DSA vs Desain Adiktif: Mengapa Meta Sedang Disorot
Fitur scroll tanpa batas adalah mekanisme desain antarmuka di mana feed konten terus memanjang tanpa akhir, sehingga pengguna dapat menggeser layar ke bawah secara terus-menerus tanpa jeda alami, yang mendorong penggunaan kompulsif, mengacaukan persepsi waktu, dan berpotensi memicu kecanduan media sosial pada berbagai kelompok usia. Facebook dan Instagram dinilai sengaja dirancang dengan desain adiktif yang melanggar Digital Services Act (DSA) Uni Eropa. Komisi Eropa sudah mengeluarkan temuan awal dan peringatan keras terhadap Meta sebagai induk kedua aplikasi tersebut. Tuduhannya jelas: desain yang membuat Instagram kecanduan bukan sekadar efek samping teknologi, tetapi konsekuensi dari pilihan bisnis yang mengutamakan engagement di atas keselamatan pengguna. Ketika regulasi Meta Uni Eropa mulai menggigit, pertanyaannya bukan lagi apakah fitur ini berbahaya, melainkan seberapa jauh regulator berani memaksa platform mengubah cara mereka bekerja.

Mekanisme Scroll Tanpa Batas: Otak Masuk Mode Autopilot
Uni Eropa menempatkan fitur scroll tanpa batas di pusat kritik mereka terhadap Instagram kecanduan dan Facebook yang adiktif. Komisi Eropa menyoroti rekomendasi personal, pemutaran otomatis, dan fitur scroll tanpa batas sebagai kombinasi yang memicu pengguna untuk terus scrolling dan "mengubah otak ke mode autopilot". Ditambah autoplay dan push notification, aliran konten praktis tidak pernah berhenti. Bagi anak dan remaja, ini berarti tidak ada titik henti alami untuk menutup aplikasi; bagi orang dewasa yang rentan, ini adalah loop dopamin yang sulit diputus. Regulator menyimpulkan, ini bukan sekadar teknologi efisien, melainkan desain yang sengaja mengikis kontrol diri. Rekomendasi mereka lugas: nonaktifkan pemutaran otomatis dan fitur scroll tanpa batas sebagai pengaturan default, buat jeda screen time yang memaksa istirahat, lalu rancang algoritma yang tidak berorientasi engagement semata.

Kontrol Orang Tua: Simbolik, Rumit, dan Mudah Diabaikan
Jika fitur scroll tanpa batas adalah mesin adiksi, kontrol orang tua aplikasi seharusnya menjadi rem darurat. Namun temuan awal Komisi Eropa menggambarkan rem ini lebih mirip hiasan dashboard. Fitur manajemen waktu dinilai bisa diabaikan dengan mudah; kontrol orang tua membutuhkan keahlian teknis, upaya, dan waktu agar benar-benar bekerja; sementara langkah kesadaran kesehatan mental Meta masih terbatas untuk mengurangi risiko kecanduan. Meta memang merilis Teen Accounts sejak penyelidikan dimulai pada Mei 2024: akun remaja otomatis dibuat privat, akses malam dibatasi, dan screen time dipatok 15 menit per hari. Namun langkah parsial ini tidak menjawab desain inti yang mempromosikan penggunaan berlebihan, terutama lewat Reels dan Stories yang memikat perhatian remaja hingga larut malam. Selama desain adiktif tetap menjadi fondasi, kontrol orang tua yang kompleks hanya memindahkan beban dari perusahaan ke keluarga.
Ancaman Denda Rekor: Dari Brussel ke Pengadilan Amerika
Konsekuensi hukum bagi Meta tidak lagi berskala biasa. Di Uni Eropa, perusahaan terancam denda maksimum 6% dari omzet tahunan global jika terbukti melanggar DSA. Dengan pendapatan Meta pada 2025 sebesar USD 200,97 miliar (approx. Rp3,216 triliun), potensi denda bisa melebihi USD 12,05 miliar (approx. Rp192 triliun). Di Amerika Serikat, empat negara bagian menuduh Meta sengaja merancang Facebook dan Instagram agar membuat pengguna muda kecanduan dan menyesatkan publik soal keamanan platform, dengan potensi hukuman sebesar USD 1,4 triliun (approx. Rp22.4 kuadriliun), nyaris setara nilai pasar perusahaan. Meta menyebut usulan sanksi ini "tidak memiliki padanan dalam sejarah penegakan hukum perlindungan konsumen". Di tengah gugatan tambahan dari puluhan negara bagian lain, jelas bahwa model bisnis berbasis perhatian tak lagi sekadar isu etika, tetapi risiko hukum eksistensial.
Apa Artinya untuk Masa Depan Desain Aplikasi Meta?
Komisi Eropa tidak hanya menghukum masa lalu, tetapi mencoba memaksa masa depan berbeda. Mereka meminta Meta merancang ulang Instagram dan Facebook: mematikan scroll tanpa batas dan autoplay secara default, menerapkan jeda screen time yang efektif, serta mengubah algoritma rekomendasi agar tidak semata mengejar engagement. Meta masih diberi kesempatan membela diri, namun arah regulasi Meta Uni Eropa sudah jelas: desain adiktif dianggap risiko sistemik yang harus ditangani melalui aturan, bukan sekadar anjuran. Di sisi lain, Meta berargumen bahwa kecanduan media sosial bukan diagnosis psikiatri resmi, sehingga bantahan mereka soal dampak platform tidak bisa disebut kebohongan. Pertarungan ini akan menentukan batas baru antara kebebasan desain aplikasi dan kewajiban perlindungan konsumen. Jika regulator menang, era fitur scroll tanpa batas sebagai standar industri mungkin berakhir, digantikan desain yang memaksa pengguna untuk berhenti, bukan terus terpaku.

