Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kompetisi Fotografi Berkarya Lewat Lensa Merayakan Warisan Budaya

Kompetisi Fotografi Berkarya Lewat Lensa Merayakan Warisan Budaya
Minat|Gaya Fotografi

Fotografi sebagai Penjaga Ingatan Kolektif

Kompetisi fotografi budaya adalah ajang yang mengumpulkan karya-karya visual bertema tradisi, sejarah, dan kehidupan komunitas, di mana setiap foto bukan hanya objek estetis, tetapi juga dokumen sosial yang merekam perubahan zaman, merawat memori kolektif, dan menguatkan identitas lokal melalui storytelling visual yang dapat diakses lintas generasi dan latar belakang sosial. Dalam konteks ini, Berkarya Lewat Lensa terasa lebih penting dari sekadar lomba; ia menjadi ruang bersama untuk menguji apakah kita masih peduli pada cerita di balik gambar. Digelar sejak Agustus hingga Oktober 2026, kompetisi ini lahir dari semangat sebuah perusahaan yang memasuki usia ke-94 tahun dan ingin tetap adaptif tanpa memutus hubungan dengan akar nilai yang membesarkannya.

1.700 Karya: Peta Emosi dan Warisan Budaya

Ketika lebih dari 1.700 karya foto dari jurnalis dan masyarakat umum dari berbagai pelosok Nusantara dikirimkan ke kompetisi Berkarya Lewat Lensa, yang terkumpul bukan hanya angka, melainkan peta emosi dan ingatan tentang warisan budaya yang masih hidup di tingkat komunitas. Penyelenggara menegaskan bahwa tema “Mawa Daya: Merajut Karsa Selaras Dengan Waktu” bukan slogan kosong; ia menuntut peserta untuk menafsirkan perjalanan, tradisi, dan adaptasi budaya dalam konteks hari ini. Menurut Corporate Communication Head Eliza Susanto, beragam submisi menunjukkan bagaimana nilai-nilai luhur diterjemahkan sesuai zamannya, memperlihatkan fotografi dokumentasi warisan sebagai proses dialog antara masa lalu dan masa kini. Di sini, storytelling visual lokal menjadi alat untuk menolak lupa, sekaligus mengakui bahwa budaya tidak beku, melainkan terus bergerak dan dinegosiasikan.

Kekuatan Narasi Visual dan Tanggung Jawab Fotografer

Dari ribuan karya, dewan juri independen memilih 12 pemenang terbaik, masing-masing 6 dari kategori wartawan dan 6 dari kategori umum. Keputusan ini tidak hanya soal teknis; penilaian berfokus pada orisinalitas gagasan, kekuatan visual, dan keselarasan dengan tema, menegaskan bahwa fotografer bukan sekadar pemburu momen, melainkan perajut narasi. Ketua Umum PFI, Dwi Pambudo, menekankan bahwa matriks penilaian bertumpu pada kekuatan narasi visual yang selaras dengan tema serta kematangan teknis yang dinilai secara profesional. Ini adalah pengingat keras: jika fotografer ingin terlibat dalam fotografi dokumentasi warisan, mereka memikul tanggung jawab etis untuk tidak memotong konteks, tidak mengasingkan subjek, dan memastikan bahwa identitas budaya lokal direkam dengan hormat, bukan dieksploitasi.

Merti Kayon Blora: Pohon sebagai Arsip Hidup

Jika kompetisi Berkarya Lewat Lensa menggarisbawahi perjalanan dan adaptasi, pameran foto narasi Merti Kayon Blora menunjukkan bagaimana satu objek sederhana—pohon—dapat menjadi arsip hidup sejarah dan folklor. Lesbumi PCNU Blora memulai pameran ini dengan inventarisasi partisipatif selama lebih dari sebulan oleh warga terhadap pohon-pohon besar berusia lebih dari seratus tahun di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hasilnya, 38 foto pohon bernarasi dipamerkan, masing-masing membawa cerita penting: pohon yang menjadi bagian sendang, saksi sejarah, pusat kegiatan sosial dan kebudayaan, hingga yang dipercaya sebagai rumah makhluk gaib. Dengan tema “Merawat Pohon Kehidupan, Menjaga Warisan Alam”, pameran ini menegaskan bahwa storytelling visual lokal tidak harus megah; ia bisa berangkat dari akar, batang, dan cabang yang selama ini kita lewati tanpa bertanya apa yang telah mereka lihat.

Dari Pameran ke Antologi: Menyelamatkan Folklor dari Lupa

Merti Kayon Blora tidak berhenti di dinding galeri. Dari 38 foto, dipilih 10 pohon utama yang mendapat apresiasi atas dokumentasi dan narasi yang menyertainya. Lebih jauh, karya-karya ini akan dibukukan menjadi antologi pohon Blora, lengkap dengan data dan cerita yang melekat pada tiap objek. Dalhar Muhammadun menyebut langkah ini sebagai penyelamatan sejarah dan folklor yang berpusat pada pohon-pohon tua, menjadikan fotografi dokumentasi warisan bukan hanya arsip visual, tetapi juga pintu masuk ke literasi dan kerja jurnalistik warga. Di sini tampak jelas bahwa pameran foto narasi dan kompetisi fotografi budaya saling menguatkan: keduanya menempatkan fotografer sebagai penjaga identitas, yang bekerja bersama komunitas untuk memastikan bahwa cerita-cerita lokal tidak hilang ditelan modernitas, melainkan ditulis ulang dengan lensa yang lebih sadar dan berpihak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!