Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Ibu Anak Tidak Stunting Terlihat Lebih Lelah

Mengapa Ibu Anak Tidak Stunting Terlihat Lebih Lelah
Minat|Pengetahuan Parenting

Paradoks kelelahan mengasuh dalam upaya mencegah stunting

Kelelahan mengasuh anak adalah kondisi ketika orang tua, terutama ibu, mengalami keletihan fisik, jarak emosional, dan rasa jenuh berkepanjangan terhadap tugas pengasuhan, yang dapat memengaruhi kualitas interaksi, pengambilan keputusan sehari-hari, dan kemampuan mempertahankan praktik pengasuhan sehat, termasuk dalam konteks pencegahan stunting. Temuan terbaru soal kelelahan mengasuh anak bukan sekadar anomali statistik, melainkan alarm sosial. Penelitian di tiga Posyandu di Bandung menemukan ibu dengan anak tidak stunting justru memiliki skor lelah mengasuh lebih tinggi (median 30,5) dibanding ibu dengan anak stunting (median 12,0). Secara intuitif, publik mengira ibu anak stunting yang paling tertekan; nyatanya, mereka yang berhasil menjaga anak keluar dari kategori stunting menanggung beban psikologis yang besar dan kurang terlihat. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pencegahan stunting bisa mengorbankan kesejahteraan orang tua jika sistem dukungan keluarga tidak memadai.

Riset di Bandung: anak tidak stunting, ibu lebih lelah

Antara Mei dan Juni, Dea Shita Ramanda mewawancarai 208 ibu balita di tiga Posyandu di Bandung menggunakan dua kuesioner: satu untuk mengukur kelelahan mengasuh, satu untuk perilaku kesehatan gigi anak. Status stunting diambil dari catatan pemantauan pertumbuhan, lalu ibu dikelompokkan menjadi 108 ibu anak stunting dan 100 ibu anak tidak stunting. Skor kelelahan mengasuh diukur dalam rentang 0–138 dan mencakup keletihan, jarak emosional, serta rasa muak dalam peran pengasuhan. Hasilnya mengejutkan: median skor kelelahan ibu anak tidak stunting 30,5, sedangkan ibu anak stunting hanya 12,0, dengan ukuran efek 0,630 yang menunjukkan perbedaan berarti. Tidak ada ibu anak tidak stunting yang skornya nol, tanda bahwa semua merasakan tingkat kelelahan tertentu. Menariknya, perilaku sikat gigi anak justru relatif baik di kedua kelompok, dengan skor median 9,0 pada ibu anak tidak stunting dan 8,0 pada ibu anak stunting, selisih kecil namun bermakna.

IndikatorIbu anak stuntingIbu anak tidak stunting
Skor lelah mengasuh (median)12,030,5
Rentang skor lelah mengasuh0–839–86
Skor perilaku sikat gigi (median)8,09,0
Jumlah ibu dalam kelompok108100

Mengapa pencegahan stunting tidak boleh bertumpu pada ibu saja

Temuan kelelahan mengasuh anak di Bandung beririsan dengan kajian ekologi keluarga dari Adam Sugiharto yang menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak cukup dengan mengajarkan ibu cara memberi makan lebih baik. Penelitian terhadap 402 ibu dengan anak usia 0–59 bulan di Kecamatan Sumur menunjukkan pola asuh makan tidak berpengaruh langsung terhadap status gizi balita berdasarkan tinggi badan menurut umur. Status gizi dipengaruhi kondisi air bersih, sanitasi dan kebersihan, pengetahuan gizi, penerapan delapan fungsi keluarga, modal sosial, serta program pemberdayaan masyarakat. Kutipan kunci dari penelitian itu layak diulang: "Temuan ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh meletakkan seluruh beban pencegahan stunting di pundak ibu." Dengan kata lain, kelelahan mengasuh anak bukan kegagalan individu, melainkan gejala ekosistem yang terlalu menuntut ibu tanpa memberi dukungan memadai. Pencegahan stunting holistik menuntut perubahan pada seluruh ekosistem keluarga, bukan hanya meja makan.

Mengapa Ibu Anak Tidak Stunting Terlihat Lebih Lelah

Dimensi emosional pencegahan stunting dan kesejahteraan orang tua

Kelelahan mengasuh anak dalam riset di Bandung tidak berkaitan langsung dengan perilaku sikat gigi—artinya ibu masih mampu menjaga praktik kesehatan tertentu meski secara emosional terkuras. Alat ukur kelelahan menangkap keletihan, jarak emosional, dan rasa muak mengasuh, sementara alat ukur gigi menilai perilaku konkret yang sangat dipengaruhi pengetahuan, ketersediaan alat, dan kebiasaan. Ini mengungkap paradoks: ibu bisa tampil kompeten secara perilaku namun rapuh secara batin. Di sisi lain, tekanan ekonomi dan keterbatasan air bersih serta sanitasi disebut membatasi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan gizi anak, dan pada kelompok umur 13–59 bulan tekanan tersebut berpengaruh terhadap tinggi badan menurut umur. Beban psikologis ibu bertambah ketika mereka harus menyesuaikan praktik pengasuhan di tengah tekanan struktural itu. Jika kebijakan pencegahan stunting terus berfokus pada perilaku ibu tanpa mengakui kondisi emosional dan fisiknya, kelelahan akan menjadi harga tak terlihat dari keberhasilan gizi.

Menuju dukungan keluarga stunting yang holistik dan manusiawi

Arah ke depan jelas: pencegahan stunting holistik harus menempatkan kesejahteraan orang tua sebagai fondasi, bukan catatan pinggir. Model ekologi keluarga yang ditawarkan Adam Sugiharto menekankan siklus identifikasi keluarga berisiko stunting, intervensi sesuai kebutuhan ekologinya, pendampingan, pemantauan, dan evaluasi status gizi. Program pemberdayaan pemerintah dinilai memberi dukungan nyata melalui makanan tambahan, pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, suplementasi, dan intervensi lintas sektor. Namun keberhasilan hanya mungkin jika pemerintah, kader pendamping keluarga, kader Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga, dan lingkungan sosial ditempatkan dalam satu sistem saling terhubung. Bagi keluarga dengan kerentanan ekonomi tinggi, perubahan perilaku harus disertai akses pangan dan dukungan ekonomi agar tidak berhenti sebagai nasihat. Kesimpulannya tegas: upaya melawan stunting harus melindungi bukan menghancurkan energi pengasuhan ibu; kesejahteraan mereka adalah prasyarat, bukan bonus.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!