Erau Adat Kutai: Festival yang Menjadi Mesin Wisata Baru
Festival adat Kutai adalah rangkaian perayaan tradisi, ritual, dan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara yang dipentaskan secara terbuka, sehingga menarik wisatawan untuk menyaksikan prosesi adat, mengenal identitas lokal, dan mendorong pertumbuhan pariwisata budaya lokal melalui kunjungan massal yang terukur dan berulang setiap tahun. Lonjakan pengunjung Erau Adat Pelas Benua tahun ini menjadi bukti paling jelas: budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi mesin wisata baru yang tidak boleh diremehkan. Sejak pembukaan pada 20 September, jumlah wisatawan yang terdata menembus sekitar 700 ribu orang hingga Minggu, 27 September, jauh di atas proyeksi awal pemerintah daerah yang hanya 40 ribu kunjungan sepanjang pelaksanaan Erau. Ketika festival adat Kutai sanggup mengalihkan arus manusia sampai ratusan ribu, maka pertanyaannya bukan lagi "apakah" budaya bisa menggerakkan ekonomi, melainkan "seberapa serius" daerah mau menjadikannya prioritas.
| Indikator | Target Pemkab | Capaian Sementara |
|---|---|---|
| Kunjungan Erau sebelumnya | ≈20 ribu | — |
| Proyeksi Erau tahun ini | 40 ribu | — |
| Kunjungan per 27 Sept | — | ≈700 ribu |

Dari 20 Ribu ke Potensi 1 Juta: Pesan Keras untuk Strategi Pariwisata
Lonjakan pengunjung Erau dari kisaran 20 ribu tahun lalu ke sekitar 700 ribu tahun ini adalah alarm keras bagi strategi pariwisata daerah: pasar pariwisata budaya lokal jauh lebih besar daripada yang dibayangkan birokrat. Kepala Disdikbud Kukar, Heriansyah, menyebut target kunjungan sudah dinaikkan dua kali lipat menjadi 40 ribu, namun data lapangan menunjukkan kenyataan berlipat ganda di luar kalkulasi. Kutai Kartanegara bergerak dari festival skala kabupaten menuju magnet wisata regional, bahkan mulai menarik wisatawan mancanegara dari Prancis dan Belanda. Dengan angka sementara 700 ribu orang dan keyakinan bahwa total kunjungan bisa menembus satu juta setelah pendataan lanjutan, pemerintah daerah tidak lagi bisa memperlakukan Erau sebagai seremoni rutin. "Alhamdulillah, menurut saya bisa tembus satu juta. Artinya kita pecah rekor," tegas Heriansyah, yang secara tidak langsung mengakui bahwa pendekatan lama terhadap pariwisata budaya perlu direvisi.
Puncak Festival: Tiga Agenda yang Mengikat Wisatawan dan Warga
Kekuatan festival adat Kutai tidak hanya pada angka kunjungan, tetapi pada cara ia mengikat wisatawan dengan komunitas lokal melalui ritual yang hidup, bukan kemasan wisata artifisial. Penutupan rangkaian Erau Adat Kutai diisi tiga agenda berurutan: prosesi Merebahkan Pinang Ayu di Keraton pukul 08.00 WITA, ziarah makam Raja pukul 09.00 WITA, lalu Sidang Paripurna HUT Kota Tenggarong ke-244 pada pukul 11.00 WITA. Prosesi Merebahkan Tiang Ayu menandai berakhirnya rangkaian utama upacara adat Erau, mengembalikan fokus ke makna simbolik yang menjadi ruh festival. Ziarah ke makam raja menghubungkan wisatawan dengan sejarah kota dan Kesultanan Kutai Kartanegara, sementara sidang paripurna membuka ruang refleksi pembangunan kota dalam bingkai identitas budaya. Tiga agenda ini adalah jembatan antara panggung tontonan dan ruang keterlibatan: wisatawan bukan hanya penonton, melainkan tamu yang diajak menyentuh lapisan sejarah, politik lokal, dan nilai kebersamaan yang dijadikan modal sosial.
Budaya sebagai Modal Pembangunan: Dari Festival ke Ekosistem
Jika pejabat daerah menganggap Erau sekadar acara tahunan, mereka melewatkan peluang membangun ekonomi wisatawan regional yang berkelanjutan. Heriansyah menegaskan pemerintah tidak ingin Erau berhenti sebagai pagelaran budaya, melainkan berkembang menjadi ekosistem budaya yang memberi efek luar biasa bagi masyarakat. Data kunjungan ratusan ribu orang akan dipakai sebagai bukti untuk pengajuan Erau ke Karisma Event Nusantara (KEN), langkah penting agar festival adat Kutai masuk peta pariwisata nasional dan menguatkan arus wisata ke daerah sepanjang tahun. Di tingkat lokal, Bupati Aulia Rahman Basri menyebut Tenggarong sebagai kota peradaban dan menempatkan pembangunan dalam kerangka mempertahankan identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Ia menekankan semangat duduk bersama dalam kegiatan Beseprah sebagai nilai yang memperkuat kebersamaan dan menjadi modal pembangunan. Jika komitmen ini konsisten, festival adat Kutai tidak hanya mengangkat citra budaya, tetapi dapat menjadi inti strategi pertumbuhan ekonomi daerah yang berbasis pada pariwisata budaya lokal dan kebersamaan warga.
Kesimpulan: Saat Daerah Berani Menggantungkan Harapan pada Budaya
Erau Adat Kutai menunjukkan bahwa ketika budaya diurus dengan serius, ia menjelma menjadi sumber daya ekonomi dan identitas yang saling menguatkan. Tenggarong yang berusia 244 tahun tak sekadar merayakan hari jadi, tetapi menegaskan bahwa perjalanan kota terkait erat dengan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara dan masih relevan sebagai dasar pembangunan hari ini. Ketua DPRD Ahmad Yani mengajak masyarakat menjadikan Erau sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan semangat berbagi, sambil mengingatkan bahwa nilai adat dan budaya Kutai harus dijaga agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Di balik jutaan langkah wisatawan yang menyusuri kota, ada pertanyaan strategis: apakah pemerintah daerah siap mengubah festival adat Kutai dari agenda seremonial menjadi tulang punggung pariwisata budaya lokal dan pertumbuhan ekonomi daerah? Lonjakan pengunjung telah memberi jawabannya; sekarang giliran kebijakan yang membuktikan keseriusan.






