Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lagu-Lagu K-Pop yang Menemani Masa Sulit: Nostalgia Hits Viral Era Pandemi

Lagu-Lagu K-Pop yang Menemani Masa Sulit: Nostalgia Hits Viral Era Pandemi
Minat|Penyanyi/Band Pop

K-Pop Era Pandemi: Dari Hiburan Menjadi Penopang Emosi

K-Pop era pandemi adalah periode ketika lagu-lagu K-Pop tidak sekadar menguasai tangga lagu dan media sosial, tetapi juga berfungsi sebagai pelarian kolektif, pengatur suasana hati, dan musik terapi emosional bagi jutaan orang yang terjebak di rumah, hidup dalam ketidakpastian, dan mencari cara baru untuk merasa terhubung dengan dunia di luar layar.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 mengubah rutinitas menjadi serba daring dan serba layar. Di tengah rasa cemas, bosan, dan kesepian, musik K-Pop hadir bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai penopang emosi yang konsisten. Ketika aktivitas di luar rumah dibatasi, musik menjadi salah satu hiburan yang menemani masyarakat melewati hari-hari penuh ketidakpastian, termasuk para penggemar K-Pop. Di sinilah lahir fenomena lagu K-Pop nostalgia: lagu-lagu yang sekarang mungkin jarang muncul di tren, tetapi masih menempel kuat di ingatan emosional kita.

Menurut Yonhap News Agency, “Any Song” bertahan di puncak sejumlah tangga lagu Korea dan popularitasnya didorong oleh video dance challenge yang viral. Kutipan ini menegaskan bahwa apa yang kita sebut lagu viral K-Pop bukan sekadar hype sesaat, melainkan gejala sosial: musik yang menyebar lewat YouTube, TikTok, dan media sosial lain, lalu mengikat orang-orang yang bahkan tidak saling kenal dalam satu gerakan bahu, satu potongan koreografi, satu suara nyanyian pelan di kamar masing-masing.

“Any Song” hingga “WANNABE”: Viral, Ringan, tapi Menyelamatkan Akal Sehat

Jika harus memilih beberapa hits K-Pop terbaik yang menjadi ikon K-Pop era pandemi, “Any Song” dan “WANNABE” hampir selalu muncul di daftar. Dirilis pada Januari 2020, “Any Song” menjadi salah satu lagu yang paling identik dengan tren dance challenge menjelang dan pada awal pandemi. Gerakannya yang sederhana membuat banyak selebritas dan pengguna media sosial ikut membuat video tarian bersama teman, meski hanya lewat layar. Di saat kontak fisik dibatasi, koreografi ringan ini menjadi jembatan sosial yang tak terlihat.

“WANNABE” dari ITZY, yang dirilis Maret 2020, menambah lapisan lain pada fenomena lagu viral K-Pop. Gerakan bahu Ryujin yang ikonik menyebar cepat melalui TikTok dan video dance cover, memperlihatkan bagaimana koreografi dapat menyebar dengan cepat bahkan ketika para penggemar tidak bisa berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama. Di balik kesan fun dan energik, kedua lagu ini bekerja sebagai musik terapi emosional: memberi ruang untuk menari di kamar, tertawa pada diri sendiri, dan merasa “normal” di tengah situasi yang jauh dari normal.

Di sinilah kekuatan lagu K-Pop nostalgia terasa: ketika diputar ulang hari ini, potongan intro “Any Song” atau beat “WANNABE” bukan hanya mengingatkan pada tren dance challenge, tetapi juga pada masa belajar dari rumah, mengerjakan tugas secara daring, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Kenangan itu personal, tetapi pola emosinya kolektif.

“Dynamite”, “Maria”, dan “How You Like That”: Soundtrack Optimisme dan Penerimaan Diri

Di sisi lain spektrum, ada lagu-lagu yang terasa seperti manifesto emosional generasi pandemi. Dirilis pada Agustus 2020, “Dynamite” hadir dengan nuansa disco-pop yang ceria dan lirik berbahasa Inggris, menawarkan suasana ringan dan pesan optimistis ketika banyak orang menghadapi keterbatasan aktivitas akibat pandemi. BTS sendiri menjelaskan bahwa mereka ingin menghadirkan musik yang menyenangkan dan memberi semangat kepada pendengar. Tidak heran, sampai sekarang “Dynamite” sering menjadi pengingat akan periode ketika musik menjadi salah satu sumber hiburan di tengah ketidakpastian.

“Maria” dari Hwasa, dirilis Juni 2020, mengangkat tema menghadapi kritik, tekanan sosial, dan pentingnya menerima diri sendiri. Di tengah situasi pandemi yang menguji kesehatan mental, pesan ini terasa dekat bagi banyak pendengar. Sementara itu, “How You Like That” dari BLACKPINK, juga rilis Juni 2020, datang dengan visual megah, musik kuat, dan koreografi mudah dikenali, menjadi salah satu rilisan K-Pop yang paling banyak dibicarakan saat itu. Bersama berbagai rilisan lain, lagu ini menunjukkan bahwa popularitas musik Korea tetap berkembang di tengah pandemi.

Ketika lagu-lagu ini diputar ulang hari ini, kita tidak hanya mendengar hits K-Pop terbaik secara musikal, tetapi juga mendengar gema optimisme, kemarahan, dan keinginan untuk bertahan hidup yang pernah kita rasakan. Inilah esensi lagu K-Pop nostalgia: bukan sekadar throwback, melainkan arsip emosi kolektif.

Forgotten K-Pop atau Sekadar Berganti Tren?

Kini, ketika masa pandemi telah berlalu, beberapa lagu itu mungkin sudah jarang terdengar dalam tren musik sehari-hari. Istilah “forgotten K-Pop” muncul untuk menyebut lagu-lagu yang pernah begitu populer, tetapi perlahan tersisih oleh rilisan baru. Namun menyebutnya terlupakan terasa tidak adil. Fenomena ini lebih tepat dibaca sebagai konsekuensi cepatnya perputaran tren industri K-Pop: setiap tahun hadir musik, koreografi, dan tantangan baru yang merebut perhatian publik.

Akibatnya, lagu yang dahulu terdengar di mana-mana dapat perlahan kehilangan tempat dalam percakapan sehari-hari. Tapi itu tidak berarti kehilangan tempat di hati pendengarnya. Ada lagu yang tetap memiliki pendengar setia meskipun perhatian publik telah berpindah ke rilisan baru. Ketika diputar kembali, musik tersebut dapat membawa pendengar pada suasana dan pengalaman yang pernah mereka alami, meskipun saat ini lagu itu tidak lagi mendominasi tren. Di titik ini, musik bekerja melampaui algoritma: ia menempel pada memori, bukan pada timeline.

Untuk generasi yang melewati masa remaja atau awal dewasa di tengah pandemi, lagu-lagu ini adalah penanda fase hidup. Bagi sebagian orang, sebuah lagu dapat mengingatkan pada masa belajar dari rumah, mengerjakan tugas secara daring, mengikuti dance challenge, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Relevansinya bukan lagi soal viral atau tidak, tetapi seberapa dalam ia tertanam dalam cerita pribadi.

Nostalgia sebagai Terapi: Mengapa Kita Masih Memutar Lagu-Lagu Itu

Jika ditarik garis besar, fenomena lagu K-Pop nostalgia dari era pandemi menunjukkan satu hal: musik punya kekuatan besar dalam membangun koneksi emosional dengan pendengar. Musik memberikan suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari dan menjadi pelarian ketika dunia terasa terlalu berat. Di masa pandemi, musik K-Pop berperan sebagai hiburan dan terapi emosional; hari ini, ia bertransformasi menjadi pintu menuju rekonsiliasi dengan masa sulit yang sudah lewat.

Ketika kita memutar kembali “Any Song”, “Dynamite”, “WANNABE”, “Maria”, atau “How You Like That”, kita sedang melakukan lebih dari sekadar bernostalgia. Kita mengakui bahwa masa itu berat, tetapi kita juga mengingat bahwa kita berhasil melewatinya—dengan bantuan lagu-lagu yang mengiringi setiap tugas daring, setiap malam begadang, setiap tawa di depan kamera ponsel. Lagu viral K-Pop dari era pandemi mungkin tidak lagi menguasai tren, tetapi mereka tetap menjadi soundtrack diam yang membentuk siapa kita hari ini.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran terbesar dari K-Pop era pandemi: tren boleh berlalu, tapi koneksi emosional yang dibangun musik akan bertahan jauh lebih lama daripada masa tayang sebuah challenge di timeline.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!