Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari 63 Jadi 29 Kasus: Resep Komunitas Sakra Selatan Menaklukkan Stunting

Dari 63 Jadi 29 Kasus: Resep Komunitas Sakra Selatan Menaklukkan Stunting
Minat|Pengetahuan Parenting

Stunting Bukan Takdir: Pelajaran Utama dari Sakra Selatan

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, pola asuh yang kurang tepat, dan lingkungan yang tidak sehat, yang menghambat tinggi badan, perkembangan otak, dan produktivitas mereka di masa depan. Stunting bukan sekadar masalah angka, melainkan cerminan kualitas pola asuh gizi sehat, daya tahan keluarga menghadapi kemiskinan, serta kemampuan komunitas menyediakan layanan dasar bagi anak. Karena itu, pencegahan stunting anak tidak bisa diserahkan pada puskesmas atau program bantuan pangan semata; ia membutuhkan perubahan perilaku keluarga, dukungan sosial yang nyata, dan intervensi stunting komunitas yang menyentuh dapur, kamar tidur, hingga cara orang tua memandang masa depan anak mereka.

Desa Sakra Selatan menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Dari sebelumnya masuk zona hitam stunting, desa ini menekan kasus dari 63 anak menjadi 29 hanya dalam beberapa tahun. Angka ini bukan hasil proyek karitatif sesaat, melainkan kombinasi program gizi balita yang terarah, pencegahan pernikahan anak, serta pendampingan intensif yang menantang kebiasaan lama keluarga. Pesannya keras dan jelas: selama intervensi hanya satu arah—membagi beras, susu, atau paket pangan—stunting akan bandel. Begitu intervensi menyentuh cara orang tua memberi makan, merawat, dan memantau tumbuh kembang, grafiknya mulai turun. Sakra Selatan membuktikan bahwa kunci ada pada keluarga, bukan pada paket bantuan.

Pendampingan 3 Bulan: Mengapa Mengubah Pola Asuh Lebih Penting dari Beras Gratis

Di Kecamatan Sakra, perusahaan pangan milik negara masuk ke gelanggang stunting bukan dengan sekadar membawa karung beras, tetapi dengan rencana mengubah perilaku. Perusahaan ini mengintervensi stunting di Desa Sakra melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan, menyasar 155 balita yang tinggal di wilayah dengan prevalensi stunting cukup tinggi. Selama tiga bulan, fokusnya jelas: pendampingan pola asuh dan pemenuhan gizi, bukan bagi-bagi bantuan satu arah. Ini sejalan dengan gagasan bahwa pencegahan stunting anak gagal jika keluarga tidak memahami cara memberi makan sesuai usia, kebersihan makanan, dan pentingnya pemantauan rutin pertumbuhan.

Sekretaris perusahaan menegaskan bahwa tujuan utama bukan menambah stok beras atau susu di rumah tangga, tetapi mengubah perilaku dan budaya pengasuhan orang tua. Ini pendekatan yang berani, karena lebih mudah menyerahkan paket bantuan daripada mengubah kebiasaan makan yang sudah puluhan tahun. Namun, di sinilah letak kekuatan intervensi stunting komunitas: kader dan tim Bulog Peduli hadir berulang kali, mendampingi orang tua memahami menu seimbang, jadwal makan, hingga cara memantau kesehatan dan perkembangan balita selama tiga bulan penuh. Pendekatan ini menolak logika lama bahwa cukup mengalirkan bantuan; yang dikerjakan adalah menata ulang cara keluarga memproduksi dan mengonsumsi makanan setiap hari.

Getak Mako dan Pangku: Menutup Sumber Masalah, Bukan Hanya Mengobati Gejala

Pemerintah Desa Sakra Selatan mengambil jalan yang jarang ditempuh: mencegah stunting dari hulunya, bukan sekadar mengobati di hilir. Mereka meluncurkan dua inovasi, Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) dan Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku), sebagai tulang punggung pencegahan stunting anak. Getak Mako menyasar praktik pernikahan anak yang sebelumnya cukup tinggi dan diyakini sebagai salah satu sumber lahirnya bayi dengan risiko stunting. Pemerintah desa mencatat, jika tahun sebelumnya masih ada lima kasus pernikahan anak, sejak tahun berikutnya mereka tidak lagi menerima laporan kasus serupa. Ini bukan sekadar perubahan statistik, tetapi perubahan budaya yang berpengaruh langsung pada kesehatan ibu dan kualitas kehamilan.

Di sisi lain, program Pangku memperkuat program gizi balita dengan cara yang lebih disiplin. Alih-alih menyalurkan beras, telur, minyak, dan gula ke rumah-rumah—yang terbukti tidak efektif dan bahkan rawan dijual kembali—pemerintah desa mengubah metode: memberikan makanan siap saji setiap hari kepada ibu hamil dan balita stunting, dan memastikan makanan tersebut benar-benar dimakan lewat pengawalan kader. "Kami berikan makanan dan langsung dikawal oleh kader untuk memastikan makanan itu betul-betul dimakan oleh balita". Pendekatan ini mengirim pesan tegas: program gizi balita harus menjamin konsumsi, bukan hanya distribusi. Dengan menutup celah perilaku seperti penjualan ulang bantuan pangan, desa ini memperpendek jarak antara kebijakan dan isi piring anak.

Dari Zona Hitam ke Penilaian Nasional: Bukti Kekuatan Komunitas

Sakra Selatan dulunya berada di zona hitam kasus stunting, tetapi data terbaru menunjukkan penurunan kasus yang konsisten: dari 63 anak pada 2024, turun menjadi 42 pada 2025, lalu menyisa 29 kasus hingga triwulan III 2026. Penurunan ini tidak terjadi di ruang hampa. Pemerintah desa mengalokasikan sekitar Rp460 juta dari dana desa untuk penanganan stunting, termasuk insentif kader pembangunan manusia dan kader posyandu. Dukungan itu diperkuat dengan gerakan orang tua asuh pencegahan stunting (Genting) yang melibatkan organisasi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah, serta kemitraan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk menopang pemenuhan gizi keluarga.

Konvergensi kebijakan ini—menggabungkan intervensi gizi, pencegahan pernikahan anak, perbaikan sanitasi melalui pembangunan sumur resapan limbah rumah tangga di sembilan titik, serta pendampingan intensif—membawa Sakra Selatan ke panggung nasional. Desa ini terpilih mewakili provinsi dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik tingkat nasional yang menilai percepatan penurunan stunting. Wakil bupati menyebut keberhasilan ini sebagai hasil kerja bersama pemerintah desa, kader, dan masyarakat. Artinya, intervensi stunting komunitas yang efektif bukan hanya soal program, tetapi juga soal kepemimpinan lokal yang sanggup menggerakkan semua unsur.

Mengapa Model Sakra Selatan Layak Ditiru (dan Dimodifikasi)

Pelajaran paling penting dari Sakra Selatan adalah bahwa kombinasi intervensi gizi dan perubahan perilaku keluarga jauh lebih efektif daripada program satu arah. Perusahaan pangan dan pemerintah desa sama-sama sampai pada kesimpulan serupa: bantuan fisik seperti beras atau susu tidak cukup tanpa transformasi pola asuh gizi sehat. Di Sakra, pendampingan tiga bulan bertujuan membentuk kebiasaan baru dalam pengasuhan dan pemantauan kesehatan balita, sementara di Sakra Selatan, kader mengawal langsung konsumsi makanan siap saji agar benar-benar masuk ke mulut anak, bukan berhenti di gudang dapur.

Model ini layak ditiru daerah lain dengan satu catatan: jangan sekadar menyalin program, tetapi adaptasi pada konteks lokal. Di wilayah dengan angka pernikahan anak tinggi, pendekatan seperti Getak Mako lebih mendesak. Di wilayah dengan akses air bersih buruk, pembangunan sumur resapan atau perbaikan sanitasi menjadi prioritas. Namun prinsip umumnya sama: pencegahan stunting anak harus dikerjakan dari hulu ke hilir, dari edukasi remaja putri sampai isi piring balita. Program gizi balita tidak boleh berdiri sendiri; ia harus terhubung dengan data yang akurat, kader yang aktif, serta pemimpin desa yang berani mengubah cara komunitas memandang kesehatan anak. Jika satu desa yang pernah berada di zona hitam bisa turun hingga 29 kasus, tidak ada alasan desa lain hanya mengandalkan bantuan datang dari luar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!