Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Minuman Rasa Susu 86 Persen Air: Mengapa Anak TK Layak Mendapatkan Yang Lebih Baik

Minuman Rasa Susu 86 Persen Air: Mengapa Anak TK Layak Mendapatkan Yang Lebih Baik
Minat|Gaya Hidup Sehat

Skandal Minuman Rasa Susu: Saat Air Menggantikan Gizi

Skandal minuman berlabel rasa susu dalam program makan bergizi anak adalah kasus ketika produk yang tampak seperti minuman susu berkualitas ternyata sebagian besar hanya berisi air dengan sedikit komponen susu, gula tinggi, dan perisa buatan, sehingga tidak sejalan dengan tujuan menyediakan asupan bernutrisi bagi anak usia dini yang sedang tumbuh pesat.

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak TK di Bogor mendadak viral setelah video memperlihatkan anak-anak menerima minuman kemasan berperisa susu sebagai bagian menu harian mereka. Sorotan bermula dari unggahan yang menunjukkan kemasan bertuliskan “rasa susu”, bukan susu, padahal penerimanya adalah anak usia dini yang membutuhkan gizi memadai untuk tumbuh dan belajar. Dalam video itu, isi kemasan dituangkan ke gelas: tampak seperti air, dan saat komposisi dicek, kandungan air disebut mencapai 86 persen. Fakta ini memicu kemarahan warganet, karena program yang seharusnya menyediakan makan bergizi malah menyajikan minuman dengan kandungan susu minimal dan nilai gizi yang patut dipertanyakan.

Minuman Rasa Susu 86 Persen Air: Mengapa Anak TK Layak Mendapatkan Yang Lebih Baik

Ketika Label ‘Rasa Susu’ Menipu Persepsi Orang Tua

Masalah utama dari minuman ini bukan sekadar kadar air yang tinggi, tetapi bagaimana label dan kemasannya membangun ilusi bahwa anak sedang mengonsumsi susu. Dalam program makan bergizi anak, orang tua wajar berasumsi bahwa kata “susu” berarti produk dengan kandungan susu yang cukup, bukan sekadar minuman berair yang ditambah gula, turunan kedelai, dan perisa susu.

Unggahan di X dari akun @bisimllahyuk_ menyorot tajam ironi penggunaan anggaran untuk membeli minuman kemasan “yang gak jelas” dengan tulisan ‘rasa susu’ pada program MBG. Ungkapan “Dicek kandungannya, ternyata air 86 persen” menjadi kutipan yang menyebar luas dan memicu gelombang ketidakpercayaan terhadap kualitas menu MBG. Warganet geram karena anak TK, yang jelas masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan nutrisi, justru diberi produk yang tampak lebih mengedepankan gimmick rasa daripada kandungan gizi nyata.

Pendapat Tekpang: Produk di Lapisan Terbawah ‘Persusu-susan’

Respon keras tidak hanya datang dari warganet umum. Seorang influencer yang dikenal membahas teknologi pangan, Dennis Guido, menilai produk ini berada pada kategori terendah dalam klasifikasi minuman berbasis susu. Ia menyebutnya sebagai kategori “paling rendah persusu-susan”, menegaskan bahwa minuman tersebut hanyalah minuman dengan perisa susu, bukan minuman susu yang menjadikan susu sebagai komponen utama.

Menurut penjelasannya, minuman ini mengandalkan perisa susu dan bahkan memiliki gula lebih banyak daripada kandungan susunya, serta memuat turunan kedelai. Fakta bahwa taurin—bahan yang biasa ditemukan di minuman energi—ikut muncul dalam komposisi makin menegaskan betapa jauh produk ini dari gambaran minuman susu berkualitas untuk anak kecil. Kalimat yang layak dikutip dari polemik ini adalah: “Dicek kandungannya, ternyata air 86 persen”, karena mengungkap secara terang bagaimana kandungan air minuman susu semacam ini dapat mengosongkan makna kata “gizi” dalam program makan bergizi anak.

Program Makan Bergizi Bukan Tempat Eksperimen Produk Murah Gizi

Inti masalahnya: program makan bergizi anak dirancang untuk memastikan asupan makro dan mikronutrien memadai, bukan sekadar mengisi perut dengan cairan berlabel manis. Saat menu MBG berisi minuman rasa susu yang kandungan airnya 86 persen, nilai tambah gizinya menjadi sangat minim dan berpotensi menyesatkan publik mengenai apa itu standar nutrisi yang layak bagi anak usia TK.

Isu ini viral bukan tanpa alasan; ia mencerminkan kecemasan kolektif bahwa kebijakan yang mengatasnamakan gizi bisa tergelincir menjadi sekadar distribusi produk murah gizi, selama kemasannya tampak meyakinkan. Anak usia dini berada dalam masa pertumbuhan kritis, dan masyarakat berhak menuntut program makan bergizi gratis yang memastikan minuman susu berkualitas, bukan produk dengan kandungan air minuman susu yang dominan dan nilai gizi minimal. Jika standar dibiarkan serendah ini, kata “bergizi” dalam kebijakan publik akan kehilangan maknanya sepenuhnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!