Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kopi Joss: Bara Arang yang Menyalakan Malam dan Identitas Jogja

Kopi Joss: Bara Arang yang Menyalakan Malam dan Identitas Jogja
Minat|Makanan Kaki Lima

Kopi Joss, Bara Arang, dan Sebuah Identitas

Kopi joss Yogyakarta adalah minuman kopi tradisional berupa seduhan kopi hitam panas yang disajikan dengan bara arang yang masih menyala, dicelupkan langsung ke dalam gelas hingga mengeluarkan suara mendesis khas yang menjadi asal sebutan “joss”, serta menjadi bagian penting dari budaya angkringan dan kuliner malam Jogja yang membentuk identitas kota. Kopi ini tidak layak dipandang sebagai gimmick wisata; ia adalah simbol bagaimana kreativitas rakyat kecil bisa menjelma warisan budaya. Bara arang yang tampak sederhana berubah menjadi ikon yang menghubungkan pedagang, warga, hingga wisatawan lewat satu gelas kopi. Di tengah gempuran kedai kopi modern, kopi joss adalah pengingat bahwa inovasi tidak harus lahir di ruang ber-AC, tetapi di trotoar, di sisi rel, di bangku panjang angkringan.

Kopi Joss: Bara Arang yang Menyalakan Malam dan Identitas Jogja

Ritual Kopi Bara Arang: Cara Minum yang Mengajak Kita Melambat

Yang membuat kopi joss berbeda bukan sekadar arangnya, melainkan ritualnya. Secangkir kopi hitam panas disajikan, lalu penjual mengambil bara arang yang masih membara dan mencelupkannya ke dalam kopi hingga terdengar suara “joss” yang ikonik. Saat itu, pengunjung bukan hanya penikmat, tetapi juga saksi sebuah pertunjukan kecil: percikan, desis, dan aroma smokey yang pelan-pelan memenuhi udara. Cara minum pun cenderung pelan; menunggu suhu turun, memperhatikan warna kopi, mencicipi perubahan rasa yang lebih lembut namun tetap pekat. Di sini, ritual kopi bara arang menjadi ajakan diam-diam untuk melambat. Ketika banyak orang mengejar kopi cepat saji, kopi joss menawarkan pengalaman: menonton, mencium, dan baru kemudian meneguk. Itulah perlawanan paling tenang terhadap budaya serbacepat, lahir dari sebuah angkringan sederhana.

Dari Angkringan Lik Man ke Warisan Budaya Takbenda

Sejarah kopi joss berpusat pada satu nama: Lik Man, perintis yang memperkenalkan minuman ini lewat angkringannya di sekitar Stasiun Tugu. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat kopi joss lahir dari inovasi sederhana ketika Lik Man memasukkan arang membara ke dalam seduhan kopi untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dari sana, bara arang berubah menjadi ciri khas yang direspons positif dan menjelma identitas kuliner kota. Pada 2024, kopi joss ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sebuah pengakuan resmi bahwa angkringan pinggir jalan pun punya martabat budaya setara dengan tradisi lain. Di tengah perayaan Hari Jadi ke-270 Kota Jogja yang mengusung filosofi “Autentik Konkret”, pemerintah kota terang-terangan ingin kekhasan kuliner seperti ini menjadi bentuk karya yang menyejahterakan masyarakat, bukan sekadar simbol seremonial. Ini bukan nostalgia; ini strategi kultural-lokal yang sangat modern.

Kopi Joss dan Kuliner Malam Jogja: Ruang Sosial yang Tak Pernah Tidur

Kopi joss adalah jantung kuliner malam Jogja, lahir dan tumbuh bersama budaya angkringan yang membuka ruang bagi siapa saja. Mahasiswa, pekerja, wisatawan, hingga masyarakat lokal duduk berdampingan di bangku yang sama, mengobrol ringan ditemani wedang panas dan nasi kucing. Di sini, secangkir kopi joss lebih mirip tiket masuk ke sebuah ruang sosial ketimbang sekadar minuman. Wisatawan menjadikannya ritual wajib, warga menjadikannya tempat singgah setelah bekerja. Angkringan Kopi Jos Lik Man di kawasan Pasar Kranggan, maupun deretan angkringan kopi joss lain di berbagai sudut kota, menunjukkan bagaimana tradisi ini terus berkembang meski tren kedai kopi berganti-ganti. Menikmati kopi joss terasa seperti mencicipi bagian kecil dari kehidupan malam Yogyakarta, dengan cerita dan tawa yang menguap bersama asap bara arang.

Dari Autentik ke Konkret: Tantangan Merawat Simbol, Bukan Menjualnya Habis

Pemerintah Kota Jogja menegaskan filosofi “autentik dalam jati diri, konkret dalam karya, dan nyata dalam manfaat” pada perayaan HUT ke-270 yang digelar sepanjang 1–30 Oktober 2026. Di tengah semangat itu, kopi joss adalah contoh paling nyata: autentik karena lahir dari warga, konkret karena menjadi usaha riil, dan bermanfaat karena menggerakkan ekonomi kreatif kuliner malam. Namun di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan kopi joss ikon tanpa mengubahnya jadi sekadar komoditas yang kehilangan ruh. Kota ini perlu menjaga agar ritual kopi bara arang tetap humanis dan inklusif. Selama bara arang masih dicelupkan dengan tangan penjual angkringan, selama percakapan masih mengalir di bangku panjang, kopi joss akan terus menjadi simbol kuliner Yogyakarta yang hidup, bukan artefak yang dipajang di brosur wisata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!