Bantuan yang menyentuh dua hambatan nyata
Bantuan pendidikan adalah dukungan pemerintah untuk mengurangi hambatan biaya yang membuat anak sulit memulai atau melanjutkan sekolah, mulai dari perlengkapan belajar hingga akses kembali pada dokumen kelulusan. Di Pekanbaru, dua bentuk bantuan ini menargetkan persoalan berbeda tetapi saling berkaitan: mahalnya kebutuhan awal sekolah dan ijazah yang tertahan karena tunggakan. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Wali Kota Agung Nugroho menyerahkan seragam sekolah gratis bersama Wakil Wali Kota Markarius Anwar, sementara ijazah siswa yang tertahan juga diselesaikan melalui program pemerintah kota. Hampir 20 ribu siswa baru SD dan SMP menerima masing-masing tiga stel seragam. Langkah ini patut dinilai bukan sebagai bantuan seremonial, melainkan upaya mengurangi biaya yang dapat menentukan apakah keluarga mampu memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
Daya jangkau bantuan seragam cukup besar: 8.900 siswa baru SD dan 11.000 siswa baru SMP menerima paket tersebut. Pemerintah kota menyiapkan anggaran lebih dari Rp12,4 miliar, terdiri atas Rp5,6 miliar untuk jenjang SD dan Rp6,8 miliar untuk SMP. Skala itu penting karena pengeluaran perlengkapan biasanya muncul di awal tahun ajaran, ketika keluarga harus menyiapkan banyak kebutuhan sekaligus.

Seragam gratis mengurangi tekanan di awal tahun ajaran
Alasan program seragam sekolah gratis mudah dipahami: keluhan warga muncul karena membeli seragam seorang anak dapat mencapai sekitar Rp1,5 juta, sementara keluarga dengan tiga anak bisa menghadapi beban hingga Rp4,5 juta. Bagi rumah tangga berpenghasilan terbatas, biaya tersebut berisiko membuat kebutuhan sekolah bersaing dengan pengeluaran pokok. Bantuan tiga stel seragam bagi siswa SD dan SMP mengurangi tekanan itu secara langsung, sehingga anak dapat masuk sekolah tanpa orang tua harus menanggung seluruh biaya perlengkapan sekaligus.
Dampaknya tampak pada pengalaman Hazniati, warga Rumbai yang berjualan lontong. Ia sebelumnya harus menyiapkan sekitar Rp200 ribu untuk membeli seragam bekas bagi anaknya, dan menyebut bantuan gratis sangat meringankan karena membeli seragam terasa sulit. Kesaksian ini memperlihatkan mengapa bantuan berbentuk barang dapat lebih berarti daripada janji umum: biaya yang biasanya harus dicari keluarga berkurang pada saat kebutuhan sekolah muncul. Wali kota menyatakan program akan terus dianggarkan setiap tahun selama masa kepemimpinannya. Komitmen itu akan lebih bernilai bila penyalurannya konsisten dan menjangkau keluarga yang paling terbebani.
Ijazah kembali ke tangan keluarga
Persoalan ijazah tertahan Pekanbaru menunjukkan bahwa biaya sekolah dapat terus membatasi anak bahkan setelah masa belajar selesai. Pemerintah kota menyatakan telah menuntaskan 649 ijazah yang tertahan akibat tunggakan, dengan anggaran sekitar Rp2 miliar. Pada tahap awal, 59 ijazah diselesaikan; tunggakan yang ditangani berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp7 juta. Program ini dijalankan bersama Baznas, sekolah swasta, dan pesantren, sementara sejumlah sekolah memberi potongan tunggakan hingga 50 persen. Pemerintah juga menyatakan program pembebasan ijazah akan berlanjut untuk membantu orang tua siswa kurang mampu lainnya.
Bagi Muhammad Rum, warga Kulim, ijazah putranya tertahan selama dua tahun setelah keluarga menunggak biaya di sebuah SD swasta. Kini ia dapat membawa pulang dokumen tersebut. Pembebasan ijazah penting karena mengurangi dampak berkepanjangan dari kesulitan membayar: keluarga kembali memiliki dokumen kelulusan anak, sementara beban tunggakan ditangani melalui kerja sama pemerintah, Baznas, dan sekolah. Meski demikian, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah ijazah yang diserahkan. Pendataan, verifikasi, dan kelanjutan program perlu memastikan keluarga lain yang menghadapi hambatan serupa tidak tertinggal.
Dukungan perlu berlanjut dan tepat sasaran
Dua program ini memperlihatkan bahwa akses pendidikan bergantung pula pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan praktis. Seragam gratis membantu anak memulai sekolah, sedangkan pembebasan ijazah mencegah tunggakan mengunci dokumen kelulusan. Pemkot juga membagikan 1.500 paket perlengkapan sekolah bagi siswa jalur afirmasi dan menyalurkan Beasiswa Pendidikan Sinergi dari zakat Unit Pengumpul Zakat Dinas Pendidikan: Rp1 juta bagi siswa SMP dan Rp750 ribu bagi siswa SD. Rangkaian bantuan ini memperluas dukungan, tetapi hasil jangka panjangnya bergantung pada ketepatan sasaran dan kesinambungan pelaksanaan.
Kesimpulannya, bantuan pendidikan Pekanbaru menjawab dua beban berbeda yang sama-sama dapat menghalangi keluarga kurang mampu: biaya masuk sekolah dan tunggakan yang menahan ijazah. Pemerintah telah menyatakan seragam akan terus dianggarkan setiap tahun dan program pembebasan ijazah berlanjut. Janji itu seharusnya diikuti pendataan yang terbuka serta penyelesaian bertahap, agar bantuan tidak berhenti pada penerima awal. Ketika kebutuhan perlengkapan terpenuhi dan ijazah kembali kepada siswa, peluang anak untuk mengakses pendidikan dan melangkah setelah lulus menjadi lebih terbuka.






