Keterampilan AI perlu dibarengi tanggung jawab
Pelatihan AI pelajar adalah kegiatan pembelajaran yang membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan kecerdasan buatan secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab. Di Kota Serang, pemerintah kota melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menggelar pelatihan bagi 100 pelajar SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), negeri maupun swasta, pada 27–28 Oktober 2026 di ruang CWS Diskominfo. Langkah ini tepat waktu: AI kian mudah dipakai untuk belajar sekaligus membuat konten, tetapi kemudahan itu tidak otomatis membuat hasilnya benar. Pelatihan ini karena itu tidak seharusnya berhenti pada pengenalan alat. Literasi AI siswa juga perlu mencakup penilaian atas informasi, pemahaman dampak, dan pertimbangan sebelum membagikan sesuatu. Tanpa bekal itu, keterampilan teknis berisiko menjadi sekadar kemampuan menghasilkan konten lebih cepat, bukan kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak.
Belajar memakai AI, sekaligus memeriksa hasilnya
Materi pelatihan mencakup dasar-dasar AI, manfaat dan risikonya, serta cara mengenali konten buatan AI dibandingkan karya manusia. Kepala Diskominfo Kota Serang, Tri Ningsih, menekankan bahwa siswa jangan langsung percaya pada setiap informasi yang dihasilkan AI dan perlu memeriksanya kembali sebelum dipakai atau dibagikan. Penekanan ini penting karena keluaran AI dapat terdengar meyakinkan meski belum tentu akurat, sementara teks dan gambar yang dihasilkannya bisa sulit dibedakan dari konten asli. Untuk AI bagi pelajar, sikap kritis bukan pelengkap keterampilan digital, melainkan bagian inti penggunaannya. Siswa dapat memanfaatkan AI sebagai pendukung kegiatan belajar dan sarana mengembangkan kreativitas, tetapi jawaban yang dihasilkan tetap perlu dibandingkan dengan sumber tepercaya. Dengan begitu, teknologi membantu proses berpikir alih-alih menggantikannya.
Pencegahan penyalahgunaan harus menjadi bagian utama
Wali Kota Serang Budi Rustandi menyampaikan bahwa pelatihan diperlukan untuk mempersiapkan pelajar menghadapi perkembangan teknologi sekaligus mencegah penyalahgunaan, terutama saat mengakses, mengolah, dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Risiko yang disoroti bukan abstrak: AI dapat dipakai untuk membuat atau menyebarkan informasi menyesatkan, termasuk hoaks. Karena itu, pendampingan orang dewasa dan pembahasan batas penggunaan perlu berjalan bersama latihan teknis. Peserta mendaftar melalui aplikasi Serang Digital dan dibagi menjadi dua kelas sesuai kapasitas ruangan. Cakupan peserta dari sekolah negeri dan swasta memberi akses kepada beragam pelajar, tetapi satu kegiatan singkat tidak cukup untuk membentuk kebiasaan. Sekolah dan keluarga perlu memperkuat pesan yang sama: periksa kebenaran, pikirkan dampak, dan jangan memakai teknologi untuk merugikan orang lain.
Manfaat akan terlihat jika pembelajaran berlanjut
Pemkot Serang berharap siswa menggunakan AI untuk mendukung belajar, mengembangkan kreativitas, dan menghadapi tantangan era digital. Harapan itu masuk akal, tetapi keberhasilannya bergantung pada praktik lanjutan: siswa harus mendapat kesempatan menerapkan keterampilan, menguji hasil AI, dan membahas kesalahan yang ditemukan. Diskominfo berencana memperluas pelatihan kepada masyarakat umum, sebuah tindak lanjut yang dapat memperluas literasi digital di luar sekolah. Namun, ukuran keberhasilan semestinya bukan hanya jumlah peserta atau kemampuan menjalankan alat. Yang lebih penting ialah apakah pelajar mampu menjelaskan batas AI, memeriksa informasi, dan memilih penggunaan yang bermanfaat. Pelatihan ini menawarkan awal yang relevan; dampaknya akan lebih kuat bila prinsip tanggung jawab terus hadir dalam kegiatan belajar sehari-hari.






