Era Baru iPhone: Apa Itu iPhone Ultra Lipat?
iPhone Ultra lipat adalah ponsel lipat Apple pertama dengan desain seperti buku, layar utama OLED 7,8 inci, layar luar 5,5 inci, chip A20 Pro, engsel liquid metal, serta iOS dengan multitasking dua aplikasi berdampingan yang ditujukan untuk segmen ultra-premium sebagai perangkat paling ambisius dalam sejarah iPhone. Peluncurannya diperkirakan berlangsung pada Apple Event bertema “Surprise and shine” pada 9 September, menjadikannya tonggak desain sekaligus momen penting bagi CEO baru John Ternus. Peluncuran iPhone Ultra lipat bukan sekadar satu model tambahan; ini adalah ujian besar apakah perubahan bentuk fisik bisa menggerakkan pasar yang sudah jenuh. Apple akhirnya meninggalkan pola “blok persegi panjang tunggal” yang dipertahankan sejak iPhone pertama dengan beralih ke mekanisme lipat seperti buku. Langkah ini menunjukkan keyakinan bahwa ponsel lipat Apple harus terasa seperti perpaduan iPhone dan iPad mini, bukan eksperimen niche. Bagi pengguna, pesan Apple jelas: jika ingin merasakan arah baru desain perangkat keras di bawah John Ternus, inilah perangkat referensinya.

Desain dan Layar 7,8 Inci: iPad Mini di Saku, Tanpa Lipatan Mengganggu
Daya tarik utama iPhone Ultra lipat ada pada desain dan layarnya. Saat terbuka, layar dalam berukuran 7,8 inci dengan rasio mendekati 4:3 sehingga terasa seperti iPad mini yang bisa dilipat dan dimasukkan ke saku. Saat terlipat, layar luar 5,5 inci cukup lebar untuk penggunaan sehari-hari dengan satu tangan, tanpa perlu selalu membuka perangkat. Yang paling ambisius adalah usaha Apple menghilangkan “dosa asal” ponsel lipat: lipatan tengah. Panel dari Samsung Display dan engsel liquid metal diklaim mampu menekan kedalaman lipatan hingga di bawah 0,15 mm sehingga hampir tak terlihat dan minim gangguan saat menyentuh layar. Kalau klaim ini terbukti, iPhone Ultra lipat berpotensi menjadi rujukan baru soal kualitas layar lipat. Dalam konteks pasar yang selama ini dikritik karena crease yang mengganggu, Apple tampak ingin menang bukan lewat bentuk saja, tapi juga lewat rasa permukaan layar ketika disentuh.
| Spesifikasi Layar | Dalam | Luar |
|---|---|---|
| Ukuran | 7,8 inci | 5,5 inci |
| Rasio | Hampir 4:3 | 4:3 |
| Karakter Lipatan | Hampir tak terlihat (<0,15 mm) | Tidak berlaku |

Spesifikasi iPhone Lipat: A20 Pro, Multitasking Seperti iPad, dan MagSafe
Di balik layar, spesifikasi iPhone lipat ini menunjukkan ambisi Apple menjadikannya perangkat kerja sekaligus hiburan. Chip A20 Pro berbasis proses 2 nm dipadu RAM 12 GB, penyimpanan dari 256 GB hingga 1 TB, serta baterai ganda total sekitar 5.400–5.800 mAh. Kombinasi ini jelas diarahkan pada multitasking kelas tablet: iOS 27 membawa mode dua aplikasi berdampingan lengkap dengan drag and drop antar-aplikasi, sehingga data bisa dipindahkan langsung dari satu aplikasi ke aplikasi lain di layar besar. Menurut bocoran, “iOS 27 akan mendukung dua aplikasi berdampingan pada iPhone Ultra lipat, mengubah layar 7,8 inci menjadi kanvas produktivitas mirip iPad”. Kamera belakang ganda 48 MP tanpa telefoto, Touch ID di tombol samping, hanya eSIM, serta modem Apple C2 mempertegas fokus pada desain tipis dan efisiensi internal. Keberadaan MagSafe menjadi kabar melegakan; aksesori magnetik tetap bisa digunakan meski form factor berubah, sehingga ekosistem aksesori tidak ikut dikorbankan.
Harga iPhone Foldable Ultra-Premium dan Dampaknya Bagi Pengguna
Dari sisi harga iPhone foldable, Apple jelas menempatkan iPhone Ultra lipat di kelas ultra-premium. Bocoran dari operator menyebut varian tertinggi 1 TB bisa menembus sekitar Rp60 juta, menjadikannya kandidat kuat sebagai iPhone termahal yang pernah dibuat. Varian lain yang beredar adalah 256 GB dan 512 GB, tetap berada di rentang harga yang hanya masuk akal bagi kalangan yang mengutamakan desain dan status, bukan sekadar fungsi dasar. Konsekuensinya, perangkat ini hampir pasti tidak akan menjadi “iPhone massal”. Harga setinggi ini berpotensi mengorbankan belanja aksesori tambahan; ketika pengguna sudah mengeluarkan biaya besar untuk perangkat utama, mereka cenderung menahan diri membeli AirPods atau jam tangan pintar pendamping. Di sisi lain, iPhone Ultra lipat bisa menjadi tolak ukur apakah pasar siap membayar mahal untuk perubahan bentuk saja. Jika penjualannya kuat, merek lain akan terdorong menaikkan standar finishing dan mekanisme engsel, bukan sekadar menekan harga.
Mengapa Apple Masuk ke Ponsel Lipat Sekarang dan Apa Selanjutnya?
Apple terlambat masuk ke ponsel lipat; segmen ini sudah digarap sejak 2018 oleh pemain lain dengan model fold dan clamshell. Namun timing sekarang masuk akal: desain iPhone konvensional sudah hampir dua dekade tanpa perubahan struktur besar, sementara tekanan biaya produksi dan gelombang AI mendorong harga perangkat naik. Dalam kondisi pasar seperti ini, iPhone Ultra lipat adalah cara Apple menguji apakah perombakan desain saja cukup kuat untuk mendorong pengguna melakukan upgrade. Secara industri, produksi massal disebut baru dimulai akhir Juli sampai Agustus, dengan ketersediaan luas kemungkinan mundur ke Oktober karena kompleksitas engsel dan kontrol kualitas panel. Pre-order diperkirakan dibuka beberapa hari setelah acara, dan stok awal bisa terbatas. Bagi Apple, yang penting bukan sekadar angka penjualan, melainkan respons terhadap filosofi desain baru era John Ternus. Jika iPhone Ultra lipat diterima sebagai standar baru, generasi berikutnya berpeluang mengadopsi harga yang lebih ramah dan fitur lipat yang makin matang.







