Drone show sebagai wajah baru perayaan keagamaan nasional
Drone show Muktamar adalah pertunjukan visual di langit malam yang menggunakan puluhan hingga ribuan drone tanpa awak berlampu LED, diterbangkan secara bersamaan dan dikendalikan komputer untuk membentuk formasi, tulisan, dan animasi cahaya yang berkaitan dengan tema acara, sehingga menciptakan pengalaman visual memukau yang menggantikan peran kembang api dengan cara yang lebih terukur dan terkoordinasi. Pertunjukan drone cahaya di rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menjadi contoh paling jelas bagaimana teknologi bisa menyatu dengan tradisi keagamaan. Ini bukan sekadar hiburan; panitia lokal menyusun acara keagamaan drone tersebut untuk menyemarakkan muktamar dan mengirim pesan bahwa teknologi modern dapat berdiri harmonis di samping maqbaroh ulama dan sidang pleno. Drone show muktamar memaksa kita mengakui: ruang ekspresi religius kini meluas sampai ke langit malam.

Rangkaian cahaya: dari lambang NU hingga wajah pendiri dan Merah Putih
Malam Jumat, 28 Agustus 2026, tepat pukul 19.00 WIB, ribuan drone menghiasi langit di atas halaman Maqbaroh KH. A. Hamid Hasbulloh, depan area Sidang Pleno GSG Hasbullloh Said. Formasi cahaya bergerak bergantian: lambang jam’iyah Nahdlatul Ulama, sketsa wajah para pendiri, simbol khas Jombang, hingga bendera Merah Putih yang berkibar dalam bentuk animasi. Kombinasi ini bukan kebetulan; ia mengikat identitas keagamaan, lokal, dan kebangsaan dalam satu kanvas digital. Kesaksian warga seperti Arif Rahman memperkuat efek emosional pertunjukan itu: “baru pertama kali ini melihat drone bisa ada cahaya yang membentuk Muktamar NU, dan banyak lagi animasi tentang Nahdlatul Ulama.” Di tengah kesibukan muktamirin dan Nahdliyin, rangkaian visual tersebut menjadi semacam zikir cahaya yang menegaskan sejarah dan komitmen kebangsaan tanpa satu kata pun diucapkan.
Teknologi drone swarm dan sinkronisasi sebagai medium budaya
Keajaiban yang dilihat warga bukan hasil kemampuan terbang individual, melainkan buah drone swarm sinkronisasi yang presisi. Puluhan hingga ribuan drone diterbangkan secara bersamaan, masing-masing mengikuti pola penerbangan yang sudah dirancang dalam sistem komputer. Posisi, lintasan, waktu lepas landas, dan warna LED diatur dengan teliti, lalu dikomunikasikan melalui sistem kendali otomatis sehingga seluruh unit bergerak terkoordinasi membentuk formasi cahaya yang presisi. Secara praktis, ini berarti panitia mampu memprogram animasi dinamis: wajah pendiri NU yang ‘muncul’ di langit, logo yang berputar, Merah Putih yang seolah berkibar, semua tanpa satu pilot pun memegang joystick di lapangan. Dalam konteks acara keagamaan drone seperti Muktamar NU, teknologi ini menggeser paradigma: dakwah visual tidak lagi terbatas di panggung dan spanduk, tetapi bisa memanfaatkan langit sebagai layar digital raksasa.
Respons warga: antara takjub, bising, dan hiburan pelipur lelah
Pertunjukan ini sengaja dibuka untuk umum; masyarakat dianjurkan melihat dari atas kompleks Muktamar, terutama akses Tambakrejo Gang III, sehingga drone show muktamar benar-benar menjadi perayaan bersama, bukan eksklusif muktamirin. Uji coba pada Kamis dini hari memunculkan sisi lain teknologi: suara dengung dan bising membuat warga sekitar sempat kaget dan penasaran. Namun begitu formasi cahaya terbentuk, rasa kaget berubah menjadi takjub; suasana kawasan Tambakberas pun semakin ramai saat ribuan cahaya menari di langit. Banyak peserta Muktamar, Nahdliyin, Muhibbin, dan warga menyebut pertunjukan drone cahaya ini sebagai hiburan pelipur lelah setelah aktivitas persidangan yang padat. Artinya, ada kompromi yang diterima: sedikit polusi suara ditukar dengan ruang rekreasi gratis dan pengalaman visual yang nyaris mustahil dihadirkan dengan cara konvensional.
Kenapa acara keagamaan butuh spektakel teknologi semacam ini?
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa momen sakral seperti Muktamar NU diwarnai oleh teknologi yang tampak futuristik? Jawabannya sederhana: agama dan budaya tidak hidup di ruang hampa waktu. Dengan drone show, panitia lokal menunjukkan bahwa ekspresi keagamaan bisa berkomunikasi dengan generasi digital tanpa kehilangan ruh tradisi. Ribuan drone yang membentuk animasi NU, wajah pendiri, dan bendera Merah Putih menegaskan bahwa nilai yang dijaga tetap sama; hanya medium penyampaiannya yang berubah. Tentu, ada catatan soal kebisingan dan kebutuhan pengaturan ruang udara, tetapi pengorbanan kecil ini sepadan dengan efek persatuan yang terasa kuat di lapangan. Dari pengalaman di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, acara keagamaan drone tampak punya masa depan cerah: menjadi jembatan estetik antara generasi santri yang akrab dengan kitab dan generasi muda yang tumbuh dengan cahaya layar.






