Barang bekas menjadi alat belajar yang nyata
Kerajinan bahan bekas anak adalah kegiatan mengolah benda yang sudah tidak terpakai menjadi karya atau media belajar agar anak memahami konsep melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini terasa lebih bermakna daripada sekadar meminta anak menghafal rumus atau mengikuti petunjuk tanpa tahu manfaatnya. Pada 11 Oktober 2026, dosen dan mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Bosowa menerapkan gagasan tersebut dalam kegiatan pengabdian di Panti Asuhan An-Nabawi, Makassar. Sebanyak 15 anak dari tingkat SD hingga SMA mengikuti pembelajaran yang dibagi ke dalam lima kelompok sesuai jenjang. Kardus, kertas, rak telur, dan tutup botol diubah menjadi media untuk memahami operasi hitung, pecahan, dan statistika. Papan MathFlip, misalnya, mengajak anak mencoba dan mengamati penjumlahan serta pengurangan memakai potongan kertas. Inilah kekuatan workshop daur ulang kreatif: matematika tidak berhenti sebagai simbol di buku, tetapi hadir sebagai benda yang dapat disentuh, dimainkan, dan diuji.

Guru PAUD merancang APE dengan bahan sekitar
Pembelajaran kreatif juga bergantung pada kemampuan guru membuat media yang sesuai dengan kebutuhan anak. Karena itu, Rumah Main Kreatif mengadakan pelatihan APE dari bahan daur ulang dan bahan alam bagi guru PAUD pada 23 Oktober 2026 di TK Muslimat Thoriqul Jannah, Desa Tegalbangsri, Kecamatan Ranuyoso. Tujuannya adalah menguatkan kreativitas guru dalam menciptakan media yang mendukung tumbuh kembang, terutama kemampuan motorik anak. Kardus bekas, stik es krim, dan tutup botol menjadi pilihan bahan yang mudah ditemukan dan dapat dipakai dalam kegiatan bermain sambil belajar. Peserta berlatih memilih bahan, merancang bentuk, membuat alat, serta memahami cara penggunaannya. Salah satu contohnya, kincir angka, mengajak anak menggenggam, memutar, menunjuk, dan menyebut angka. Nilai pelatihan ini bukan hanya penghematan bahan; guru juga mendapat ruang untuk merancang aktivitas yang lebih dekat dengan lingkungan dan tahap perkembangan anak.

Ecoprint menghubungkan kreativitas dengan lingkungan
Kerajinan dari bahan sekitar juga dapat menjadi cara sederhana untuk mengajak anak memperhatikan alam di sekelilingnya. Dalam kegiatan ECO-KIDS di Plalangan, Semarang, mahasiswa Universitas Negeri Semarang mengajak anak mengenal pemanfaatan bahan alam melalui ecoprint pada 18 Oktober 2026. Kegiatan itu diikuti sembilan anak usia sekolah dasar dan melibatkan 10 mahasiswa. Anak-anak membuat motif pada totebag menggunakan daun dan bunga segar. Dengan teknik pounding, bentuk dan pigmen tumbuhan dipindahkan ke kain melalui pukulan bertahap. Aktivitas ecoprint anak seperti ini mengajarkan lebih dari cara menghias tas: peserta berkesempatan mengamati bentuk daun, menyusun bahan menurut pilihan sendiri, lalu melihat hasil dari tindakan mereka. Model pembelajaran ini patut diperluas karena menggabungkan keterampilan tangan, rasa ingin tahu, dan perhatian pada potensi lingkungan. Ketika bahan belajar berasal dari sekitar, kepedulian tidak lagi terasa sebagai nasihat abstrak, melainkan pengalaman yang dibuat sendiri.






