi yang Bergerak: Dari Membaca Pasif ke Menulis dan Menerbitkan
Festival literasi sekolah adalah rangkaian kegiatan terpadu yang menggabungkan lomba, pameran, dan peluncuran buku karya siswa untuk mengubah kebiasaan literasi dari sekadar membaca pasif menjadi proses kreatif menulis, merevisi, dan menerbitkan karya yang diakui secara publik oleh komunitas pendidikan dan perpustakaan. Tren ini terlihat jelas ketika Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya memilih merayakan Literacy Day 2026 bukan dengan lomba baca, tetapi dengan meluncurkan tiga buku karya siswa pada peringatan Hari Literasi Internasional ke-60 bertema “Literacy for People, the Planet, and Prosperity”. Keputusan ini adalah pernyataan sikap: literasi tidak lagi dipahami sebagai kemampuan mengeja kata, melainkan kapasitas memahami informasi, mengeksplorasi gagasan, dan mengubah ide menjadi teks yang dapat dibaca orang lain. Budaya menulis siswa diposisikan sejajar dengan budaya membaca, dan buku karya siswa menjadi simbol paling kasat mata bahwa kelas telah disambungkan dengan dunia penerbitan.

Sampoerna Academy Surabaya: Tiga Buku, Satu Pesan Kuat tentang Budaya Menulis
Peluncuran tiga buku karya siswa dalam Literacy Day 2026 di Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya bukan sekadar seremoni tahunan; ia adalah strategi konkret memperkuat budaya literasi di sekolah. Buku-buku ini lahir dari kombinasi Writing Competition, pembelajaran Bahasa Indonesia, dan Projek Co-Curricular, lalu dikembangkan bersama guru melalui tahapan pengembangan ide, penulisan, hingga revisi. Di jenjang primary terbit “Minggu yang Menyenangkan”, sementara secondary melahirkan “Panen Kekuatan Rahasia” dan “Di antara Ombak & Bisikan” sebagai bagian dari penerbitan karya pelajar yang serius dikerjakan, bukan tugas dadakan. Sikap sekolah tegas: siswa tidak hanya diminta membaca, tetapi juga berdiskusi, berefleksi, dan menuangkan pemahaman dalam tulisan serta karya kreatif yang selesai menjadi buku. Dengan pendekatan STEAM dan 5C, budaya menulis siswa diperlakukan sebagai keterampilan abad 21, bukan kemampuan tambahan. Pesan kuatnya: jika siswa bisa menamatkan novel orang lain, mereka juga layak menulis buku sendiri.
Sukma Bangsa Sigi: 50 Buku di Festival Literasi, Bukan Hanya Pameran
Di Palu, Sekolah Sukma Bangsa Sigi mengambil langkah lebih jauh: sekitar 50 buku karya siswa dan guru dipajang di Festival Literasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Tengah untuk memperingati Hari Kunjung Perpustakaan 2026. Ini bukan rak pajangan semata, tetapi bukti bahwa budaya menulis siswa yang dibangun sejak kelas 1 SMP menghasilkan produk nyata. Melalui SIMRIS (Sistem Informasi Manajemen Literasi Sekolah) dengan program Siswa Belajar Menulis (Simbelis) dan Guru Menulis, siswa diberi waktu membaca dua jam per pekan, lalu pada semester kedua diarahkan menghasilkan tulisan yang layak dibukukan. Kepala perpustakaan sekolah mengingatkan, tanpa tulisan kita kehilangan catatan tentang apa yang pernah terjadi, dan membaca adalah investasi masa depan generasi muda. Ketika buku-buku itu dipamerkan di festival literasi sekolah, pengunjung – terutama pelajar – melihat bahwa penerbitan karya pelajar bukan monopoli penulis profesional, tetapi hasil proses terencana yang bisa mereka ikuti.
Dari Rak Perpustakaan ke Ekosistem Literasi: Buku Siswa yang Beredar di Publik
Yang paling menarik dari dua contoh sekolah ini adalah kesediaan melepas buku karya siswa keluar dari lingkungan internal. Di Surabaya, karya-karya tersebut diserahkan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota untuk ditempatkan di Perpustakaan Umum dan Taman Baca Masyarakat, menjadikannya bagian dari koleksi publik, bukan sekadar arsip sekolah. Sekretaris dinas menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah dan perpustakaan diperlukan untuk membangun ekosistem literasi yang hidup. Di Sigi, festival yang diadakan di halaman kantor perpustakaan daerah memberi panggung nyata bagi buku karya siswa, memposisikan mereka sebagai penulis yang pantas dibaca pengunjung lain. Ini adalah pergeseran penting dari literasi pasif ke literasi aktif: membaca tetap dijaga, tetapi menulis dan penerbitan karya pelajar menjadi puncak yang diincar program. Rak perpustakaan tidak lagi diisi buku yang jauh dari pengalaman pelajar; kini ia memuat cerita, ide, dan sudut pandang mereka sendiri.
Kesimpulan: Jika Siswa Bisa Menerbitkan Buku, Alasan Apa yang Tersisa untuk Literasi yang Lesu?
Tren festival literasi sekolah yang menjadikan peluncuran buku karya siswa sebagai agenda utama menunjukkan arah baru pendidikan: literasi dipahami sebagai tindakan kreatif, bukan kewajiban administratif. Sampoerna Academy Surabaya dan Sukma Bangsa Sigi sama-sama membuktikan bahwa ketika budaya membaca dibangun secara sistematis lalu ditutup dengan proyek menulis dan penerbitan, siswa sanggup menghasilkan puluhan hingga puluhan buku yang layak beredar. Penerbitan karya pelajar mengubah motivasi belajar; membaca bukan tugas, melainkan bahan bakar untuk menulis kisah sendiri. Pertanyaan yang tersisa untuk sekolah lain sederhana dan agak tajam: jika ada contoh konkret siswa menulis, mengedit, dan menerbitkan buku, apa alasan mempertahankan festival literasi sekolah sebagai lomba poster dan pidato? Saatnya menjadikan setiap perayaan literasi sebagai gerbang masuk ke dunia penulis muda, bukan sekadar panggung seremonial sekali setahun.






