Fashion terinspirasi alam: lebih dari sekadar motif cantik
Fashion terinspirasi alam adalah pendekatan desain busana yang menjadikan unsur botani, lanskap, dan ekosistem sebagai bahasa visual sekaligus narasi, sehingga pakaian kasual tidak hanya dekoratif tetapi juga memuat cerita, simbol, dan emosi tentang hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Di ranah desain lokal kasual, kecenderungan ini kini berkembang menjadi sikap kreatif: alam bukan hiasan, melainkan naskah cerita. Alih-alih mengulang motif tradisional tanpa konteks, brand-brand muda mulai menafsirkan bunga, buah, dan objek budaya sebagai metafora pertumbuhan, identitas kota, hingga keinginan untuk menembus pasar global. Hasilnya adalah koleksi musim panas yang terasa hidup: ringan dipakai, tetapi sarat makna, seperti yang tampak pada TAZA dan Kaenina.

Cherry tomato dan 16 artikel: TAZA menjahit proses tumbuh menjadi koleksi
TAZA memberi contoh tajam bagaimana fashion dengan cerita bekerja melalui kampanye 26° Rhapsody. Konsep musim panas dalam koleksi ini dipertegas dengan pemilihan cherry tomato sebagai ikon utama kampanye. Bukan sekadar ilustrasi manis, buah kecil ini dipahami sebagai simbol siklus hidup: dari benih, bertunas, berbunga, hingga berbuah dengan warna yang berubah dari hijau menjadi merah cerah.
Simbol itu lalu diterjemahkan ke palet warna musim panas dan siluet modest khas TAZA, sehingga koleksi musim panas ini terasa konsisten secara visual sekaligus konseptual. Dalam koleksi 26° Rhapsody, Taza menghadirkan 16 artikel yang terdiri dari abaya, tunik, one set, hingga khimar atau kerudung. Di baliknya, ada pesan bahwa setiap proses butuh waktu, perhatian, dan kesabaran. Saat Ashilla Ramadhani menegaskan bahwa mereka ingin menghadirkan koleksi yang nyaman namun tetap bercerita tentang proses bertumbuh, ia sesungguhnya sedang menggeser cara kita memaknai modest wear: bukan lagi seragam tren, melainkan catatan perjalanan personal.
Taza Summer Marché Vol. II: ketika koleksi musim panas menjelma ekosistem kreatif
Narasi cherry tomato TAZA tidak berhenti di hanger. Brand modest syar’i ini menutup rangkaian kampanye 26° Rhapsody melalui Summer Marché Vol. II, pop-up market yang digelar pada 17–20 September 2026 di Barnyard, Jakarta Selatan. Di sini, konsep fashion terinspirasi alam meluas menjadi pengalaman ruang: fashion, kuliner, dan komunitas disatukan dalam satu ekosistem kreatif.
Kampanye pertumbuhan cherry tomato diterjemahkan ke pakaian, ruang, makanan, aktivitas, kolaborasi, dan pertemuan. Menu kolaborasi seperti Strawberry Tomato Milky Way hingga Tomato Cheese Gelato menjadikan tomat bukan lagi sekadar motif, tetapi rasa yang bisa dinikmati. Aktivitas seperti field trip, kelas flower arrangement, pilates, kajian Islami, hingga awarding beasiswa memperluas makna koleksi musim panas: ia menjadi musim untuk tumbuh bersama. Ketika Ashilla menyebut bahwa fashion selalu punya ruang untuk membawa cerita yang lebih luas dari sekadar apa yang dikenakan, pernyataan itu terasa nyata di acara ini. Summer Marché Vol. II membuktikan bahwa desain lokal kasual bisa hidup sebagai festival narasi, bukan hanya katalog produk.
Kaenina dan Jakarta Velocity: motif batik kontemporer sebagai bahasa kota
Jika TAZA bertumpu pada cherry tomato, Kaenina menjadikan bunga nona makan sirih sebagai pintu masuk cerita. Dalam koleksi Jakarta Velocity, bunga yang khas dari Jakarta ini dipilih sebagai salah satu sumber inspirasi karena keterkaitannya dengan kota tersebut. Namun Kaenina tidak berhenti pada satu flora; mereka memadukan bunga nona makan sirih dengan inspirasi motif tas anjat dari Kalimantan, mengambil ukiran-ukiran pada tas sebagai elemen visual.
Unsur alam dan budaya ini diterjemahkan menjadi motif batik kontemporer yang menjadi signature Kaenina. Jakarta Velocity mengangkat unsur alam dan budaya yang kemudian diterjemahkan ke dalam motif serta desain busana yang lebih kontemporer. Alih-alih memakai motif parang atau kawung, Kaenina menciptakan motif sendiri yang kemudian diwujudkan dalam bentuk batik cap handmade. Menurut Rokhmi Fitria Ekowati, motif flora dan bentuk geometris lebih mudah diterima pasar nasional maupun global. Di sini, fashion terinspirasi alam tidak sekadar nostalgia; ia menjadi strategi untuk go global lewat bahasa visual yang akrab bagi mata dunia, tetapi tetap berakar pada cerita lokal.
Dari motif ke makna: arah baru desain lokal kasual
Benang merah dari TAZA dan Kaenina jelas: alam digunakan sebagai kosakata untuk menulis ulang identitas desain lokal kasual. Cherry tomato, bunga nona makan sirih, hingga ukiran tas anjat bukan dekorasi sambil lalu; semuanya bekerja sebagai simbol pertumbuhan, keterikatan pada kota, dan jembatan menuju pasar global. Jakarta Velocity mengangkat unsur alam dan budaya tanpa terjebak bentuk batik tradisional, memilih menciptakan motif sendiri yang kontemporer. Sementara TAZA mengubah koleksi musim panas menjadi manifesto tentang proses bertumbuh dan kebersamaan.
Arah ini patut didukung. Fashion dengan cerita memberi alasan baru bagi konsumen untuk memilih sebuah pakaian: bukan sekadar model atau warna, tetapi narasi yang mereka ingin bawa dalam keseharian. Saat brand berani menyatu dengan alam dan budaya secara jujur, mereka tidak hanya menambah variasi motif batik kontemporer, tetapi juga menambah lapisan makna dalam lemari kita. Pertanyaannya kini: apakah kita siap menjadikan setiap atasan, tunik, atau abaya sebagai percakapan tentang siapa kita dan dari mana kita tumbuh?






