Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Metalcore dan Deathcore Modern Mengguncang Skena Lokal

Metalcore dan Deathcore Modern Mengguncang Skena Lokal
Minat|Musik Rock

Gelombang Baru: Metalcore, Deathcore Modern, dan Keberanian Bereksperimen

Gelombang baru metalcore dan deathcore modern adalah fase perkembangan musik keras di skena lokal ketika band-band muda dan veteran menggabungkan breakdown berat, elemen djent progressive, elektronik, serta nuansa crossover thrash, lalu memuat lirik emosional maupun sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menjadikan moshpit bukan sekadar ruang pelampiasan, tetapi juga medium refleksi pengalaman kolektif generasi sekarang. Tren ini terasa jelas pada rilisan “Virus”, “Midsommar”, “VOID”, dan “Intoksikasi”: empat karya yang bersama-sama menunjukkan bahwa band metal lokal sudah melewati tahap meniru formula luar dan masuk ke fase pencarian identitas sendiri. Energi berat masih menjadi nadi utama, namun cara bercerita dan produksi suara bergerak ke arah yang lebih gelap, sinematik, dan personal.

“Virus”: Metalcore Sinematik sebagai Ruang Pertanyaan Filosofis

“Virus” menunjukkan bagaimana metalcore bisa berdiri sejajar dengan fiksi ilmiah dan filsafat spekulatif. Allegiance mengangkat gagasan hidup yang seolah terprogram, di mana manusia mengulang pola ambisi dan kehancuran dari satu generasi ke generasi berikutnya dan mulai mempertanyakan apakah mereka sungguh memiliki kehendak bebas atau hanya tunduk pada sistem yang lebih besar. Liriknya menabrakkan isu takdir, iman, dan figur ilahi dengan amarah manusia, sehingga lagu ini terasa seperti debat eksistensial dalam format breakdown. Secara musikal, fondasi metalcore mereka dipertebal oleh karakter djent progressive yang berat, transisi dinamis, dan atmosfer sinematik yang memberi ruang untuk membangun tensi sebelum setiap hantaman turun. Pendekatan video musik yang menyatu dengan konsep membuat “Virus” bukan sekadar audio, tetapi bab dari narasi “Seven Songs. Seven Chapters. Seven Releases.” yang memetakan tujuh dosa besar sebagai cermin ekstrem sifat manusia.

Metalcore dan Deathcore Modern Mengguncang Skena Lokal

“Midsommar”: Emosi Bekasi Menyatu dengan Metalcore Modern

Jika “Virus” sibuk mengutak-atik takdir, “Midsommar” dari Promised memilih jalur emosional yang lebih intim. Band modern rock/metalcore asal Bekasi ini merilis single pada 1 Oktober 2026, mengangkat kisah seseorang yang tetap hidup dalam ingatan meski hubungan telah berakhir. Nuansa kehilangan, kesunyian, dan nostalgia dibangun lewat perpaduan modern rock, emo, post-hardcore, dan metalcore, sehingga lagu bergerak luwes antara bagian lembut melankolis dan ledakan energi keras. Judul yang merujuk pada musim panas dipakai sebagai kontras: kehangatan musim versus dinginnya hati setelah kehilangan tempat pulang. Baris lirik “Ur voice is my favorite sound, still my favorite sound” menjadi kutub emosional yang mudah dikutip sebagai pengingat betapa memori bisa lebih kuat daripada realitas sekarang. Di balik single ini, mereka menyiapkan mini album “Fourth-Oath” yang ditargetkan rampung awal 2027, menjadikannya batu loncatan penting sejak era mereka sebagai Elysium.

Metalcore dan Deathcore Modern Mengguncang Skena Lokal

“VOID”: Deathcore Modern yang Lebih Dingin dan Atmosferik

Di sisi lain spektrum, STERCORE memilih memanjangkan bayangan deathcore modern lewat “VOID”. Selama bertahun-tahun, mereka membangun identitas dengan perpaduan deathcore, metal, hardcore, dan elemen elektronik, lalu memakai moshpit dan breakdown sebagai ruang pelampiasan kolektif di atas panggung. Era baru yang mereka sebut rebirth menggeser fokus dari agresi tanpa kompromi menuju wilayah yang lebih dingin, gelap, dan atmosferik, tanpa memutus akar deathcore yang berat. “VOID” adalah manifest paling terang arah baru ini: beratnya tetap menghantam, tetapi kini melalui tekstur elektronik, ketegangan, dan produksi yang memberi ruang pada suasana muram sebelum pukulan tiba. Transformasi itu sudah disiapkan lewat EP “For Death We Wait” yang menggabungkan materi seperti “Trapped”, “Parallax” hingga “Disgust” bersama Tom Barber, dan dikerjakan bersama produser Jeff Dunne serta Simone Pietroforte untuk membangun skala suara yang terasa lebih besar dan imersif.

Metalcore dan Deathcore Modern Mengguncang Skena Lokal

“Intoksikasi”: Crossover Thrash dan Lurik Tekanan Sosial

Sementara itu, Inheritors memilih langkah berani yang menyentuh akar pendengar lokal secara langsung. Unit crossover thrash asal Malang ini merilis “Intoksikasi” pada 26 September 2026, sekaligus sebagai lagu berbahasa Indonesia pertama mereka dan hadir bersama video klip. Setelah lebih dari satu dekade berkutat dengan lirik horor fiksi berbahasa Inggris, mereka memindahkan amarah ke ruang yang jauh lebih nyata: tekanan sosial sehari-hari. Riff cepat, drum agresif, dan energi crossover thrash yang tidak memberi kesempatan menarik napas tetap dipertahankan, mengingatkan pada keganasan band-band seperti Power Trip dan Municipal Waste, namun kini diarahkan untuk memotret rasa sesak hidup di tengah tuntutan sosial dan ekonomi. Menggunakan bahasa Indonesia membuat “Intoksikasi” terdengar lebih frontal dan mudah ditangkap; pendengar tidak perlu menafsir dua kali untuk merasakan kritik yang disodorkan. Di titik ini, crossover thrash bukan sekadar nostalgia thrash, melainkan kanal untuk mengutuk absurditas tekanan yang menumpuk setiap hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!