Strategi BUMN Beli Perusahaan Global dan Taruhan Daya Saing

Strategi BUMN Beli Perusahaan Global dan Taruhan Daya Saing
Minat|Asia Tenggara

Prabowo Mengutus BUMN ke Panggung Global: Ambisi Besar, Risiko Besar

Strategi BUMN beli perusahaan global adalah kebijakan ketika perusahaan milik negara menggunakan keuntungan usaha untuk membeli perusahaan internasional terbaik agar menguasai teknologi, hak kekayaan intelektual, sistem manajemen, dan akses pasar, dengan tujuan memperkuat ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional pada jangka panjang. Kebijakan ini bukan langkah teknis biasa, melainkan pilihan politik yang mengubah peran BUMN dari sekadar pengelola aset domestik menjadi pemain aktif dalam perebutan teknologi strategis dunia. Presiden Prabowo Subianto secara terang menyatakan keinginannya agar keuntungan BUMN dipakai untuk membeli perusahaan-perusahaan terbaik di dunia demi diambil teknologinya. Ini adalah taruhan besar: bila berhasil, BUMN bisa menjadi mesin adopsi teknologi BUMN yang mempercepat lompatan industri; bila salah urus, risiko pemborosan modal publik membesar. Pertanyaannya, apakah fondasi kelembagaan BUMN siap menghadapi level permainan setinggi itu?

Hilirisasi Danantara: 26 Proyek, Tapi Siapa yang Untung Paling Besar?

Strategi hilirisasi Danantara diposisikan Prabowo sebagai tulang punggung transformasi BUMN dari penjual bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah. Hingga saat ini, Danantara disebut telah melakukan groundbreaking 26 proyek hilirisasi sepanjang 2026, dari pengolahan batu bara menjadi DME sebagai pengganti LPG, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, sampai smelter alumina menjadi aluminium yang diklaim menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja. Secara konsep, ini konsisten dengan gagasan adopsi teknologi BUMN: membeli perusahaan global untuk menyerap teknologi, lalu memakainya dalam rantai nilai hilir di dalam negeri. Namun sisi kritisnya adalah: apakah desain proyek benar-benar memaksimalkan keuntungan BUMN, atau justru mengikat BUMN pada investasi besar yang baru akan terasa manfaatnya setelah berganti pemerintahan? Hilirisasi bukan sekadar groundbreaking; ia butuh tata kelola, pasar yang jelas, dan kapasitas manajemen yang belum tentu sudah matang di semua BUMN.

Aset BUMN Tak Boleh Tidur: Kolaborasi Swasta Jadi Penopang atau Penggerus?

Di dalam negeri, Prabowo menegaskan aset BUMN tak boleh dibiarkan tidur: tanah, gedung, jaringan, kawasan, dan fasilitas yang belum dikelola optimal harus segera dimobilisasi. Pemerintah akan membuka ruang kerja sama pemanfaatan aset BUMN dengan pihak swasta, dengan tetap menjaga kepemilikan strategis negara dan menuntut proses yang terbuka, kompetitif, serta akuntabel. Dengan pendekatan ini, restrukturisasi perusahaan negara tidak diceritakan sebagai penjualan aset, melainkan sebagai pengaktifan aset yang menganggur untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dan mendorong investasi serta pertumbuhan ekonomi. Secara prinsip, ini adalah koreksi atas pola lama BUMN yang sering menimbun aset tanpa nilai tambah. Tetapi membuka pintu swasta tanpa desain pengawasan yang kuat dapat menggeser orientasi BUMN dari kepentingan publik ke kepentingan segelintir mitra. Di sinilah politik tata kelola menjadi penentu: apakah kerja sama akan menyehatkan BUMN, atau hanya menjadi skema pemanfaatan aset negara oleh kelompok yang lebih kuat secara finansial?

Daya Saing Industri Nasional: Lompatan Teknologi atau Ketergantungan Baru?

Prabowo berharap kombinasi BUMN beli perusahaan global, hilirisasi Danantara, dan optimalisasi aset akan memperkuat ekonomi dan daya saing industri nasional. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa dengan membeli perusahaan terbaik dunia, negara bisa "dapat teknologinya, dapat IP-IP-nya, manajemen terbaik, pasar, dan pengalaman mereka" sehingga ekonomi menjadi kuat. Secara logika, membeli perusahaan yang sudah matang memang cara cepat mengurangi jurang teknologi. Namun ada risiko bahwa BUMN hanya menjadi pemilik pasif, sementara transfer pengetahuan tidak berjalan. Tanpa reformasi budaya kerja, meritokrasi di manajemen, dan keberanian menutup proyek yang tidak efektif, adopsi teknologi BUMN berpotensi berubah menjadi koleksi aset mahal tanpa dampak nyata ke produksi lokal. Lompatan teknologi baru terjadi bila akuisisi diikuti agenda serius membangun kompetensi manusia, bukan hanya portofolio perusahaan.

Kesimpulan: Momentum Transformasi BUMN Harus Dijaga dari Euforia dan Oligarki

Arahan Prabowo menjadikan BUMN sebagai ujung tombak akuisisi teknologi global, hilirisasi massif, dan pengaktifan aset tidur adalah langkah berani yang bisa mengubah lanskap industri nasional. Namun ambisi besar selalu datang bersama dua ancaman: euforia politik yang mengabaikan kalkulasi bisnis, dan oligarki yang mengincar akses ke aset negara melalui kerja sama yang tampak sah. Agar strategi ini benar-benar mengangkat daya saing industri nasional, pemerintah perlu menjadikan transparansi, seleksi manajemen profesional, serta evaluasi ketat atas setiap akuisisi dan proyek hilirisasi sebagai syarat utama. Tanpa itu, BUMN berisiko menjadi raksasa yang melangkah jauh secara geografis, tetapi tetap rapuh secara teknologi dan keuangan. Kesimpulannya, kebijakan ini layak didukung sebagai arah besar, tetapi harus diawasi keras dalam pelaksanaannya agar tidak berubah menjadi bab baru dari kegagalan reformasi BUMN.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!