Ekspor budaya dimulai dari audiens terdekat
Ekspor industri kreatif adalah upaya membawa karya, cerita, dan pertunjukan melintasi batas negara agar dapat ditemukan, dinikmati, dan dikembangkan bersama oleh audiens baru. Karena itu, strategi yang efektif tidak berhenti pada pengiriman konten: ia juga membuka jalan bagi kreator untuk tampil dan membangun hubungan dengan pasar tujuan. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendorong musisi Indonesia menembus pasar Malaysia, sekaligus memperluas kerja sama di bidang musik, animasi, film, dan pertunjukan langsung. Dorongan itu disampaikan saat ia bertemu Menteri Komunikasi Malaysia Datuk Ahmad Fahmi bin Mohamed Fadzil di sela-sela WCCE ke-5 di Jakarta, 21 Oktober. Peluang lintas batas tampak nyata: animasi Malaysia seperti Upin & Ipin dan Papa Zola dikenal serta digemari anak-anak di Indonesia. Riefky menyebut, “Upin & Ipin serta Papa Zola, sukses di pasar Indonesia dan digemari oleh anak-anak kita”. Bagi musisi, langkah berikutnya adalah mengubah kedekatan budaya itu menjadi kesempatan merilis karya dan tampil di Malaysia.
Kolaborasi teknologi harus memperkuat kreator
Pasar regional saja tidak cukup bila karya lokal ingin bersaing secara global; teknologi dan mitra produksi perlu ikut membuka jalur distribusi. Pemerintah meluncurkan Indonesia–India Creative Tech Corridor pada 24 Oktober di Jakarta untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif global. Kerja sama ini menghubungkan kekayaan cerita dan talenta kreatif Indonesia dengan kemampuan teknologi serta produksi audiovisual India. Cakupannya meliputi teknologi kreatif, kecerdasan artifisial (AI), penciptaan kekayaan intelektual, dan distribusi konten ke pasar internasional. Di KEK Singhasari, Creative Tech Sandbox dibentuk sebagai ruang uji bagi kreator dan pelaku industri untuk mencoba AI serta teknologi baru. Arah ini patut didukung selama AI menjadi alat bantu, bukan pengganti suara kreator. Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penerapan AI di sektor kreatif diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bernilai tinggi, bukan menggantikan peran manusia. Tantangannya ialah memastikan talenta lokal ikut menentukan hasil, bukan sekadar memasok bahan untuk teknologi dan produksi pihak lain.

Kekayaan intelektual perlu menjadi aset yang hidup
Teknologi dapat mempercepat produksi, tetapi nilai jangka panjang ekonomi kreatif Indonesia tetap bergantung pada cerita, karakter, dan karya yang memiliki pemilik serta arah pengembangan jelas. Karena itu, kekayaan intelektual Indonesia perlu hadir sejak awal dalam kemitraan: dikembangkan bersama talenta lokal, dilindungi, lalu dipasarkan ke audiens yang lebih luas. Pemerintah menyatakan koridor dengan India akan melibatkan IP dan talenta lokal, serta mendukung pengembangan talenta, kemitraan industri, perlindungan hak, dan akses pasar. Ini pendekatan yang lebih menjanjikan daripada mengejar jumlah konten semata; karakter yang kuat dapat membuka ruang bagi karya turunan dan hubungan berulang dengan penggemar, tanpa mengaburkan siapa yang menciptakannya. Tahap lanjut kerja sama ini menargetkan penampilan perdana hasil kolaborasi kedua negara di World Audio Visual and Entertainment Summit di Mumbai pada 2027. Kesimpulannya, ekspor yang berkelanjutan menuntut promosi lintas negara, kolaborasi AI kreatif yang berpihak pada manusia, dan pengelolaan IP yang memberi kreator kendali serta manfaat. Tanpa tiga unsur itu, jangkauan global hanya akan menjadi angka penonton, bukan kekuatan budaya.






