Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Risiko Kesehatan Tersembunyi di Balik Olahraga Intensitas Tinggi

Risiko Kesehatan Tersembunyi di Balik Olahraga Intensitas Tinggi
Minat|Olahraga untuk Kesehatan

Olahraga Intensitas Tinggi: Menyehatkan, Tapi Bukan Tanpa Risiko

Risiko olahraga intensitas tinggi adalah kemungkinan munculnya gangguan kesehatan serius, seperti aritmia jantung, cedera, dan kelelahan ekstrem, yang meningkat ketika tubuh dipaksa bekerja jauh di atas kapasitas aman, terutama tanpa persiapan, pemantauan, dan pemahaman yang cukup tentang batas fisik masing-masing individu. Olahraga intensitas tinggi dan event marathon sering dipromosikan sebagai simbol gaya hidup sehat, tetapi narasi ini menyesatkan bila mengabaikan sisi gelapnya. Ketika target waktu, pace, dan jarak menjadi obsesi, kesehatan mudah tergeser dari prioritas utama. Di sinilah kita perlu bersikap kritis: olahraga memang wajib, tetapi cara berolahraga harus ditata ulang. Pertanyaannya bukan lagi “seberapa jauh saya bisa lari?” melainkan “seberapa aman tubuh saya untuk mencapai target itu?”.

Aplikasi Fitness: Dari Motivasi Menjadi Pemicu Olahraga Berlebihan

Aplikasi olahraga dengan fitur pace, leaderboard, dan komparasi performa memang memotivasi, tetapi juga dapat mengubah olahraga menjadi kompetisi tanpa akhir yang berbahaya. Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi ginjal dan hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, mengingatkan bahwa kebiasaan membandingkan pace dan performa lewat aplikasi olahraga dapat mendorong seseorang memaksakan diri tanpa memahami batas tubuh. Saat grafik dan angka di layar menjadi patokan tunggal, banyak orang lupa bahwa tubuh bukan mesin yang bisa di-reset kapan saja. Menurut Decsa, sehat dan bugar adalah dua hal berbeda; kemampuan mencapai target fisik tidak otomatis berarti organ tubuh baik-baik saja. Olahraga berlebihan bahaya ketika pencapaian orang lain dijadikan standar, lalu rasa “si paling sehat, si paling kuat” membuat kita menutup mata terhadap tekanan darah, riwayat keluarga, pola makan, tidur, dan stres yang tak kalah penting.

Marathon dan Aritmia Jantung: Risiko yang Sering Diabaikan

Ajang half marathon dan full marathon memang semakin diminati, tetapi di balik medali dan foto garis finis, ada risiko aritmia jantung marathon yang nyata. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), menjelaskan bahwa aktivitas lari jarak jauh membuat jantung bekerja dalam intensitas tinggi dalam waktu lama, memicu lonjakan hormon adrenalin yang pada sebagian orang bisa memicu gangguan irama jantung dengan tingkat keparahan beragam. Kehilangan cairan dan elektrolit seperti natrium dan kalium saat berlari juga dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung yang sangat sensitif terhadap perubahan kadar elektrolit. Pada pelari endurance level atlet, latihan ketahanan jangka panjang bahkan dapat mengubah struktur jantung, termasuk pembesaran dan fibrosis atrium. Bobby mengingatkan secara tajam: kita tidak pernah tahu apakah pribadi kita termasuk bagian kecil yang berisiko atau mayoritas yang aman.

Risiko Kesehatan Tersembunyi di Balik Olahraga Intensitas Tinggi

Persiapan Marathon Aman: Periksa Dulu, Latih Pelan-Pelan

Jika ingin mengikuti marathon dengan aman, modal semangat saja tidak cukup. Persiapan marathon aman harus dimulai dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Bobby menyarankan peserta menjalani medical check-up sebelum perlombaan, termasuk pengukuran tekanan darah, gula darah, EKG dasar, tes treadmill atau cardiopulmonary exercise testing, dan echocardiografi. Langkah ini bukan formalitas, melainkan cara jujur menilai apakah jantung siap menanggung beban lari jarak jauh. Ia juga menekankan agar tidak mengikuti half marathon maupun full marathon tanpa persiapan latihan yang cukup, idealnya di bawah bimbingan profesional. Sesi latihan bertahap membantu tubuh membangun fondasi kebugaran, bukan memaksa adaptasi instan yang berisiko. Bagi yang memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit kronis dan konsumsi obat rutin, disiplin mengikuti anjuran dokter selama persiapan dan event mutlak diperlukan.

Kenali Batas Tubuh: Data Penting, Tapi Bukan Segalanya

Dalam era angka dan grafik, kita perlu mengembalikan satu prinsip sederhana: tubuh punya bahasa sendiri, dan itu lebih penting dari statistik di aplikasi. Decsa menegaskan, pencapaian orang lain tidak seharusnya dijadikan patokan untuk memaksakan kemampuan diri; pegiat olahraga harus "know your limit", tahu batasan dan kapan harus berhenti. Data pace dan heart rate berguna, tetapi keputusan menaikkan intensitas seharusnya mempertimbangkan respons tubuh: detak jantung yang terlalu cepat, pusing, nyeri dada, sesak, atau rasa akan pingsan adalah sinyal berhenti, bukan tantangan untuk dilawan. Olahraga berlebihan bahaya karena sering membuat kita mengabaikan sinyal ini demi target pribadi atau komunitas. Kesimpulannya tegas: jadikan olahraga bagian hidup, bukan ajang pembuktian ego. Event lari akan selalu ada, tetapi jantung, ginjal, dan organ lain yang bekerja diam-diam itu hanya satu. Menjaganya adalah kemenangan paling penting.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!