Pelatihan yang mendekatkan sekolah dengan industri
BUMA School adalah program pelatihan bagi siswa SMK yang memadukan pembelajaran mekanik, pengembangan keterampilan nonteknis, praktik industri, dan sertifikasi untuk membantu peserta memasuki dunia kerja. Pada tahun ajaran 2025/2026, sebanyak 200 siswa dari 10 SMK di enam provinsi menyelesaikan program dan memperoleh sertifikat Basic Mechanic Course. Capaian ini patut diperhatikan bukan semata karena jumlah lulusannya, melainkan karena pelatihan kerja SMK tersebut mengaitkan materi belajar dengan standar dan pengalaman di tempat kerja. Bagi lulusan SMK siap kerja, bekal teknis tetap penting, tetapi kedisiplinan, adaptasi, dan kerja sama juga menentukan apakah keterampilan bisa diterapkan. Karena itu, model yang membawa pengalaman praktisi industri ke lingkungan sekolah lebih bernilai daripada pelatihan yang berhenti pada teori.
Sertifikasi memberi bukti, praktik memberi konteks
Seluruh peserta memperoleh sertifikasi Basic Mechanic Course, dan 170 di antaranya juga mendapatkan sertifikasi kompetensi mekanik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Selain itu, 20 siswa menjalani praktik kerja industri di BUMA Rebuild Center, Balikpapan. Kombinasi ini membuat sertifikasi siswa SMK lebih dari sekadar pencapaian administratif: kompetensi diakui melalui sertifikasi, sementara sebagian peserta dapat menguji keterampilan dalam lingkungan kerja nyata. Namun, angka sertifikasi tidak dengan sendirinya menjamin pekerjaan. Nilai program akan lebih kuat bila siswa mendapat kesempatan praktik yang memadai dan perusahaan memahami kompetensi yang dibuktikan oleh sertifikat. BUMA School setidaknya menghubungkan tiga mata rantai yang kerap terpisah—pembelajaran, pengakuan kompetensi, dan paparan industri—meski akses praktik langsung belum mencakup semua peserta.
Jejak alumni dan peran guru memperluas dampak
Sejak dimulai pada 2018, program BUMA School telah menjangkau 2.236 siswa, meningkatkan kapasitas 32 guru, dan bekerja sama dengan 16 SMK di tujuh provinsi. Lebih dari 400 alumninya telah bekerja di BUMA maupun perusahaan lain. Angka penyerapan ini memberi gambaran dampak yang lebih nyata daripada jumlah peserta semata, walau tidak menjelaskan berapa lama proses menuju pekerjaan atau jenis posisi yang diperoleh setiap alumni. Pelibatan guru juga penting: hubungan sekolah dengan industri akan lebih berkelanjutan jika pengetahuan dan cara mengajar ikut berkembang, bukan hanya kemampuan siswa dalam satu angkatan. Seorang alumni yang kini bekerja sebagai mekanik di BUMA menyebut program tersebut meningkatkan keterampilan teknis sekaligus rasa percaya dirinya untuk memasuki dunia kerja. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja juga mencakup keyakinan untuk beradaptasi di tempat kerja.
Kelanjutan program perlu menjaga mutu dan akses
BUMA melanjutkan program untuk tahun ajaran 2026/2027 melalui nota kesepahaman dengan SMK Negeri 1 Balikpapan, SMK Negeri 1 Singosari, SMK Swasta Warga Solo, dan SMK Swasta Tabalong. Perluasan ke sekolah mitra baru memberi peluang untuk menjangkau lebih banyak siswa, tetapi keberhasilan berikutnya sebaiknya diukur bukan hanya dari jumlah sekolah atau peserta. Mutu pembelajaran, kesempatan praktik, relevansi sertifikasi, dan tindak lanjut karier alumni juga perlu menjadi perhatian. BUMA menyatakan kesiapan kerja mencakup kompetensi teknis, disiplin, kemampuan beradaptasi, kerja sama, serta pemahaman standar profesional—sasaran yang tepat untuk menjembatani SMK dan industri. Kesimpulannya, BUMA School menawarkan jalur yang menjanjikan dari pelatihan menuju pekerjaan karena menggabungkan pembelajaran, sertifikasi, dan pengalaman industri. Agar dampaknya makin kuat, kesempatan praktik dan hasil kerja alumni perlu terus diperluas serta dipantau.






