Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mobil Listrik vs Bensin: Mana Lebih Hemat untuk Jangka Panjang?

Mobil Listrik vs Bensin: Mana Lebih Hemat untuk Jangka Panjang?
Minat|Memilih Kendaraan Energi Baru

Gambaran Umum: Mana yang Lebih Masuk Akal untuk Anda?

Mobil listrik vs bensin adalah perbandingan antara kendaraan yang memakai energi listrik tersimpan dalam baterai dan kendaraan dengan mesin pembakaran internal berbahan bakar BBM, dilihat dari biaya mobil listrik, penghematan energi kendaraan, serta biaya operasional jangka panjang yang membentuk total cost of ownership selama masa pakai. Dalam praktik, mobil listrik jauh lebih hemat energi, tetapi mobil bensin masih unggul dari sisi harga awal dan kemudahan pengisian. Jika Anda banyak berkendara dan bisa mengisi daya di rumah, mobil listrik hampir selalu menang secara biaya. Namun bila dana awal terbatas, akses listrik terbatas, atau infrastruktur pengisian belum mendukung, mobil bensin masih terasa lebih praktis. Sisanya bergantung pada seberapa lama Anda berencana memakai mobil dan seberapa besar toleransi terhadap perubahan kebiasaan mengisi “bahan bakar”.

Mobil Listrik vs Bensin: Mana Lebih Hemat untuk Jangka Panjang?

Perbandingan Biaya Energi: Hemat hingga 84% untuk Setiap Kilometer

Kunci penghematan mobil listrik ada pada biaya energi per kilometer. Simulasi konsumsi umum menunjukkan mobil listrik memakai sekitar 15 kWh per 100 km, sedangkan mobil bensin menempuh 12 km per liter. Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp1.444,70 per kWh dan harga BBM Rp10.000–Rp15.950 per liter, selisihnya sangat lebar. Biaya energi mobil listrik yang diisi di rumah sekitar Rp21.670 per 100 km (Rp217 per km), sementara di SPKLU sekitar Rp37.500 per 100 km (Rp375 per km). Sebagai pembanding, mobil bensin dengan Pertalite menghabiskan sekitar Rp83.333 per 100 km (Rp833 per km) dan dengan Pertamax sekitar Rp132.917 per 100 km (Rp1.329 per km). Artinya, pengisian di rumah memangkas biaya energi sekitar 74% dibanding Pertalite dan 84% dibanding Pertamax.

Jenis kendaraan / energiBiaya energi per 100 kmPerkiraan biaya per km
Mobil listrik (isi di rumah)Rp21.670± Rp217/km
Mobil listrik (isi di SPKLU)Rp37.500± Rp375/km
Mobil bensin (Pertalite)Rp83.333± Rp833/km
Mobil bensin (Pertamax)Rp132.917± Rp1.329/km
Ilustrasi lain EV (tarif Rp1.700/kWh, 6,5 km/kWh)—± Rp260/km

Ilustrasi lain menunjukkan, dengan tarif listrik sekitar Rp1.700 per kWh dan harga bensin Rp10.000 per liter, biaya energi mobil listrik sekitar Rp260 per km, sedangkan mobil bensin sekitar Rp833 per km. Dari sini terlihat bahwa biaya energi kendaraan listrik bisa lebih rendah sekitar 69% dibanding mobil bensin. Dalam satu tahun pemakaian 15.000 km, mobil bensin dengan Pertalite menghabiskan sekitar Rp12,5 juta, Pertamax sekitar Rp19,9 juta, sementara mobil listrik yang diisi di SPKLU sekitar Rp5,6 juta dan di rumah sekitar Rp3,3 juta. Penggunaan mobil listrik dapat menghemat biaya energi sekitar Rp6,9 juta hingga Rp16,7 juta per tahun dibandingkan mobil bensin.

Mobil Listrik vs Bensin: Mana Lebih Hemat untuk Jangka Panjang?

Total Cost of Ownership: Hemat Operasional vs Harga Awal dan Risiko

Saat menghitung total cost of ownership, biaya energi hanyalah satu komponen. Mobil listrik menang telak di sini: biaya energi mobil listrik yang diisi di rumah sekitar 3,8 kali lebih murah dibanding Pertalite dan 6,1 kali lebih murah dibanding Pertamax. Namun keputusan membeli mobil listrik tetap dipengaruhi faktor lain, seperti harga kendaraan, bunga kredit, dan kepastian insentif pemerintah. Biaya mobil listrik di awal umumnya lebih tinggi, sehingga cicilan bisa lebih berat, apalagi di tengah suku bunga kredit yang mengikuti BI Rate. Di sisi lain, mobil listrik cenderung lebih sederhana dari sisi komponen mesin sehingga potensi penghematan perawatan rutin cukup besar, walau angka detailnya tidak dibahas di sumber. Nilai jual kembali juga masih berkembang, karena pasar kendaraan bekas listrik belum sebesar mobil bensin.

Untuk biaya operasional jangka panjang, Anda perlu memasukkan beberapa variabel: tarif listrik yang dievaluasi pemerintah setiap triwulan, sehingga bisa berubah; harga BBM yang juga fluktuatif; serta pola berkendara harian. Menurut salah satu ilustrasi, biaya energi kendaraan listrik bisa lebih rendah sekitar 69% dibandingkan mobil bensin, tetapi besaran penghematan aktual bergantung pada tarif listrik, harga bahan bakar, konsumsi kendaraan, kondisi lalu lintas, dan gaya mengemudi. Meski biaya energi mobil listrik relatif lebih rendah, ada sejumlah hal yang perlu diperhitungkan sebelum memutuskan beralih dari mobil bensin ke kendaraan listrik, agar pilihan sesuai kebutuhan mobilitas dan kemampuan finansial.

Faktor Non-Teknis: Infrastruktur, Daya Beli, dan Risiko Kebijakan

Selain angka penghematan, keputusan mobil listrik vs bensin sangat dipengaruhi faktor non-teknis. Kelangkaan BBM di beberapa daerah membuat mobil listrik menarik karena tidak bergantung pada pasokan bensin. Namun kenaikan harga BBM tidak otomatis mendorong semua orang beralih; pembeli mobil listrik saat ini umumnya berasal dari kelompok dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi, sementara kelas menengah masih tertekan daya belinya. Konsumen juga menunggu kepastian insentif kendaraan listrik yang disiapkan bertahap dengan kuota awal sekitar 100.000 unit. Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan kemudahan memasang pengisi daya di rumah sangat menentukan, karena pengisian di rumah adalah kunci penghematan maksimal. Tanpa akses ini, Anda akan lebih sering bergantung pada SPKLU yang tetap lebih hemat dari bensin, tetapi tidak sehemat tarif rumah.

Dari sisi pengalaman, penyedia kendaraan listrik mendorong calon konsumen melakukan test drive agar memahami karakter mobil listrik dan cara pengisian dayanya. Pengalaman pengguna yang positif dapat meningkatkan kepercayaan dan mengurangi kekhawatiran soal jarak tempuh maupun kepraktisan. Di sisi pembiayaan, data menunjukkan minat terhadap kendaraan listrik masih tumbuh, dengan pembiayaan mencapai Rp26,20 triliun per Agustus 2026. Namun tarif listrik perlu ikut diperhitungkan dalam simulasi biaya operasional karena dievaluasi setiap triwulan. Singkatnya, mobil listrik paling masuk akal bagi mereka yang siap berinvestasi di awal, memiliki akses pengisian di rumah, dan berencana memakai mobil dalam jangka panjang. Mobil bensin lebih cocok bagi yang mengutamakan harga awal lebih rendah dan tidak ingin bergantung pada kebijakan tarif listrik atau ketersediaan infrastruktur baru.

Buy if / Skip if

  • Buy the mobil listrik if Anda menempuh jarak tinggi tiap tahun (misalnya sekitar 15.000 km) dan ingin memaksimalkan penghematan energi hingga 84% dibanding bensin premium.
  • Skip the mobil listrik if Anda belum punya akses pengisian daya di rumah atau SPKLU terdekat, sehingga pengisian akan merepotkan untuk penggunaan harian.
  • Buy the mobil listrik if Anda siap menanggung harga pembelian dan cicilan lebih tinggi demi biaya operasional jangka panjang yang bisa sekitar tiga kali lebih hemat dibanding bensin.
  • Skip the mobil listrik if kemampuan finansial Anda masih sensitif terhadap bunga kredit dan belum ada kepastian insentif yang membuat cicilan terasa ringan.
  • Buy the mobil bensin if Anda lebih mengutamakan harga awal lebih terjangkau dan ingin tetap memakai pola isi BBM cepat tanpa mengubah kebiasaan.
  • Skip the mobil bensin if Anda khawatir dengan risiko kelangkaan atau kenaikan harga BBM dan ingin mengurangi ketergantungan pada pasokan bensin.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!