Apa Sebenarnya Tren My Favorite Person dan Mengapa Penting?
Tren My Favorite Person trend adalah kebiasaan merekam, menyebut, dan mengapresiasi orang terkasih secara terbuka, yang secara psikologis berfungsi sebagai latihan self-compassion psikologi dan gratitude praktik sehari-hari yang memperkuat hubungan emosional, sekaligus menenangkan sistem saraf yang terbiasa dengan kritik dan tekanan diri.
Di media sosial, My Favorite Person trend digambarkan sebagai tren yang viral dengan manfaat psikologis bagi pemberi dan penerima apresiasi. Orang merekam momen ketika mereka menyebut seseorang sebagai “orang favorit” lalu menyampaikan pujian tulus. Sekilas ini tampak hanya konten manis untuk kesehatan mental media sosial, tetapi esensinya jauh lebih dalam: ini adalah latihan sadar untuk melihat kebaikan, bukan kekurangan, baik pada orang lain maupun diri sendiri. Psikoterapis menyebut bentuk latihan ini sejalan dengan psikologi positif, bidang yang fokus pada kekuatan manusia, rasa syukur, dan penghargaan.

Dari Memuji Orang Lain ke Belas Kasih Diri Sendiri
Dalam psikologi, kemampuan memperlakukan diri dengan lebih hangat ketika menghadapi kegagalan, kekurangan, atau penderitaan sering dikaitkan dengan self-compassion, atau belas kasih terhadap diri sendiri. Ketika kita melatih diri untuk memuji orang lain, kita tanpa sadar sedang memprogram ulang cara pandang kita terhadap manusia: bahwa orang layak dipahami, bukan dihukum; layak dihargai, bukan hanya dinilai dari pencapaian.
Praktik My Favorite Person tidak berhenti pada orang lain; tren ini bisa diarahkan ke diri sendiri. Dengan menyebut diri sebagai “orang favorit”, kita belajar menghargai keberadaan, bukan sekadar hasil. Alih-alih berkata, “Aku tidak cukup baik”, kita mulai mengamati fakta: “Aku hadir untuk orang lain” atau “Aku menyelesaikan tugas hari ini”. Konsep ini sejalan dengan self-compassion psikologi yang dipahami sebagai kemampuan merespons penderitaan diri dengan kebaikan, pemahaman, dan penerimaan, bukan penghukuman.
Mengapa Tren Ini Ampuh Mengikis Self-Criticism
Banyak orang jauh lebih lembut pada teman daripada pada diri sendiri. Mereka bisa berkata “Tidak apa-apa, semua orang bisa salah” kepada orang lain, namun menghukum diri dengan kalimat, “Aku memang selalu gagal” atau “Aku tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar”. Suara batin ini adalah musuh utama belas kasih diri sendiri. Tren My Favorite Person memaksa kita berhenti sejenak dari pola itu, karena fokusnya berpindah dari mencari kesalahan ke mencari hal yang layak diapresiasi.
Psikoterapis menjelaskan bahwa ketika kita konsisten menghargai diri, kita mengumpulkan bukti bahwa kita berharga, mampu, dan layak dicintai. Ini bukan memanjakan diri atau mencari alasan, tetapi menghentikan siklus stres dan penilaian diri yang kejam. Alih-alih menjadikan kritik diri sebagai cara menjaga disiplin, kita belajar bahwa motivasi bisa muncul dari kepedulian terhadap diri. Evaluasi diri pun berubah dari “Aku orang buruk” menjadi “Aku melakukan kesalahan, apa yang bisa kupelajari?”.
Gratitude Harian: Dari Konten Singkat ke Kebiasaan Seumur Hidup
Latihan My Favorite Person sejatinya adalah gratitude praktik sehari-hari: melatih otak mengenali hal yang berjalan baik, bukan cuma yang salah. Menurut psikoterapis, latihan ini relevan dengan psikologi positif yang meneliti tentang rasa syukur dan penghargaan terhadap kekuatan manusia. Ketika kita mendokumentasikan momen kasih sayang, otak tidak hanya menerima pengalaman hangat satu kali; rekaman itu menjadi penguat psikologis yang bisa diputar ulang setiap kali kita merasa tidak berharga.
Menariknya, memberi kebaikan kepada diri sendiri juga membantu menurunkan hormon stres karena tubuh merasa lebih aman. Pada tingkat sistem saraf, ini adalah cara halus untuk mengatakan, “Aku aman, aku tidak perlu terus siaga terhadap ancaman dari diri sendiri.” Latihan ini memperdalam pemahaman diri dan menumbuhkan kepercayaan diri, karena kita terbiasa melihat diri sebagai manusia yang sedang belajar, bukan proyek yang gagal.
Cara Membawa Spirit My Favorite Person ke Kehidupan Sehari-hari
Jika My Favorite Person trend berhenti di media sosial, manfaatnya akan cepat menguap. Kekuatan sejatinya muncul ketika kita menjadikannya pola pikir harian untuk kesehatan mental media sosial dan di luar layar. Mulailah dengan bertanya setiap malam: “Siapa orang favoritku hari ini, dan mengapa?” Sertakan diri sendiri dalam daftar itu. Tuliskan satu hal kecil yang kamu hargai dari dirimu: hadir untuk teman, menyelesaikan tugas, atau sekadar berani beristirahat saat lelah.
Ingat, self-compassion bukan berarti berhenti bertanggung jawab. Belas kasih diri sendiri berarti mampu berkata, “Aku melakukan kesalahan, aku perlu memperbaikinya, tetapi aku tidak harus membenci diriku untuk belajar”. Tren ini adalah undangan untuk mengubah cara kita berbicara kepada diri, dari nada hakim ke nada sahabat. Pada akhirnya, tujuan My Favorite Person bukan mempercantik feed, melainkan membangun kebiasaan batin yang lebih lembut, realistis, dan penuh penerimaan.






